Namaku adalah Melisa, aku adalah anak semata wayang. ayahku telah meninggal Dunia sejak aku masih dalam kandungan sehingga aku belum pernah melihat seperti apa rupa ayahku, aku dibesarkan oleh ibuku yang bernama Maemunah dan kakungku yang bernama parno. Kami berasal dari keluarga sederhana ibuku bertani bersama kakungku dan aku akan melanjutkan pendidikanku di universitas kedokteran, Alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa bersama dua orang sahabatku . Dan hari ini kami akan berangkat kekota untuk kuliah .
" Mel dipanggil kakungmu" teriak ibuku
"Enggeh Bu" jawabku.
Akupun menghampiri kakungku yang sedang duduk diteras sambil nyuruput kopi dan rokok..
"Pripun kung?" Tanyaku dengan sopan"
Jam berapa kamu berangkat?" Tanya kakungku sambil nyuruput kopi pahitnya
" Sore kung, ini Mel lagi kemas kemas" jawabku
"Ati ati Lo ya, kok perasaan Kakung kurang enak, seperti akan terjadi sesuatu sama kamu nduk" ucap kakungku sambil menatap atap teras yang sengnya sudah karatan.
Kakungku adalah orang yang dituakan dikampungku, beliau termasuk orang yang pintar dalam hal mistis.
"Ini, kamu pakai baik baik jangan sampai kamu lepas kemanapun kamu pergi harus kamu bawa bersamamu" ucap kakungku sambil memberikan sebuah kalung yang terbuat dari tasbih .
"Ini adalah salah satu benda berharga yang selama ini menjaga Kakung, sekarang Kakung berikan kepada kamu supaya dia bisa menjagamu" sambungnya.
"Enggeh kung, kalau begitu Mel lanjutkan berkemas dulu nggeh" ucapku dan diiringi dengan anggukan kakungku.
Waktu pun berlalu begitu cepat, akupun bergegas ke terminal untuk menaiki bis dan akan berjumpa dengan dua sahabatku disana
"Ibu, Mel pamit ya, doakan Mel supaya dimudahkan menuntut ilmu" pamitku kepada ibuku sambil mencium tangannya
Ibuku hanya mengangguk dan menangis sambil memelukku
"Kung Mel pamit nggeh, pamitku kepada kakungku
"Ingat pesan Kakung tadi ya" ucap Kakung mengingatkan tentang pesannya tadi pagi .
"Melisa" teriak Wulan dan Ratna memanggilku dari depan pintu bus .
Akupun berlalu pergi meninggalkan ibu dan kakungku untuk menghampiri Wulan dan Ratna kemudian kamipun memasuki bus dan bus pun berangkat . Kami melambaikan sebagai tanda perpisahan kepada keluarga. Bispun melaju menuju kota tempat kami akan menimba ilmu, perjalanan yang kami tempuh sekitar 10 jam menjadi perjalanan terpanjang selama hidupku, kami habiskan waktu berbincang dan sesekali tertidur karena lelah duduk didalam bis.
Akhirnya kami sampai di rumah kontrakan kami sekitar pukul 1 dini hari . Suasana begitu sunyi dan rumah amat gelap gulita , kemudian seorang tetangga datang menghampiri kami sambil berlari kecil memegang kunci rumah
" Saya sudah tunggu dari sore, ibu nitip kunci ke saya katanya ada yang mau sewa rumah" ucap ibu yang entah siapa namanya, dia memberikan kunci sambil berbisik dan terburu buru seolah takut dengan sesuatu.
"Sudah cepat buka Rat, sudah ngantuk banget nih" ucap Wulan menyuruh Ratna segera membuka kunci. Akhirnya ratnapun membuka kunci dan kami masuk kedalam rumah, entah kenapa ketika kami baru melangkahkan kaki masuk kerumah rasanya bergidik merinding dan suasana menjadi sangat dingin.
"Kok aku merinding ya" ucap Wulan bergumam
"Sssssst menengo" sahut Ratna berbisik
"Assalamualaikum Yaa ahlul bait" ucapku karena kita tidak tau ada apa didalam rumah ini.
