Pada hari Kamis, Naura menolak menyimpan dua buah pita merah muda dari meja belajarnya. Setiap Audya menggesernya agar buku bisa dibuka, gadis kecil itu menariknya kembali.
"Ini buat Sabtu. Bu guru bilang rambutnya pakai dua pita."
"Kalau kena pensil warna, nanti kotor. Kita taruh di kotak ini dulu, ya."
Naura akhirnya menurut setelah Audya meletakkan kotaknya tetap dalam jangkauan mata. Sore itu tampaknya seluruh perhatian muridnya sudah berada di sekolah, pada panggung kecil dan lagu yang harus dinyanyikan.
Audya membagi pelajaran menjadi bagian pendek. Berhitung sebentar, membaca beberapa kata, lalu memberi waktu Naura menunjukkan gerakan lagu. Cara itu membuat mereka tidak perlu saling berkeras sepanjang dua jam.
"Kakak nanti duduk di mana?" tanya Naura saat istirahat.
"Kalau kakak sempat datang, nanti tanya bu guru. Kakak belum pernah ke sekolah Naura."
"Duduk sama papa saja."
Audya hampir tersedak minumnya sendiri. Tentu saja Naura mengatakannya tanpa memikirkan apa-apa. Anak itu hanya ingin orang-orang yang dikenalnya berkumpul di tempat yang sama. Kepala Audya yang langsung membuat urusannya rumit.
"Kita lihat nanti, ya."
Naura mengeluarkan selembar kertas dari tas sekolah. Kali ini jadwal acara yang lebih rinci. Kelompoknya tampil sekitar pukul setengah sebelas, kemudian ada waktu melihat hasil karya dan permainan keluarga sampai siang.
Audya membaca jamnya dengan hati sedikit turun. Bimbingan dimulai pukul sembilan. Dia mungkin selesai sebelum penampilan Naura, mungkin juga tidak. Ditambah waktu perjalanan, peluang datang tepat saat lagu dimulai terasa kecil.
Dia menyampaikan itu sekali lagi dengan bahasa yang mudah. Naura menghela napas panjang menirukan orang dewasa.
"Kakak sekolah terus. Papa kerja terus."
"Sabtu papa sudah datang dari pagi, kan?"
"Iya."
"Nah, kakak berusaha datang setelah urusan kampus selesai. Tapi Naura jangan menunggu di pintu. Ikut acaranya sama papa dan teman-teman."
Naura menatapnya sejenak, lalu mengangguk. Audya berharap kalimat itu diingat saat hari Sabtu tiba. Dia tidak ingin muridnya melewatkan kesenangan hanya karena sibuk mencari dirinya.
"Kalau Nau lupa lagunya bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat Audya menghentikan gerakan merapikan buku. Rupanya bukan hanya soal siapa yang datang. Naura sendiri juga mulai memikirkan penampilannya.
"Kalau lupa sedikit, dengarkan teman yang lain. Naura kan tidak sendirian di depan."
"Kakak pernah lupa?"
"Sering. Sabtu kakak juga harus menjelaskan tugas ke dosen. Makanya nanti malam kakak latihan."
Naura membulatkan mata, tampak terhibur mengetahui gurunya juga bisa gugup. Setelah itu mereka mencoba bagian lagu yang paling sering terlewat. Audya cukup menjadi penonton dan tidak buru-buru membantu. Ketika Naura berhasil mengingat sendiri, gadis kecil itu menepuk tangannya dengan bangga.
Larasati menghampiri menjelang akhir pelajaran. Wanita itu sudah menyiapkan alamat sekolah dan nama guru kelas agar Audya tidak kebingungan jika jadi datang. Pihak sekolah juga sudah diberi tahu bahwa guru les Naura mungkin menyusul.
"Jangan sampai kamu tergesa-gesa di jalan. Kalau tidak sempat, masih ada hari lain," pesan Larasati.
"Terima kasih, Bu. Saya kabari nanti."
Audya menyimpan alamat tersebut. Rasanya menyenangkan karena kedatangannya diharapkan, tetapi dia tetap diberi ruang untuk tidak bisa datang. Belakangan dia baru belajar betapa berbeda kedua hal itu dengan diminta selalu tersedia.
Argantara pulang ketika Naura sedang mencoba pita di depan cermin kecil. Pengasuhnya baru saja pergi mengambil pakaian ganti. Melihat papanya, Naura langsung berbalik.
"Papa bisa pasang ini?"
Argantara menerima pita dengan wajah hati-hati. "Coba sini."
