Laras menonaktifkan seluruh akses Komisaris Darma lima menit setelah menerima telepon Kaif. Namun sistem menunjukkan Darma sudah mengunduh arsip audit dan memasuki ruang dokumen malam sebelumnya menggunakan kartu komite etik.
Kaif memerintahkan keamanan menjaga pintu, lalu menghentikan dirinya sendiri.
“Hubungi polisi dan auditor eksternal,” katanya. “Jangan menyentuh ruangannya sebelum mereka datang.”
Dulu dia mungkin akan menggeledah kantor untuk menemukan jawaban lebih cepat. Sekarang Kaif memahami bukti harus tetap utuh, bahkan ketika nama keluarganya menjadi taruhan.
Polisi menemukan lemari Darma kosong. Di tempat sampah terdapat potongan tiket feri menuju Batam. Pelacakan telepon berakhir di Belawan, tetapi kamera pelabuhan gak menunjukkan wajahnya. Darma kemungkinan memakai jalur kargo yang pernah diselidikinya bersama Harun.
Rekaman video Safar menjadi dasar pemeriksaan. Dalam video, Darma berjanji menerima buku April, tetapi pada pagi setelah kecelakaan dia justru menyatakan gak ada unsur pidana. Tanda tangannya juga muncul pada laporan barang bukti yang menyebut buku tersebut gak pernah ada.
“Dia melindungi Harun atau Zafar?” tanya Aydan.
Penyidik belum dapat menjawab. Darma mungkin dibayar, diancam, atau memiliki kepentingan sendiri.
Harun mengaku Darma menerima uang dari Nurdin. Menurutnya, Darma kemudian memeras semua pihak dengan menyimpan salinan daftar pengiriman. Zafar membayar selama bertahun-tahun agar laporan kecelakaan tetap ditutup.
“Mengapa dia mengambil arsip sekarang?”
“Karena arsip itu menunjukkan rekening yang masih dia gunakan,” jawab Harun.
Polisi membekukan rekening terkait, tetapi sejumlah dana sudah dipindahkan dua hari sebelumnya. Tujuannya adalah perusahaan keamanan di Batam milik anak Darma, Reza.
Reza menyangkal mengetahui kejahatan ayahnya. Dia melaporkan Darma datang malam lalu dan meminta mobil. Reza menolak setelah melihat berita. Darma meninggalkan tas berisi pakaian, lalu pergi dengan taksi.
Di dalam tas ditemukan obat jantung dan foto lama Raihan bersama Safar. Bagian belakang foto bertuliskan, “Orang ketiga yang seharusnya ikut.”
Raihan dipanggil untuk memberi keterangan. Dia mengaku seharusnya hadir dalam pertemuan Safar dengan Darma malam sebelum kecelakaan, tetapi Hanin sakit dan memintanya pulang. Safar mengatakan pertemuan dapat ditunda.
“Kalau aku datang, mungkin mereka gak pergi malam itu,” kata Raihan.
Aydan mendengar rasa bersalah yang sudah dipikul ayahnya puluhan tahun. “Papa memilih merawat Mama. Kecelakaan itu keputusan orang yang mengejar mereka, bukan akibat Papa pulang.”
Raihan mengangguk, meski penerimaan gak datang seketika.
Salinan audit yang dibawa Darma memuat data pribadi korban. Yayasan Jalan Pulang segera memberi tahu semua orang yang berisiko dan menawarkan perlindungan identitas. Bu Ratna mengambil alih komunikasi, sedangkan Aydan menjauh dari rincian operasional karena konflik keluarga.
Di Yogyakarta, Emilia mendengar kabar lewat media sebelum Aydan sempat menelepon. Dia kesal, tetapi memahami Aydan sedang diperiksa sebagai saksi. Pada jadwal malam mereka, Aydan meminta maaf tanpa menjadikan kesibukan alasan.
“Aku hanya butuh pesan bahwa kamu aman,” kata Emilia.
Mereka menambahkan aturan sederhana: jika perkara darurat terjadi, salah satu boleh mengirim satu kata, “aman”, lalu menjelaskan ketika memungkinkan.
