Nadia gak menyangkal pernah memegang kapal itu. Menurutnya, mainan tersebut berada di rumah lama Safar dan dia menyentuhnya ketika mencari dokumen beberapa minggu lalu. Namun dia bersumpah gak mengirim paket kepada Naufal.
“Saya bahkan gak mengetahui lokasi perlindungannya,” katanya.
Polisi memeriksa kamera jasa pengiriman. Paket diserahkan seorang perempuan memakai masker, dengan dokumen identitas palsu atas nama Kirana. Bentuk tubuhnya gak cocok dengan Nadia.
Naufal menolak keluar dari perlindungan. Pesan tentang ayahnya mengguncang keyakinan yang dibangun Kirana sepanjang hidupnya.
Dia meminta tes DNA dengan Harun. Penyidik menjelaskan tes itu harus sukarela atau berdasarkan perintah hukum. Harun awalnya menolak, lalu setuju jika Naufal menemuinya.
Naufal gak mau syarat tersebut. Pengacaranya mengajukan permohonan pengadilan menggunakan sengketa akta dan klaim lahan sebagai dasar. Aydan gak ikut memengaruhi keputusan.
Salma menemukan surat Safar yang menyatakan dirinya mengakui Naufal hanya untuk perlindungan, tetapi bagian nama ayah biologis sengaja dikosongkan. Raka membenarkan surat itu pernah ditandatangani di hadapannya.
“Safar bilang identitas ayahnya dapat membuat anak itu dibunuh,” ujar Raka.
“Apakah maksudnya Harun?” tanya Aydan.
Raka gak yakin. Harun memang berbahaya, tetapi gak memiliki alasan status biologisnya sendiri harus dirahasiakan dari keluarga Nadia.
Nadia akhirnya menceritakan bahwa Kirana pernah dekat dengan Nurdin, ayahnya. Jika Naufal adalah anak Nurdin, dia menjadi saudara tiri Nadia sekaligus ahli waris perusahaan lama. Nurdin telah menikah dan hubungan itu dapat menghancurkan aliansi bisnis.
“Ayah saya menyuruh Harun mengusir Kirana,” kata Nadia. “Saya gak tau dia sedang hamil.”
Kemungkinan baru itu menjelaskan pesan pada kapal. Harun mungkin bukan ayah Naufal. Dia sekadar memakai status tersebut untuk menguasai Kirana dan Safar.
Polisi menelusuri pengirim paket. Perekat amplop mengandung DNA perempuan. Hasil pembanding gak cocok dengan Nadia atau Salma, tetapi ada hubungan maternal dengan Naufal.
“Itu mustahil,” kata Naufal melalui panggilan. “Ibu saya meninggal sebelas tahun lalu.”
Catatan kematian Kirana berasal dari klinik kecil yang sudah tutup. Jenazah dikremasi tanpa verifikasi keluarga. Polanya menyerupai pemalsuan kematian Nadia.
Naufal merasa dikhianati. Jika Kirana masih hidup, mengapa ibunya membiarkannya diburu sendirian?
Aydan ingin menenangkannya, tetapi Naufal meminta ruang. “Jangan bicara seolah kita sama. Orang tuamu mati. Ibuku mungkin memilih pergi.”
“Baik,” jawab Aydan. “Aku akan menunggu jika kau menghubungi.”
Dia menutup telepon tanpa membela diri. Rasa sakit Naufal gak harus dibuat nyaman bagi Aydan.
Di rumah, Hanin melihat anaknya termenung. Aydan menceritakan garis besar yang boleh dibagikan. Hanin mengatakan kehilangan karena kematian dan kehilangan karena ditinggalkan sama-sama nyata, tetapi bentuk marahnya berbeda.
Sementara penyidikan berlangsung, Emilia menerima rincian promosi. Dia harus tinggal di Yogyakarta dan memimpin program pendampingan perempuan selama enam bulan. Kesempatan itu sesuai pekerjaannya.
“Aku ingin mengambilnya,” katanya kepada Aydan.
Aydan jujur bahwa dirinya sedih. Mereka baru mulai memperbaiki hubungan. Namun dia juga tau meminta Emilia tinggal akan menjadikan kesempatan kedua sebagai beban.
