Aydan mengatakan kepada penyidik ingin menghentikan pencarian. Raihan memahami ketakutannya, tetapi polisi menjelaskan Fariz gak akan otomatis berhenti hanya karena kasus ditutup.
Hanin memegang wajah anaknya. “Mama gak mau keselamatan Mama dipakai untuk membuatmu hidup dalam kebohongan.”
“Kalau terjadi sesuatu sama Mama?”
“Kita ikuti perlindungan. Jangan hadapi dia sendiri.”
Keluarga pindah sementara ke rumah aman. Kaif kehilangan kebebasan keluar malam dan mengeluh, tetapi tetap mengikuti aturan.
Di perusahaan, Yuni menjalankan sebagian jadwal melalui rapat daring. Aydan belajar menyerahkan pekerjaan, sementara Kaif membantu memeriksa laporan.
Hasil DNA tiba. Aydan terbukti memiliki hubungan darah dengan Salma. Identitasnya sebagai putra Safar semakin kuat.
Berita belum diumumkan agar Fariz gak mengetahui perkembangan. Namun Tania kembali dihubungi nomor misterius dan diminta mengantar paket ke rumah aman.
Kali ini Tania langsung melapor. Polisi menyusun operasi dengan paket palsu dan pelacak. Tania ketakutan, tetapi bersedia membantu untuk memperbaiki kesalahannya.
“Ini gak membuat Kaif kembali,” kata pengacara.
“Aku tau. Aku cuma gak mau ada orang terluka gara-gara aku.”
Penerima paket adalah seorang kurir yang mengaku mendapat perintah melalui pesan. Pelacak membawa polisi ke gudang kosong. Di sana ditemukan foto pengawasan Aydan, Hanin, Raihan, Kaif, bahkan Yuni.
Aydan merasa bersalah karena semua orang di dekatnya menjadi sasaran. Kaif menolak membiarkannya menjauh.
“Dulu aku yang terus menyuruhmu pergi. Sekarang aku bilang kau tetap di sini. Kita hadapi sama-sama.”
Di balik salah satu foto terdapat alamat pelabuhan dan jadwal kapal malam. Polisi menduga Fariz akan melarikan diri.
Aydan diminta tinggal di rumah aman. Dia setuju, meski seluruh dirinya ingin melihat penangkapan.
Malam itu operasi dimulai. Beberapa jam kemudian penyidik menelepon: seorang pria berhasil ditangkap, tetapi identitasnya belum dipastikan.
Rumah aman jauh lebih kecil daripada rumah mereka. Kaif harus berbagi kamar dengan Aydan. Malam pertama mereka berdebat soal pendingin udara.
“Dingin kali, Kak!”
“Kau aja yang manja.”
Hanin membuka pintu dan menyuruh mereka berhenti seperti anak kecil. Untuk beberapa menit, ancaman di luar terasa jauh karena pertengkaran biasa itu.
Aktivitas perusahaan dilakukan daring. Kaif mengikuti rapat dari meja makan, sedangkan Aydan memakai kamar kerja kecil. Raihan memperhatikan Kaif mulai bertanggung jawab tanpa terus disuruh.
Tania dibawa ke lokasi terpisah setelah setuju membantu operasi. Dia mengaku Fariz mengirim foto Aydan dan menawarkan uang besar.
“Kenapa kau balas?” tanya penyidik.
“Aku benci karena Kaif membelanya.”
Tania menangis dan mengatakan dirinya gak menyangka ada rencana penculikan. Polisi mengingatkan rasa dendam tetap dapat membuka pintu bagi kejahatan besar.
Paket palsu dibuat berisi jadwal yang sengaja salah. Kurir mengambil dari loker umum lalu pergi ke gudang. Polisi mengikuti dari jauh agar jaringan gak curiga.
Di gudang ditemukan dinding penuh foto. Ada catatan jam kerja Yuni, jadwal pengobatan kakek, sekolah Dafa, dan tempat Salma berbelanja.
Aydan mual melihat semua orang dijadikan sasaran. Ia meminta mereka menjauh darinya setelah kasus selesai.
