Malam ini menjadi malam pertama Ana berada di rumah setelah beberapa hari berada di rumah sakit. Menjadi malam pertama juga di mana ada anak kami yang tidur di antara aku dan Nina setelah kita menikah.
Seperti bayi pada umumnya yang selalu mengajak orang tua untuk bergadang. Ana juga melakukannya kepada kami, membuat aku dan Nina terbangun saat tengah malam. Aku pikir akan langsung kembali tidur seperti saat di rumah sakit, tetapi anak kami malah tampak anteng dan tidak mengantuk.
Ana seakan meneliti kamar ini, mungkin masih tampak asing dan dia belum terbiasa dengan suasananya, tetapi Ana tidak rewel. Hanya bangun dan ingin meminum s**u, bayi mungil itu kembali anteng.
"Kamu tidur aja, biar aku yang temani Ana, pasti nanti juga tidur lagi aku tepuk-tepuk p****t dia kaya Rian dulu," ucapku pada Nina.
Aku melihat wajah Nina yang kelelahan, wajar saja karena dia tidak mau dibantu oleh baby sitter dan melakukannya sendiri, tidak hanya Ana saja yang dia urus, Rian juga masih sempat diurusnya tanpa merasa kerepotan padahal aku saja yang melihatnya tadi sangat repot.
Di saat menyuapi Rian yang tiba-tiba saja manja, Ana menangis juga ingin minum s**u. Padahal aku sudah mengatakan kepada Rian agar tidak dulu meminta disuapi dan biar aku saja yang melakukan, tetapi dia tidak mau.
Apa mungkin, Rian merasa takut kalau perhatian Nina selama ini berpindah pada adik perempuannya? Jadi Rian melakukan ini semua kepada Nina. Mungkin aku harus bicara berdua lagi dengan Rian untuk menjelaskan semuanya kepada anakku.
"Kalau gitu aku tidur bentar ya, Mas. Kalau Ana nangis, bangunin aku," katanya yang aku balas dengan anggukan saja. Tentu, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama, membuat diriku kehilangan Atika untuk selamanya.
Aku membiarkan Nina untuk tidur sepuasnya, aku tidak akan mengganggu dengan membangunkan istriku hanya karena Ana menangis, selagi aku bisa meredakan tangisan anakku, tentu saja aku akan melakukannya.
Aku melihat Nina yang sudah kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aku ingin dia benar-benar mengistirahatkan dirinya setelah apa yang dia lewati, terutama beberapa hari di rumah sakit dan selalu sigap bangun saat Ana rewel. Kini giliran aku saja yang menjaga Ana di malam hari.
Aku akhirnya menggendong Ana, berusaha membuatnya tertidur lagi setelah merengek tadi. Mungkin karena sudah memiliki pengalaman saat Rian bayi, kali ini aku tidak sekaku dulu saat pertama kali menggendong bayi. Aku jadi ingat dulu Atika begitu panik saat aku mencoba untuk menggendong Rian karena aku yang begitu kaku.
"Mas, rileks aja. Kamu ih masa gendongnya kaya gitu, nanti sakit kepala anak kamu."
Atika mengomel saat aku mencoba untuk menggendong Rian karena tadi istriku sedang di kamar mandi saat Rian menangis. Karena pertama kalinya aku menggendong bayi, jadi belum terbiasa.
"Gini gendongnya," ucap Atika kembali sembari membenarkan posisi tanganku saat menggendong Rian.
Setelah merasa benar, Atika menyuruhku untuk menina bobokan Rian dalam gendonganku. Sementara dirinya duduk di tepi ranjang sembari memerhatikan kami berdua.
Sesekali Atika terkekeh, mungkin karena melihat aku yang begitu kaku saat menggendong anak kamiml. Tetapi, aku sedang berusaha agar bisa menggendongnya dengan baik dan benar. Tidak mungkin kan, kalau aku tidak bisa menggendong anakku sendiri.
Kejadian itu kembali aku ingat, rasanya baru kemarin aku memiliki Rian dalam hidupku. Saat itu sama sekali tidak menyangka bahwa aku telah menjadi seorang ayah dengan memiliki anak lelaki. Namun, aku merasa bahagia dan lengkap sekali kehidupanku.
