"Mas, kamu bahagia kan sekarang? Apa kamu menyesal menikah sama aku?"
Entah kenapa pertanyaan itu kudengar dari mulut Atika, pertama kalinya ia menanyakan tentang hal tersebut yang sebenarnya tidak perlu aku jawab saja, ia pasti sudah mengatahui jawabannya.
Penyesalan? Sepertinya sekarang tidak pernah ada, karena semakin lama meskipun aku masih belum benar-benar mencintai dia, aku merasa bahwa semua ini tidak pernah salah. Apa yang aku pertanggung jawabkan adalah benar dan aku tidak menyesal, justru bahagia karena sekarang memiliki keluarga kecil sendiri, aku sudah menjadi seorang Ayah.
"Sama sekali nggak menyesal. Untuk apa aku menyesal? Sekarang sudah ada Rian dan kamu di dalam hidup aku, mungkin semuanya sudah menjadi takdir kita bersama."
"Perasaan kamu?"
"Itu urusanku, perlahan pasti akan utuh hanya untuk kamu."
Atika tersenyum lalu memelukku, kami berada di kamar. Baru saja memindahkan Rian ke tempat tidur dan kami bicara sembari duduk di sofa. Kedua mata kami kembali bertemu, aku menarik tubuhnya untuk semakin mendekat dan memberikan ciuman panjang untuk menutup pembicara kami berdua.
"Aku cinta kamu, Mas," katanya disela ciuman kami. Aku hanya tersenyum dan kembali menciumnya cukup dalam dan lama.
Aku kembali mengingat momen kami -aku dan Atika- dan mungkin seharusnya waktu itu aku langsung menyadari perasaanku, seharusnya aku bisa mengatakan bahwa aku juga mencintai dia sama seperti dia yang mencintaiku. Namun, aku tidak memberikannya, hanya tersenyum dan kembali mencium bibirnya.
Siang ini aku berada di rumah, hanya ke restoran sebentar jam sembilan tadi dan sekarang akan makan siang bersama Nina di rumah. Rian sedang berada di rumah Ibu, sepulang latihan karate tadi, karena sekolah masih libur, Ibu menjemput Rian, katanya ingin mengajak cucunya jalan-jalan.
Seperti biasa, aku menemani Ana sementara Nina sedang memasak makan siang. Sudah aku tawarkan untuk membeli makanan lewat aplikasi online saja, tetapi dia tetap ingin memasak karena bahan-bahan makanan sayang jika tidak dipakai. Tadinya aku hanya tidak ingin Nina kelelahan, hanya saja kalau maunya begitu aku tidak bisa melarang.
Aku memandangi wajah Ana, semakin lama gadis kecil kami semakin mirip dengan mamanya. Kecuali kedua bola mata itu, mirip dengan mendiang Rama yang tak lain adalah ayah kandungnya.
Kelak, jika dia sudah dewasa. Aku akan memberitahu semuanya karena Ana berhak mengetahuinya dan aku tidak ingin nantinya dia malah tahu dari orang lain, bukan dari aku ataupun Nina. Karena jika begitu, akan sangat kecewa atau lebih parahnya lagi dia akan membenci kami yang sudah merahasiakan semuanya.
Aku tidak akan membedakan kasih sayangku, antara Rian dan Ana. Karena mereka berdua adalah sama, anakku dengan Nina. Sehingga nantinya Ana tidak merasa dibedakan, tetap mendapatkan kasih sayang yang sama seperti yang kuberikan pada kakaknya.
Justru, aku sepertinya akan lebih menyayangi dan memanjakan Ana karena aku sudah lama menginginkan anak perempuan dan kehadiran Ana benar-benar kebahagiaan untukku, setelah kelahiran Rian, tentu saja.
"Mas, ayo makan."
Suara Nina membuatku menoleh, lalu menganggukkan kepala saat dia berjalan menghampiri kami. Nina menggendong Ana, membawanya bersama kami ke meja makan. Lalu ia baringkan di stroller bayinya. Karena sudah tidak bisa diam dan tidak mungkin menggendong dia saat akan makan, kali ini Nina selalu menyiapkan stroller di dekatnya.
"Setelah makan, ada yang mau aku tunjukkan sama kamu," ucapku ditengah menyantap makam siang kami.
Nina manatapku, "Soal malam itu?" tanya dia yang kubalas dengan anggukkan. Dia pun mengangguk setuju.
