Zafar meminta bertemu Aydan sebelum sidang. Penyidik mengizinkan melalui kaca pembatas dengan pengacara serta terapis hadir.
“Kau mirip ayahmu,” kata Zafar.
“Saya datang untuk mendengar kebenaran, bukan dibandingkan.”
Zafar menyalahkan Safar karena mengambil perusahaan. Aydan menunjukkan wasiat yang justru membagi saham kepada karyawan. Wajah Zafar berubah.
“Papa gak mengambil semuanya. Paman yang gak mau berbagi.”
Zafar menolak mengaku memerintahkan kecelakaan. Dia hanya menyuruh Herman menghentikan mobil. Aydan menjawab akibat perintah tetap menewaskan orangtuanya.
Pertemuan berakhir saat Zafar mencoba mengatakan Raihan mencuri Aydan. Aydan berdiri.
“Raihan menyelamatkan saya. Paman yang membuat saya kehilangan keluarga pertama.”
Di luar ruangan, tubuh Aydan gemetar. Kaif menunggu dan membawanya pulang tanpa menanyakan semua detail.
Malam itu Aydan melukis wajah Zafar, lalu merobeknya. Hanin membantu mengumpulkan kertas tanpa memaksa Aydan menyimpannya.
Sidang dimulai keesokan hari. Zafar mengaku gak bersalah. Namun rekaman suara, kesaksian Raka, transaksi dokter, dan data Fariz membentuk rangkaian yang semakin sulit dibantah.
Sebelum pertemuan, terapis meminta Aydan menuliskan tujuan. Dia hanya ingin memastikan Zafar mengetahui dirinya hidup dan gak lagi dapat mengendalikan cerita keluarga. Aydan dilarang meminta pengakuan karena penolakan Zafar dapat memicu trauma.
Kaif ingin masuk bersama, tetapi penyidik membatasi peserta. Dia menunggu di ruangan lain bersama Raihan.
Zafar tersenyum ketika melihat Aydan. “Raihan membesarkanmu jadi orang lemah.”
“Orang lemah gak akan duduk di sini menghadapi Paman.”
Zafar bercerita bahwa Safar selalu menjadi anak kesayangan. Menurutnya, seluruh keluarga menyalahkan ambisi Zafar tetapi menikmati keuntungan kerja kerasnya.
Aydan bertanya kenapa Nayla juga harus mati. Zafar terdiam sesaat lalu berkata kecelakaan bukan rencana.
“Paman menyuruh mobil mereka dihentikan.”
“Aku cuma ingin mengambil dokumen.”
“Paman tau pengejaran di jalan tol bisa membunuh.”
Pengacara Zafar menghentikan percakapan sebelum berubah menjadi pengakuan tanpa prosedur. Semua ucapan tetap dicatat penyidik.
Di luar, Aydan muntah karena tubuhnya gak kuat menahan tekanan. Kaif memegang rambutnya dan gak membuat candaan.
“Aku kira setelah melihat dia, aku akan merasa lengkap,” kata Aydan.
“Mungkin orang kayak dia gak punya sesuatu yang bisa melengkapimu.”
Raihan meminta maaf karena dulu membiarkan ancaman Zafar menentukan hidup keluarga. Aydan menjawab mereka akan membahas itu setelah sidang, bukan saat emosi masih tinggi.
Sidang pertama menghadirkan ahli kecelakaan. Rekonstruksi menunjukkan benturan dari mobil Herman membuat kendaraan Safar kehilangan kendali dan memicu tabrakan beruntun. Tanpa pengejaran, kecelakaan kemungkinan gak terjadi.
Pengacara Zafar berargumen Herman bertindak sendiri. Jaksa memutar potongan rekaman suara yang memuat perintah mengikuti serta mengambil dokumen.
Raka memberi kesaksian dari ruang terlindung. Dia menjelaskan Zafar berulang kali mengancam Safar. Saat ditanya mengapa baru bicara sekarang, Raka mengakui ketakutan dan rasa bersalah.
“Diam saya membantu pelaku,” katanya.
Aydan mendengar dari bangku korban. Kalimat itu juga berlaku pada keluarganya, tetapi dia gak menggunakan sidang untuk mempermalukan mereka.