Kalau saja aku tidak melakukan kesalahan, mungkin sekarang aku juga tengah bahagia bersama dengan Atika dan anak-anak kami. Tetapi, semua sudah berlalu. Sekarang adalah tentang aku, Nina dan anak-anak.
Saat aku rasa Ana sudah kembali terlelap, aku pun memindahkan dia untuk tidur di samping Nina. Berada di antara kami berdua, membuatku tersenyum karena sudah lama sekali tidak ada bayi di atas ranjangku.
"Selamat tidur anak Ayah," ucapku lalu mencium pipi bayi mungiku itu.
Kemudian mendekati Nina dan mencium keningnya, "Selamat tidur Mama Nina," ucapku.
Aku pun segera merebahkan tubuh dan menyusul mereka yang sudah terlelap dan masuk ke alam mimpi. Semoga saja Ana tidak terbangun lagi dan Nina bisa tidur pulas, pun dengan aku.
**
Pagi pertama dengan situasi yang begitu berbeda. Biasanya hanya teriakan Rian yang minta dicarikan kaus kaki atau sepatu saat akan siap-siap berangkat sekolah, sekarang ditambah dengan suara tangisan Ana di pagi hari. Tetapi, ini membuat hidupku berwarna dan lebih baik dari sebelumnya.
Nina sedang mengurus Ana di kamar kami, membuat aku yang kemudian menghampiri Rian yang tadi berteriak mencari sepatunya. Padahal aku yakin sepatu itu ada di rak seperti biasa, Rian saja yang malas mencari.
"Ini kan sepatunya?" tanyaku sembari menunjukkan sepatu warna hitam kepadanya.
Rian cengengesan, "Tadi kok nggak ada ya, Ayah," katanya.
"Cari yang benar, baru teriak kalau memang nggak ketemu. Kamu itu udah jadi kakak buat Ana, masa apa-apa teriak panggil Mama," ucapku yang diangguki oleh Rian.
"Iya, Ayah. Oh iya, nanti siang Gea mau ke sini kan? Kemarin Mama bilang sama Rian," tanya Rian.
Kalau sudah tentang Gea, pasti akan senang karena sebelum ada Ana, Rian merasa memiliki adik perempuan dengan kehadiran Gea, anak Indira dan Nares.
Aku mengangguk, "Iya, nanti Gea ke sini. Paling waktu Rian udah pulang sekolah," jawabku.
"Rian mau kasih tahu Gea kalau sekarang Rian udah punya adik, berarti adik Rian ada dua kan, Yah. Sekarang ada Gea sama Ana," katanya.
"Iya, Rian harus jagain adik-adiknya. Apalagi adik Rian dua-duanya perempuan. Sebagai lelaki harus jagain adik perempuannya."
Rian menganggukkan kepalanya, paham mengerti dengan apa yang aku katakan. Aku senang sekali Rian bisa menjadi sosok kakak lelaki untuk adiknya. Bagaimana dia yang begitu menyayangi Gea dan menjaganya membuktikan bahwa Rian juga akan melakukan hal yang sama pada Ana kali ini. Aku harap sampai mereka tumbuh dewasa, mereka akan tetap akur sebagai kakak dan adik meskipun bukan saudara kandung.
Setelah aku membantu Rian untuk mengenakan sepatu, kami pun turun dan segera sarapan bersama. Aku yang mengantar Rian ke sekolah seperti biasa, sementara Nina kali ini hanya berada di rumah dengan Ana. Mungkin untuk beberapa waktu ke depan, aku tidak akan membiarkan Nina mengantarkan Rian ke sekolah karena belum memungkinkan untuk meninggalkan Ana bersama dengan pengasuh dan lagi Nina juga tidak mau memilikinya.
Selesai sarapan bersama, aku dan Rian berpamitan pada dua perempuan kesayangan kami sekarang. Nina sembari menggendong Ana, mengantarkan kami sampai depan rumah dan masuk ke dalam mobil. Beginilah gambaran keluarga yang aku harapkan. Benar-benar sangat membahagiakan.