Audya yang sedang merapikan buku menoleh. Dia mengira pria itu akan langsung menyerahkan pada pengasuh. Ternyata Argantara benar-benar mencoba mengikat rambut putrinya, meski jari-jarinya tampak kebingungan menahan ikatan yang terus melonggar.
"Aduh, Pa. Ketarik."
"Maaf. Sebentar."
Naura menatap cermin dengan alis berkerut. Di belakangnya, pria yang bisa membuat satu ruangan kantor mendadak diam sedang dikalahkan oleh sepotong pita.
Audya menutup mulut untuk menahan tawa. Sayangnya Argantara melihat melalui cermin.
"Kalau tahu caranya, boleh dibantu."
Wajah Audya menghangat. "Maaf, Pak. Saya bukan menertawakan."
"Kelihatannya tadi begitu."
Audya tidak bisa menyangkal lagi. Dia mendekat sambil menerima satu pita yang belum dipasang. "Pegang rambutnya di sini dulu. Pitanya jangan langsung ditarik kencang."
Argantara mengikuti arahannya. Audya memperbaiki bagian sebelah, lalu mundur agar pria itu mencoba sendiri. Naura menunggu dengan kesabaran yang mengagumkan untuk anak yang biasanya tidak betah diam.
Hasilnya tidak sama tinggi. Satu pita sedikit miring. Namun Naura menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, lalu tersenyum pada bayangannya.
"Yang ini papa. Yang ini kakak."
"Besok dicoba lagi supaya papa lebih bisa," ujar Argantara.
Audya memandang kedua pita itu lebih lama dari seharusnya. Ada bagian dalam dirinya yang diam-diam ingin menyimpan sore ini. Keinginan itu membuatnya gugup. Dia datang untuk mengajar, tetapi sekarang bisa ikut senang hanya karena mereka berhasil memasang pita pada rambut Naura.
"Jangan dilepas dulu, ya," pinta Naura kepada pengasuh yang baru kembali.
Setelah berpamitan, Audya keluar bersama Larasati yang hendak memeriksa tanaman di teras. Wanita itu tidak membicarakan kejadian tadi, hanya menanyakan keadaan ayah Audya.
"Masih perlu banyak dibantu, Bu. Tapi sekarang sudah lebih nyaman di rumah."
"Semoga semakin baik. Kamu juga jaga badan."
Audya mengangguk. Dia menyukai doa singkat tanpa pertanyaan panjang tentang biaya atau kesulitan yang harus dijelaskan. Tidak semua perhatian perlu membuatnya merasa sedang memamerkan kesusahan.
Malam harinya, Audya berlatih menjelaskan laporan di ruang tengah. Andira duduk di seberang sambil mendengarkan setengah hati. Lama-lama adiknya mengangkat tangan.
"Kalau enggak ada buktinya, kenapa angkanya masih ditulis?"
Audya berhenti. Pertanyaan itu mirip dengan hal yang dibahas di kantor, hanya lebih sederhana. Dia mencoba menjelaskan perbedaan catatan yang diterima dan pemeriksaan yang belum selesai.
Andira mengangguk setelah penjelasan kedua. "Yang tadi lebih gampang dimengerti."
Dari kursinya, Rudi memperhatikan mereka bergantian. Audya memutar laptop sedikit agar ayahnya bisa melihat tulisan yang sedang dibahas, walaupun hurufnya mungkin terlalu kecil. Dia menjelaskan bahwa Sabtu nanti harus menemui dosen untuk memeriksa hasil magang.
Rudi mengangguk dan mengangkat ibu jarinya perlahan. Audya tersenyum. Dulu dia mungkin berharap mendapat nasihat panjang atau jawaban untuk semua kebingungannya. Malam ini, melihat ayah mau ikut mendengarkan saja sudah membuatnya senang. Andira kemudian membaca pertanyaan berikutnya tanpa diminta.
Audya mencatat perubahan kalimatnya. Ternyata pendengar yang tidak memahami urusan kantor justru bisa menunjukkan bagian yang masih membingungkan.
Ketika masuk kamar, dia mengeluarkan kemeja biru muda dan menyampirkannya di kursi. Pakaian itu cukup rapi untuk bimbingan, juga cukup nyaman jika harus berjalan di sekolah Naura.
Audya meratakan kerahnya, lalu mencari jepit rambut yang jarang dipakai.
Dia bisa mengatakan semua persiapan itu untuk kampus. Sayangnya tidak ada orang lain di kamar yang perlu dibohongi. Bayangan Argantara memegang pita masih terlalu jelas untuk dianggap tidak ada hubungannya sama sekali.