Kaif menyelesaikan program kepemimpinan dan mendapat tawaran memimpin divisi pemasaran. Jabatan itu lebih kecil dari CEO, tetapi diperoleh melalui penilaian.
Dia menerimanya tanpa meminta Raihan menaikkan posisi.
Hari pertama, beberapa staf menganggapnya hanya anak pemilik. Kaif hampir membentak, lalu memilih menunjukkan rencana kerja. Kesalahan tetap terjadi dan dia meminta bantuan Aydan.
“Aku bantu sebagai rekan, bukan mengerjakan untuk Kakak,” kata Aydan.
Kaif setuju.
Tania menyelesaikan kewajiban hukum dan meminta kesempatan berbicara terakhir. Kaif menolak pertemuan pribadi, tetapi mengizinkan surat melalui konselor.
Dalam surat, Tania mengakui mengejar status serta memakai Aydan untuk membuat Kaif cemburu. Kaif membaca, lalu menyimpan tanpa membalas.
“Kau masih sayang?” tanya Aydan.
“Mungkin masih ada sisa. Tapi itu bukan alasan kembali.”
Jawaban tersebut menunjukkan Kaif juga belajar membedakan perasaan dari pilihan.
Pada sidang, jaksa menutup pembuktian. Zafar menghadapi tuntutan berat, sedangkan Fariz mendapat pertimbangan karena bekerja sama tetapi tetap bertanggung jawab atas ancaman serta penculikan yang direncanakan.
Malamnya keluarga merayakan jabatan Kaif. Aydan memberikan pena sederhana. Kaif protes karena berharap mobil.
“Kerja dulu yang benar,” jawab Aydan.
Sebagai kepala divisi, Kaif harus memilih tim tanpa campur tangan Raihan. Dua temannya meminta posisi meski gak memenuhi syarat.
“Kami kan kawan lama,” kata salah satunya.
Kaif hampir menerima karena takut disebut sombong. Dia kemudian mengingat Tania dan semua orang yang mendekat karena status.
“Ikut seleksi. Kalau lulus, aku terima,” jawabnya.
Kedua temannya marah dan menyebarkan cerita bahwa Kaif dikendalikan Aydan. Kali ini Kaif gak menyerang media. Dia menunjukkan struktur seleksi kepada dewan.
Aydan menawarkan bantuan komunikasi, tetapi Kaif menolak dengan sopan. “Ini masalah divisi aku. Kalau butuh, baru kupanggil.”
Raihan bangga melihat putranya berdiri sendiri.
Tania mengirim surat penutup melalui konselor. Dia menjalani kerja sosial dan terapi. Dalam suratnya, Tania gak meminta kembali, hanya mengakui dirinya mengejar kekayaan serta perhatian.
Kaif membawa surat ke sesi konseling. Dia mengaku masih merindukan bagian baik hubungan mereka.
“Merindukan gak sama dengan harus kembali,” kata konselor.
Kaif menyimpan surat di map, bukan di kamar. Dia ingin masa lalu dicatat tanpa dijadikan pusat hidup.
Aydan juga mengikuti terapi setelah rekaman kecelakaan. Kaif menemaninya menuju klinik, tetapi menunggu di luar. Setelah sesi, mereka makan mi ayam.
“Kakak gak tanya terapinya?”
“Kalau kau mau cerita, kau cerita.”
Aydan tersenyum. Kaif yang dulu membongkar barangnya sekarang belajar menghormati privasi.
Program kepemimpinan Kaif berakhir dengan presentasi rencana pemasaran. Aydan hadir sebagai anggota dewan, bukan adik yang memberi nilai tambahan. Kaif mendapat hasil baik tetapi harus memperbaiki perhitungan biaya.
Dia menerima jabatan kepala divisi selama masa percobaan enam bulan.
Makan malam keluarga diadakan sederhana. Hanin memasak makanan favorit Kaif, sedangkan Aydan memberi pena dengan ukiran namanya.
“Kenapa bukan mobil?”
“Pena aja hampir gak pantas.”
Mereka saling ejek. Mama Raihan ikut tertawa kecil, sesuatu yang jarang terjadi ketika Aydan berada di ruangan.