“Aku mau mencoba hubungan jarak jauh,” ujarnya. “Kalau di tengah jalan salah satu gak sanggup, kita bicara tanpa ancaman.”
Emilia mengangguk. Mereka menyusun jadwal komunikasi yang lentur dan sepakat gak memakai pelacakan lokasi. Kunjungan harus direncanakan bersama, bukan kejutan.
Hanin kecewa saat mengetahui Emilia akan pergi, tetapi gak membujuk. Dia mengundang Emilia makan malam perpisahan dan menerima jika perempuan itu menolak. Emilia memilih hadir.
Di perusahaan, Kaif menghadapi tawaran investor untuk membeli lahan pelabuhan sebelum klaim Naufal selesai. Harga tinggi dapat menutup kerugian perusahaan. Kaif menolak karena penjualan akan mengaburkan hak kepemilikan.
Seorang direktur menuduhnya terlalu emosional terhadap keluarga. Kaif meminta keputusan dicatat dan dibawa ke dewan. Laras mendukung penundaan sampai putusan hukum.
Hari berikutnya, polisi menemukan perempuan pengirim paket melalui kendaraan sewaan. Namanya Siska Marbun, mantan perawat klinik tempat Kirana dinyatakan meninggal. Siska mengaku paket dititipkan Kirana sendiri.
“Di mana dia?” tanya penyidik.
Siska menyerahkan alamat rumah kecil di Berastagi. Tim mendatanginya, tetapi rumah tersebut sudah kosong. Di meja ada obat kanker, foto Naufal dewasa, dan surat yang belum selesai.
Surat itu dimulai dengan kalimat, “Naufal, Ibu pergi bukan karena gak menginginkanmu.”
Pada halaman terakhir terdapat jadwal pertemuan di sebuah gereja tua tiga hari lagi. Polisi menduga Kirana ingin muncul, tetapi seseorang membuatnya pergi lebih cepat.
Rekaman jalan menunjukkan mobil Nadia berada di Berastagi pagi itu.
Nadia sekali lagi menjadi orang terakhir yang mungkin melihat perempuan yang selama puluhan tahun dianggap mati.
Sebelum dipanggil polisi, Nadia mendatangi pengacaranya dan menyiapkan daftar seluruh pertemuannya dengan Kirana. Sikap itu berbeda dari kebiasaannya menyimpan informasi sampai terdesak. Namun keterlambatan tetap membuat penyidik curiga.
Naufal membaca surat yang belum selesai melalui salinan digital. Dia berhenti pada satu paragraf yang menjelaskan Kirana selalu mengikuti kabarnya dari jauh: kelulusan sekolah, pekerjaan pertama, dan kecelakaan di bengkel kapal. Pengetahuan itu terasa seperti kasih sayang sekaligus pengawasan.
“Dia tau aku terluka, tapi gak datang,” katanya kepada psikolog.
Psikolog gak memintanya bersyukur karena Kirana masih peduli. Naufal diperbolehkan merasakan rindu, marah, dan takut pada waktu bersamaan.
Aydan juga menjalani sesi sendiri. Dia menyadari dorongannya menolong Naufal sebagian berasal dari keinginan menjadi anak Safar yang baik. Terapis mengingatkan bantuan akan berubah menjadi beban jika digunakan untuk membuktikan identitas.
Karena itu Aydan membatalkan rencana memberikan rumah kepada Naufal. Dia memilih mendukung dana bantuan saksi yang tersedia bagi semua korban, tanpa perlakuan khusus yang belum diminta.
Sementara itu, hasil pemeriksaan mobil Nadia menunjukkan kendaraan berhenti dua puluh menit di dekat apotek. Kamera apotek menangkap seorang perempuan kurus memakai penutup kepala masuk bersama Nadia. Bentuk wajahnya cocok dengan foto muda Kirana setelah diperhitungkan perubahan usia.
Bukti tersebut memastikan Kirana masih hidup setidaknya pada pagi itu. Pertanyaannya bukan lagi apakah kematiannya palsu, melainkan mengapa dia muncul hanya untuk kembali menghilang.
Jawabannya kini hanya dapat diberikan Kirana sendiri.