Emilia juga menghadapi konflik di tempat kerja. Seorang peserta pendampingan menolak program karena takut datanya bocor. Pengalaman ancaman sebelumnya membuat Emilia memahami ketakutan itu. Dia mengusulkan sistem persetujuan baru dan penyimpanan data terbatas.
Atasannya menilai perubahan terlalu lambat. Emilia mempertahankan usulan dengan bukti, bukan membawa nama Aydan atau kasus Safaraz. Program akhirnya memberi peserta pilihan anonim.
Sementara itu, Naufal menghadiri sidang awal klaim lahan melalui video. Kuasa perusahaan menyatakan gak menentang pembekuan, tetapi pemegang saham minoritas mengajukan keberatan. Naufal tetap tenang sampai seorang pengacara menyebutnya “anak palsu Safar.”
Kaif, yang hadir sebagai wakil perusahaan, meminta istilah itu dicabut dari catatan. “Status biologis gak menghapus akta, perlindungan, atau hak penggugat untuk didengar.”
Naufal menatap Kaif melalui layar. Setelah sidang, dia mengirim pesan singkat kepada Aydan: “Kakakmu ternyata gak selalu buruk.”
Aydan meneruskannya kepada Kaif. Kaif menjawab, “Jangan bilang aku baik. Reputasiku rusak.”
Humor kecil itu gak mengubah mereka menjadi keluarga akrab, tetapi membuat jarak terasa mungkin diseberangi.
Polisi menemukan Darma melalui kamera sebuah klinik pelabuhan. Dia membeli obat menggunakan nama orang lain. Seorang saksi melihatnya naik kapal kecil menuju pulau gudang terbengkalai.
Tim mengepung pulau tersebut. Mereka menemukan api baru padam dan sebagian arsip terbakar. Darma sudah pergi, tetapi meninggalkan perekam suara yang sengaja diletakkan di meja.
Dalam rekaman, Darma mengatakan dirinya bukan orang terakhir yang menutup kasus Safar. Dia menyebut satu nama yang dikenal Kaif dan Aydan sejak kecil: Raka, pengacara keluarga.
“Raka memberikan surat wali Aydan kepada saya,” kata suara Darma. “Tanpa dia, identitas anak itu sudah terbuka sejak malam kecelakaan.”
Raka selama ini membantu membuka rahasia Zafar dan Harun. Kini rekaman Darma menuduhnya ikut mengubur kebenaran paling awal.
Sebelum memanggil Raka, penyidik memeriksa keaslian suara Darma. Hasil awal menunjukkan gak ada potongan digital, tetapi konteksnya dapat sengaja dibuat menyesatkan. Aydan diminta gak menghubungi Raka supaya reaksi pertamanya dapat dicatat tanpa persiapan.
Permintaan itu terasa berat. Raka hadir dalam banyak masa sulit dan pernah menjadi penghubung antara Aydan dengan masa lalu Safar. Namun Aydan menghapus pesan yang sudah dia ketik. Dia memberi tahu Raihan bahwa polisi akan menangani pemanggilan.
Kaif juga menemukan tanda tangan Raka pada tiga keputusan etik perusahaan. Laras membekukan keputusan tersebut sementara tanpa menyatakan semuanya salah. Pegawai yang terdampak diberi kabar bahwa peninjauan gak akan menghentikan gaji atau perlindungan kerja.
Di rumah, Hanin mengeluarkan foto ulang tahun Aydan yang menampilkan Raka membawa kue. Dia ingin percaya tuduhan Darma bohong, tetapi menyadari rasa sayang gak dapat menjadi alat menilai bukti.
“Kalau Raka bersalah, kenangan ini tetap pernah terjadi,” kata Aydan. “Tapi kenangan gak boleh menghapus korban.”
Malam berlalu tanpa seorang pun menelepon Raka. Pagi harinya, sebelum surat panggilan dikirim, pengacara tua itu justru berdiri sendiri di depan kantor polisi sambil membawa koper hitam. Dia memilih berhenti bersembunyi.