Di rumah, Hanin menyiapkan kamar tanpa berita dan ponsel agar Aydan dapat beristirahat. Emilia mengirim pesan singkat melalui jalur aman: kau gak harus kuat setiap menit. Aydan membacanya lalu mematikan ponsel.
Hari berikutnya, Zafar mencoba mencabut ucapan saat pertemuan. Namun ahli hukum menyatakan pernyataan diberikan dengan pengacara hadir. Ia dapat dipakai bersama bukti lain.
Fariz belum bersaksi. Jaksa menunggu sampai Zafar resmi dihadapkan pada transaksi dan rekaman lengkap. Aydan memahami persidangan gak akan selesai cepat.
Dia kembali bekerja dua hari kemudian. Yuni gak menanyakan sidang, hanya memberikan jadwal. Rutinitas membantu Aydan mengingat dirinya bukan sekadar anak dari korban dan keponakan terdakwa.
Persidangan juga menghadirkan keluarga korban lain. Seorang ibu kehilangan suami dalam tabrakan dan baru mengetahui kecelakaan dipicu pengejaran. Dia marah karena kasus selama ini ditutup sebagai musibah biasa.
Aydan meminta maaf meski bukan dirinya pelaku. Ibu itu mengatakan keluarga Safaraz selalu memiliki uang untuk menyembunyikan masalah.
“Saya gak bisa meminta Ibu percaya sekarang,” jawab Aydan. “Tapi saya akan mendukung penyelidikan untuk semua korban.”
Yayasan bantuan dibentuk dengan pengawas dari keluarga korban, bukan dikendalikan Aydan. Dana awal berasal dari aset Zafar yang dibekukan dan kontribusi sukarela Aydan.
Zafar mengejek langkah itu sebagai cara membeli simpati. Aydan gak membalas di media.
Di rumah, Aydan bertanya kepada Raihan apakah ada korban lain yang pernah mencoba menghubungi. Raihan menyerahkan dua surat lama yang dikirim keluarga korban. Dulu dia meneruskannya kepada polisi, tetapi gak pernah menindaklanjuti.
“Papa pikir tugas Papa selesai setelah menyerahkan,” katanya.
“Sekarang kita pastikan mereka didengar.”
Kaif membantu menghubungi keluarga melalui pengacara. Sebagian menolak bicara dengan keluarga Safaraz. Kaif menerima penolakan tanpa memaksa.
Pada sesi terapi, Aydan mengaku merasa bersalah memiliki warisan dari perusahaan yang menjadi sumber konflik. Terapis mengingatkan uang dapat digunakan secara bertanggung jawab tanpa menghapus kesalahan masa lalu.
Aydan memutuskan semua keuntungan pribadinya ditahan sampai audit korban serta karyawan selesai. Dia tetap menerima gaji dari pekerjaannya di perusahaan Raihan.
Keputusan itu membuat beberapa kerabat menyebutnya bodoh. Salma justru mendukung.
“Abangmu pasti lebih memilih nama keluarga pulih lewat kejujuran, bukan kemewahan,” katanya.
Malamnya Aydan menuliskan nama seluruh korban yang diketahui. Safar serta Nayla berada di antara mereka, bukan di atas mereka. Keadilan yang dicari gak boleh hanya berpusat pada darahnya sendiri.
Sebelum sidang berikutnya, Aydan mengunjungi makam Safar dan Nayla bersama Hanin. Dia menceritakan bahwa Zafar akhirnya diadili dan berjanji gak membiarkan nama mereka hanya dikenal karena warisan. Hanin meletakkan bunga, lalu memberi Aydan waktu sendirian. Aydan gak mendengar jawaban apa pun, tetapi pulang dengan napas lebih ringan. Menghadapi Zafar ternyata bukan tentang memenangkan percakapan. Itu tentang mengembalikan tanggung jawab kepada orang yang membuat pilihan buruk.
Aydan juga menyerahkan catatan pertemuannya dengan Zafar kepada jaksa. Dia menulis hanya fakta, tanpa menambahkan dugaan. Cara itu membantunya memisahkan kemarahan pribadi dari bukti yang memang dapat dipertanggungjawabkan di depan pengadilan.
Keputusan itu membuat pikirannya lebih tenang.