“Jangan ambil keputusan untuk kami,” kata Kaif. “Kami bisa memilih tetap jadi keluargamu.”
Raihan menambahkan keamanan akan diberikan kepada semua pihak dalam daftar. Salma dipindahkan sementara, sedangkan Dinda serta Dafa mendapat pendamping.
Penyidik menemukan komputer yang baru saja dihapus. Tim digital memulihkan sebagian data, termasuk jadwal kapal dan foto paspor Fariz.
Operasi pelabuhan disusun. Aydan meminta ikut melalui ruang pemantauan, tetapi polisi menolak karena kebocoran kecil dapat membahayakan. Dia akhirnya tinggal bersama keluarga.
Menunggu menjadi bagian paling berat. Hanin membaca Al-Qur'an, Raihan mondar-mandir, dan Kaif memainkan gim tanpa benar-benar fokus.
Telepon berdering setelah tengah malam. Seorang pria ditangkap, tetapi ternyata hanya sopir. Kecewa muncul, namun ponsel sopir memberi lokasi hotel Fariz.
Tania kemudian memberi satu informasi tambahan: Fariz pernah mengatakan ingin membawa Aydan kembali ke tempat semuanya dimulai. Polisi menyimpulkan itu lokasi kecelakaan.
Aydan teringat suara rem serta hujan. Tubuhnya gemetar. Hanin menggenggam tangannya.
“Kau gak harus datang ke sana,” katanya.
Polisi menyiapkan penyamaran. Kendaraan serupa mobil Aydan dipakai, sementara petugas mengenakan pakaian yang sama. Aydan merekam jawaban suara pendek agar Fariz percaya.
Kaif menemaninya merekam sampai nada suaranya stabil. “Setelah ini, apa pun hasilnya, jangan salahkan dirimu.”
“Kakak juga.”
Mereka menunggu operasi dimulai. Kali ini Kaif gak mencoba menjadi pahlawan dengan ikut diam-diam. Aydan juga gak keluar untuk menyelamatkan semua orang. Keduanya belajar keberanian dapat berarti tetap berada di tempat aman.
Hasil DNA resmi tiba saat mereka masih berada di rumah aman. Persentasenya memastikan Aydan adalah keponakan biologis Salma dan bagian keluarga Safaraz.
Aydan membaca dokumen itu berkali-kali. Selama bertahun-tahun identitasnya hanya dibangun dari cerita orang lain. Kini ada bukti yang gak dapat disangkal.
Raihan bertanya apakah Aydan ingin mengganti semua dokumen keluarga secepatnya. Aydan menolak terburu-buru.
“Nama Aydan Safaraz tetap dipakai. Tapi Aydan gak mau satu hasil tes membuat semua keputusan hidup berubah dalam sehari.”
Hanin mendukungnya. Pengacara akan mengurus pengakuan ahli waris secara bertahap setelah kasus pidana aman.
Kaif mengaku lega mendengar Aydan gak langsung meninggalkan perusahaan.
“Kakak masih takut aku pergi?”
“Sedikit.”
“Kalau Kakak menyebalkan lagi, baru kupikirkan.”
Mereka tertawa. Di tengah ancaman, hasil DNA justru membantu kedua saudara itu mengatakan ketakutan tanpa menjadikannya pertengkaran.
Operasi penangkapan pun dijalankan setelah semua pihak memastikan keluarga tetap berada di tempat aman.
Sebelum operasi dimulai, Aydan menulis pesan untuk Hanin jika terjadi sesuatu. Hanin menemukannya dan langsung mengembalikan kertas tersebut.
“Jangan menulis surat perpisahan saat kau gak pergi ke mana-mana,” katanya.
Aydan mengaku pikirannya terus membayangkan kemungkinan terburuk. Hanin memintanya menyebutkan fakta: mereka berada di rumah aman, polisi menjalankan operasi, dan Aydan gak dijadikan umpan langsung.
Latihan sederhana itu menenangkan. Kaif kemudian mengajak Aydan menyiapkan laporan perusahaan agar waktu menunggu gak dipenuhi ketakutan. Mereka bekerja sampai telepon penyidik masuk, tetap mengikuti janji untuk gak keluar dari tempat aman.