Setelah itu kamipun menyalakan semua lampu
"Astaghfirullah!!! Opo kui!!!" Teriak Ratna yang baru menyalakan lampu dan telah melihat sesuatu
"Ada apa rat?" Tanyaku dan Wulan
"Enggak tau, seperti ada orang yang pegang kapak" ucap Ratna gemetaran
"Husssh ngawur kamu" sahut Wulan
Setelah itu kamu duduk sejenak untuk rehat diruang tamu
"Malam ini kita tidurnya ngumpul ya, kan kita gak tau ada apa dirumah ini" bisik Ratna.
"Halah jereh" ejek wulan
Malam ini terasa aneh, entah karena kami orang baru atau memang rumahnya yang terasa menyeramkan.
Kamipun mengangkat pakaian kami kedalam kamar namun malam ini hanya satu kamar yang kami masuki karena kami merasa takut dengan suasana dirumah ini .
"Kreeeek" aku membuka pintu kamar dan kunyalakan lampunya. Tidak ada yang aneh dengan kamar ini, semua tampak normal ada kasur, lemari dan meja kursi untuk belajar. Kamipu merebahkan badan diatas kasur. Rasanya sangat nyaman setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya bisa mencium aroma kasur dan bantal.
"Kalau seandainya rumah ini angker gimana rek?" Tanya Ratna sambil menatap langit langit kamar.
"Hush cangkemmu rat, tidak ada siapa siapa disini selain kita bertiga dan rumah ini akan aman sejahtera, Iyo to Mel?" Jawab Wulan sambil sikutnya menyenggol ku kode supaya aku sependapat dengan dia
"Yang namanya hidup itu ada mahluk nyata dan mahluk astral, hanya kita tidak bisa berdampingan dengan dia. Semoga mereka tetap pada alamnya dan tidak mengganggu kita" jelasku, karena aku tau namanya mahluk ghaib itu pasti ada hanya sa memang mereka tidak pernah menunjukkan wujudnya kepadaku.
Tak berlangsung kami bercerita kemudian kamipun terlelap.
"Mel...lari Mel..." Teriak seorang lelaki paruh baya kepadaku.
"Tapi aku tidak tau siapa dia karena pandanganku tidak begitu jelas, hanya ada satu buah lilin didalam ruangan ini. Apa maksudnya aku disuruh lari?
Tiba tiba ada yang menarik rambutku dengan sangat keras, akupun terbanting kelantai dan orang itu menyeretku. Ditangannya memegang sebuah kapak yang telah berlumuran darah
"Toloooong toloooooooong, lepaskan aku....." Teriakku meminta tolong namun tidak ada seorangpun yang menolongku
"Ratna.....wulaaaaaan" teriakku memanggil sahabatku, entah kemana mereka dan dimana aku sebenarnya kenapa ada orang yang ingin menyakitiku siapa dia ?
orang itu meletakkan kapaknya dan kemudian mengikatku disebuah tiang ditengah ruangan
"Tidaaaak, apa yang kamu lakukan? Siapa kamu?" Sambil gemetar ketakutan. Orang itu tidak mengucapkan sepatah katapun hanya sesekali menatap mataku dengan tajam dan tersenyum sinis.
Ya Tuhan, dia menggantung tali seperti ada yang ingin dia gantung pada tali itu. Apakah aku akan digantung ? Aku semakin gemetar ketakutan memikirkan apa yang akan orang itu lakukan kepadaku . Setelah dia selesai menggantung tali kemudian dia menghampiriku dan sesekali tersenyum sinis sambil membuka ikatanku. Lagi lagi dia menarik rambutku dan kemudian menyeretku
"Lepaskan akuuuuuu" teriakku mencoba melawan namun apalah daya dia sangat kuat sekali. Kemudia mengangkat ku dan meletakkan kepalaku pada lubang tali gantung ini setelah dia melepaskan badanku, leherku terasa tercekik kakiku meronta ronta berharap aku bisa mendapat pijakan namun harapan itu musnah setelah aku melihat orang yang menggantungkan berlalu pergi dalam kegelapan dan meninggalkanku tergantung disini
"Toloooong toloooong" teriakku dengan sangat lirih, berharap ada seseorang yang bisa menyelamatkanku.
"Ya Allah aku tidak ingin mati seperti ini, bagaimana perasaan ibuku jika melihatku mati seperti ini, tolong aku ya Allah'' ucapku dalam hati berharap sebuah keajaiban datang