Waktu cepat berlalu, anak-anak semakin tumbuh besar dan aku bersyukur kami selalu dilimpahkan kebahagiaan, meski sempat di oanda duka yang mendalam. Semuanya kembali seperti biasa, meskipun hari yang kami leeati sekarang tanpa kehadiran Ibu, tetapi lambat laun kami pun mengikhlaskan kepergian Ibu.
Pagi sekali Nina sudah sibuk bersama dengan Rian di kamar anak lelaki kami, sementara aku bersama dengan Ana yang sedang bermain bonekanya, masih dengan pakaian tidur dan rambut agak berantakan.
Hari ini Rian mengikuti kelulusan sekolah, iya, anakku sudah melewati masa-masa sekolah berseragam putih-merah, tidak terasa ia cepat sekali besar, padahal aku seperti baru saja mengantarkan dia ke taman kanak-kanak, sekarang malah akan tumbuh menjadi anak remaja.
Pernikahanku dengan Nina juga tidak