Di sidang, pembelaan Zafar berakhir. Hakim menjadwalkan putusan. Fariz menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban kecelakaan, tetapi sebagian menolak mendengarnya.
Aydan gak menuntut mereka memaafkan. Dia sendiri belum tau apakah suatu hari dapat melepaskan kemarahan.
Emilia memberi Aydan sebuah buku gambar sebagai dukungan. Harga benda itu murah dan gak membawa utang besar. Aydan menerimanya, lalu memberikan satu lukisan kecil buatannya.
“Ini hadiah atau tanda terima kasih?” tanya Emilia.
“Hadiah karena aku ingin memberi.”
Hubungan mereka bergerak satu langkah lagi. Sementara Kaif memilih karier yang diperoleh sendiri, Aydan mulai memilih kedekatan yang gak lahir dari kewajiban.
Masa percobaan jabatan Kaif dimulai dengan target berat. Timnya terbiasa mendapat keputusan dari atas dan jarang menyampaikan pendapat. Kaif mengadakan rapat tanpa kursi khusus kepala agar semua orang bicara.
Seorang staf mengkritik rencananya terlalu mahal. Naluri Kaif ingin membentak, tetapi dia meminta data. Kritik tersebut benar dan anggaran diperbaiki.
“Ternyata dengar orang gak bikin jabatan hilang,” katanya kepada Aydan.
“Baru tau?”
Kaif menunjukkan lidah seperti anak kecil.
Tania selesai menjalani kerja sosial. Dia memutus pindah kota dan mencari pekerjaan tanpa menggunakan hubungan Kaif. Surat terakhirnya gak meminta jawaban. Kaif membakar salinan pribadi setelah konselor menyimpan arsip resmi.
“Kenapa dibakar?” tanya Aydan.
“Bukan karena benci. Aku cuma gak mau terus baca.”
Aydan memahami. Melepaskan bukan berarti menyangkal bahwa hubungan pernah ada.
Emilia menghadiri satu makan malam keluarga sebelum putusan. Hanin menyukainya karena Emilia membantu membawa piring tanpa dibuat-buat. Mama Raihan memperhatikan dengan kritis tetapi menahan komentar soal status.
Kaif menanyakan apakah Emilia benar-benar suka pria kaku seperti Aydan.
“Kadang dia lucu kalau gak sadar,” jawab Emilia.
Aydan protes dan semua tertawa. Suasana itu memberi jeda dari pengadilan.
Setelah Emilia pulang, Aydan mengatakan kepada Hanin ingin mengenalnya lebih serius. Hanin mendukung selama keduanya gak memakai hubungan untuk saling menyelamatkan.
Raihan juga mengingatkan Aydan gak perlu menikah cepat hanya karena keluarga mulai menyukai Emilia.
Hari putusan ditetapkan. Kaif meminta izin meninggalkan satu rapat untuk mendampingi, tetapi Aydan menyuruhnya menyelesaikan tanggung jawab.
“Papa sama Mama ada. Kakak datang setelah rapat.”
Kaif menghormati keputusan itu. Dia gak lagi membuktikan kasih sayang dengan meninggalkan semua pekerjaan.
Di pengadilan, Aydan duduk di antara Hanin dan Raihan. Salma berada di belakang, sedangkan keluarga korban lain memenuhi bangku. Mereka menunggu hakim masuk tanpa mengetahui apakah satu putusan mampu membawa ketenangan.
Sebelum hakim masuk, Kaif tiba setelah rapat selesai. Dia duduk di bangku belakang agar gak mengganggu. Aydan menoleh dan melihat kakaknya mengangkat jempol. Isyarat sederhana itu cukup. Kaif datang setelah memenuhi tanggung jawab, bukan meninggalkan semuanya demi terlihat sebagai abang baik. Raihan tersenyum karena kedua anaknya akhirnya belajar dukungan gak selalu membutuhkan pengorbanan dramatis.
Kaif memilih tetap duduk tenang sampai namanya dipanggil sebagai bagian keluarga korban.
Aydan menyadari kakaknya benar-benar hadir untuk keluarga.