Aku sudah menyiapkan diri untuk memberitahu semuanya pada Nina. Entah respon Nina nanti bagaimana, aku harus siap menerimanya. Termasuk dengan kemarahan dia karena aku sudah merahasiakan semua ini.
Kami akhirnya menghabiskan makanan masing-masing, meskipun Nina agak kesusahan karena beberapa kali Ana merengek tetapi tidak mau denganku. Rian maupun Ana sama saja, kalau sedang manja pasti lebih dekat pada mamanya.
Selesai makan, lalu Nina membereskan piring bekas makan kami dan aku membawa Ana kembali ke ruang tengah sembari menunggu Nina selesai mengerjakan pekerjaannya. Tidak berselang lama, Nina bergabung dengan kami di ruang tengah.
"Mas mau tunjukin apa?" tanya Nina padaku, mungkin dia sudah penasaran dengan apa yang akan aku tunjukkan kepadanya.
Aku beranjak lalu mengajak Nina untuk mengikutiku, aku masih dengan menggendong Ana yang sekarang terlihat mengantuk, mungkin sebentar lagi akan tertidur karena sudah waktunya tidur siang dia, apalagi tadi sudah diberi asi.
Aku membawa Nina ke depan pintu kamar khusus yang selama ini hanya aku yang bisa masuk dan memang aku kunci rapat. Bahkan Bibi yang beres-beres di rumah pun, tidak aku ijinkan untuk membereskan kamar ini. Aku sendiri yang membereskannya, dua minggu sekali. Kecuali kalau sedang senggang, aku bereskan satu minggu sekali.
Dengan jantung berdebar, aku membuka pintu kamar dengan kunci yang selalu aku simpan di dalam dompet. Tadi aku sempat membawa dompet saat berganti pakaian.
Nina masih diam membiarkan aku membuka pintunya, setelah pintu kubuka lebar dan aku menariknya untuk masuk ke dalam. Aku pastikan dia terpaku pada posisinya, tentu saja karena seluruh ruangan ini, banyak tergantung foto Atika dan kebersamaan kami. Bahkan hampir memenuhi dinding kamar ini, belum lagi barang-barang milik Atika termasuk koper berwarna putih yang tersimpan di pojok dekat lemari.
Nina masih tidak memberikan respon, dia hanya diam sembari meneliti setiap sudut kamar ini. Aku sendiri menunggu respon dia dengan perasaan tidak karuan, sebenarnya aku takut Nina kecewa padaku karena menutupi semua ini, masih ada rahasia meskipun kami sudah menikah cukup lama.
"Kamu nggak berkomentar apa pun? Kamu bisa marah sama aku." Aku akhirnya bersuara karena dia tidak juga menunjukkan responnya atas apa yang dia lihat sekarang.
Lalu Nina menoleh dan tersenyum menatapku, "Untuk apa aku marah, Mas? Sejak pertama, saat aku menikah dengan kamu dan menjadi istri kamu juga ibu dari Rian, aku sudah menerima semua resikonya. Aku sangat paham, kamu tidak mungkin melupakan mendiang istri pertama kamu begitu saja, apalagi pernikahan kalian lebih lama dari pernikahan kita sekarang."
Aku masih mendengarkan semua yang akan dia katakan padaku. Aku akan menerima semua ucapannya, sekalipun pada akhirnya dia marah padaku, aku juga akan menerimanya.
"Aku tidak masalah kalau kamu masih mengingat dia, bahkan menyimpan nama dia di dalam hati kamu. Karena aku tahu bagaimana perasaan kamu yang hancur atas kehilangan dia, aku juga pernah kehilangan, Mas dan kamu sangat tahu bagaimana rasanya. Jadi kalaupun kamu masih menyimpan semua ini, aku sama sekali tidak masalah. Karena yang aku bilang tadi, menikah dengan kamu, aku sudah siap dengan resikonya. Kalau di hati kamu bukan hanya ada aku saja."
Entah harus berkata apa, karena respon yang Nina berikan diluar dugaanku. Aku kira dia akan marah karena merasa dikhianati oleh diriku, dia akan kecewa karena aku masih menyimpan semua kenangan Atika di ini, tetapi dia benar-benar menerimanya meskipun dengan kedua mata yang berkaca-kaca, hal tersebut wajar. Dan semua ini membuat aku semakin sadar bahwa menikah dengan Nina memanglah pilihan yang tepat, dia adalah istri yang luar biasa untukku, bukan sebagai pengganti, melainkan pendamping hidupku di masa kini dan selamanya.