Aku masih berada di kamar ini, membaca semua tulisan yang Atika tulis dalam buku catatan pribadinya. Bahkan waktu terus berjalan, malam semakin larut tetapi tidak membuatku beranjak dari kamar ini. Terakhir yang k****a adalah bagaimana Atika yang sangat bahagia saat Rian lahir menjadi pelengkap pernikahan kami.
Ada foto Rian yang masih begitu kecil, mungkin baru beberapa minggu atau satu bulan dari kelahirannya. Atika tidak mencatat tanggal kapan pastinya foto tersebut diambil. Dia hanya menuliskan bahwa dirinya bahagia telah menjadi seorang ibu.
Aku tersenyum membaca tulisannya, entah kapan Atika menulis semua ini. Mungkin saat aku bekerja, atau saat aku sudah terlelap dalam tidurku. Yang pasti hampir setiap saat momen yang dia ataupun kami lewati bersama, selalu dia tuliskan dalam buku tersebut.
Aku sangat senang karena memiliki buku ini dan melihat isinya, membuat aku merasakan bahwa Atika berada di sampingku. Aku bahagia karena setiap momen itu bisa kembali aku ingat dengan membaca buku milik mendiang istriku.
Sampai lembar terakhir, di mana perubahan sikapku kembali padanya. Mungkin setelah aku kembali bertemu dengan Indira, mantan tunanganku. Atika juga menceritakannya dalam buku tersebut.
Bagaimana dirinya ketakutan, merasa sedih karena menurutnya pernikahan kami sedang tidak baik-baik saja. Padahal selama ini, dia sudah merasakan kebahagiaan luar biasa dalam pernikahan yang dijalaninya bersama denganku.
Atika menuliskan bagaimana dirinya takut kehilanganku, karena dia merasa bahwa aku akan kembali bersama dengan Indira. Perempuan yang selama ini aku cintai dan akan menjadi istriku, kalau saja insiden itu tidak terjadi.
Dadaku kembali sesak, mengingat bagaimana Atika yang sangat terluka karena sikapku. Keegoisanku telah menghancurkan semuanya, membuat aku kehilangan perempuan yang begitu mencintaiku untuk selamanya dan aku terima dengan karma yang ada. Bahwa sekarang aku telah tersakiti atas kepergian Atika, sebelum aku mengatakan betapa aku mencintai dirinya dan anak kami.
Aku menutup buku tersebut, setelah selesai membaca lembar terakhirnya yang membuat air mataku membasahi pipi. Kesedihan itu kembali datang, menyesakkan dadaku, membuat aku harus menghadapi kenyataan bahwa kali ini aku benar-benar kehilangan Atika.
Lalu aku beralih, membawa pakaian milik Atika. Kucium wangi yang masih melekat dan membuatku merindukan istriku. Atika, kenyataan ini sangat menyakitkan. Di saat aku ingin mengungkapkan perasaanku, menceritakan betapa aku beruntung dan bahagia memilikinya, nyatanya dia pergi begitu saja dengan luka yang kembali aku goreskan.
Aku tidak bisa menahannya. Isak tangisku menjadi suara yang memecahkan keheningan malam ini, di kamar ini, akhirnya aku kembali menangisi kepergian Atika. Aku kembali merasakan sakit yang luar biasa dan aku kembalikan membenci diriku sendiri karena telah melukai Atika.
Malam ini aku menghabiskan malam di kamar ini, bersama semua kenangan yang Atika tinggalkan.
**
Aku terbangun, melihat jam yang tidak jauh dari posisiku saat ini, yang ternyata aku tertidur sembari memeluk pakaian milik Atika di atas sofa ini.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi, segera aku beranjak dan membereskan barang-barang milik Atika kembali ke dalam kotak yang ada. Lalu memilih keluar dari kamar dan kembali ke kamarku, tidak mau membuat Nina khawatir karena aku tidak berada di sampingnya.
Perlahan aku menutup pintu kamarku, memastikan bahwa istri dan anakku masih terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Mengembuskan napas pelan, aku merasa tenang karena Nina begitu lelap dalam tidurnya, pun dengan Ana yang tidak terbangun sama sekali.
