"Mara, kamu kenapa?" Suster Lisa segera meletakkan berkas yang dibawanya di sembarang tempat. Ia berbalik, buru - buru mendekati Asmara.
Belum sempat ia menyentuh pemuda itu untuk menolongnya. Asmara sudah ambruk ke belakang. Ia terlihat kesulitan bernapas. Ia begitu pucat. Ia banyak berkeringat.
Ia masih sadar, namun ia tak dapat menjawab pertanyaan suster Lisa. Rasa sakit yang menyerangnya telah menguasainya.
"Mara ... tolong tetap sadar. Sebentar lagi dokter akan datang. Kamu akan segera mendapat pertolongan." Suster Lisa menekan - nekan telapak tangan Asmara bermaksud mempertahankan kesadaran Asmara. Tangannya yang lain menekan tombol emergency beberapa kali.
"Mara ... jangan tutup mata kamu. Tolong tetap sadar!" Suster Lisa semakin keras menekan - nekan telapak ta