Aku kembali naik kr tempat tidur, di mana Nina tidur dengan memunggungiku sekarang. Lalu aku mendekat, memberikan kecupan singkat di dahinya, seraya meminta maaf karena aku diam-diam meninggalkannya tadi.
Hendak memposisikan diri untuk tidur, rengekan Ana membuatku mengurungkan merebahkan tubuh ini dan Nina juga tampak terusik, mungkin sudah begitu terkoneksi dengan pergerakan dan tangisan anaknya sampai tengah terlelap pun ia masih bisa segera bangun.
"Mas kebangun ya," ucap Nina melihatku sudah duduk di sampingnya, hendak beranjak untuk menghampiri Ana.
"Iya, biar Ana aku yang gendong," balasku segera menghampiri Ana yang mulai menangis.
Nina ikut menghampiri, berdiri di sampingku saat aku berhasil menggendong Ana dan kembali menina bobokannya. Tangan Nina terulur mengelus pipi Ana yang membuat anak kami tampak nyaman.
"Kamu tidur lagi aja, Ana juga bisa tidur sama aku," ucapku menyuruh Nina untuk kembali naik ke tempat tidur kami.
Aku tahu seharian ini Nina sangat lelah, mengurus Ana juga Rian yang masih sering manja padanya. Tetapi, Nina tidak pernah sedikit pun mengeluh. Dia benar-benar Ibu yang luar biasa, bisa mengurus anak-anak ditambah mengurusku sebagai suaminya. Padahal aku yang membayangkannya saja sudah sangat lelah dan pasti akan keteteran.
"Gapapa, Mas. Malah nggak ngantuk lagi, Ana sama kita aja di tempat tidur," balas Nina yang akhirnya aku angguki.
Kami pun membawa Ana ke tempat tidur kami, merebahkan puteri kecil kami di tengah-tengah. Ana sudah kembal terlelap, membuat kami ikut merebahkan tubuh di kedua sisinya.
"Mas tidur aja, pasti capek kan. Apalagi besok kerja lagi," ucap Nina padaku.
Aku menoleh padanya, lalu menggeleng, "Kamu lebih capek, istirahat mumpung Ana nyenyak lagi."
"Iya sih," balasnya dengan jujur.
Tidak bisa ditutupi kelelahan yang tampak jelas di raut wajahnya. Aku tidak tega sekali kalau membiarkan Nina masih saja mengurus anak malam begini, biar tugasnya dialihkan padaku. Kami bisa membagi tugas masing-masing, karena Ana juga anakku.
Nina kembali memejamkan matanya, membuat tanganku terulur untuk mengelus rambut istriku, yang membuat Nina terlihat nyaman. Aku tersenyum tipis saat kudengar deru napaa teratur yang menandakan Nina sudah kembali ke alam mimpi.
Lagipula aku tidak mengantuk, malah asyik memandangi dua perempuan yang sekarang menjadi pelengkap kehidupanku. Aku benar-benar tidak menyangka akan berada di posisi saat ini, merasakan kembali keluarga kecil bersama dengan istri dan anak-anakku.
Tuhan memang adil, di saat memberikan kesedihan pada manusia, di situ juga Tuha memberikan pengganti, memberikan kebahagian yang tidak terhingga. Seperti apa yang sekarang aku rasakan, setelah kehilangan Atika untuk selamanya, aku menemukan Nina, menjadikan dia istriku dan kebahagiaanku sekarang dan untuk ke depannya.
Entah apakah kita akan terus bersama, yang aku harapkan adalah sekalipun kita harus berpisah, hanya sebuah kematian yang menjadi penyebabnya. Dari pernikahanku yang lalu, dari apa yang aku lakukan pada istriku di masa lalu, kesakitan yang malah kuberikan padanya.
Kali ini aku bisa belajar untuk menghargai apa yang aku miliki, untuk bersyukur atas apa yang sekarang hadir dalam kehidupanku. Aku tidak ingin membuat Nina terluka seperti apa yang Atika rasakan dulu, aku ingin membahagiakan dia dan hidup bersamanya, juga anak-anak kami.