Enam bulan jadwal pembagian kota selesai. Aydan serta Emilia duduk bersama konselor untuk mengevaluasi. Hubungan mereka bertahan, tetapi biaya perjalanan tinggi dan perpindahan terus-menerus melelahkan.
Mereka memutuskan mencoba tinggal bersama selama tiga bulan di Yogyakarta. Aydan tetap menyewa kamar lamanya untuk bulan pertama sebagai jalan keluar praktis, bukan ancaman perpisahan.
Mereka menulis pembagian biaya berdasarkan penghasilan. Emilia membayar bagian sewa, Aydan bagian lebih besar untuk kebutuhan bersama, tetapi rumah tetap atas nama Emilia karena kontrak sudah ada. Barang pribadi gak otomatis menjadi milik bersama.
Ibu Emilia pindah ke rumah komunitas seminggu sebelumnya. Dia sedih, tetapi mengakui ruang baru memberi teman serta kebebasan.
Aydan membawa dua koper dan tiga lukisan. Dia gak memindahkan seluruh hidup dari Medan. Kaif menertawakan daftar aturan rumah yang panjang.
“Kalian pacaran atau merger?”
“Merger lebih gampang,” jawab Aydan.
Minggu pertama terasa menyenangkan. Mereka sarapan bersama dan pulang ke alamat sama. Kemudian masalah kecil muncul. Aydan bekerja larut di ruang makan, Emilia membutuhkan sunyi. Emilia meninggalkan pakaian di kursi, Aydan memindahkannya tanpa bertanya.
Pertengkaran pertama terjadi karena Aydan membeli rak baru. Emilia merasa rumahnya diubah tanpa izin. Aydan mengira rak adalah kebutuhan bersama.
Dia mengembalikan barang dan meminta maaf. Mereka menambahkan aturan pembelian benda rumah harus dibicarakan di atas jumlah tertentu.
Emilia juga meminta maaf karena menyebut Aydan “tamu” saat marah. Percobaan itu dibuat agar rumah menjadi ruang bersama sementara, bukan tempat Aydan selalu takut diusir.
Mereka menetapkan satu malam sendiri setiap minggu. Aydan pergi ke komunitas seni, Emilia bertemu teman atau menikmati rumah tanpa percakapan.
Di Medan, Kaif menghadapi uji coba otomatisasi. Sistem baru salah mengategorikan pekerja kontrak dan memblokir akses mereka. Operasi berhenti dua jam.
Sari ingin mengaktifkan mode manual lalu melanjutkan. Kaif meminta semua pekerja terdampak tetap dibayar. Bagian keuangan keberatan. Sari akhirnya menyetujui karena kegagalan berasal dari perusahaan.
Tim teknologi menemukan data lama gak pernah dibersihkan. Kaif mengusulkan jeda satu minggu. Sari memberi tiga hari agar pelanggan gak hilang. Mereka berkompromi lima hari dengan laporan harian.
Serikat mengkritik uji coba terlalu cepat. Sari hadir dalam forum dan mengakui kesalahan estimasi. Kaif gak mengambil alih pembicaraan untuk terlihat lebih peduli.
Setelah perbaikan, sistem mengurangi pekerjaan berulang tanpa menghapus posisi. Pegawai dilatih menangani verifikasi serta dukungan pelanggan.
Hubungan Sari dan Kaif mulai saling melengkapi: kecepatan Sari mencegah proyek tenggelam, kehati-hatian Kaif mencegah manusia menjadi angka.
Perkara jaringan Livia berlanjut pada penyitaan aset. Yayasan Tania menerima surat resmi pembersihan keterlibatan. Tania meminta media memperbarui artikel lama, tetapi sebagian menolak.
Dia membawa kasus ke dewan pers dengan bantuan lembaganya sendiri. Emilia memberi dukungan moral, bukan mengendalikan strategi.
Nadia menghadapi aset ibunya yang tersisa. Dia menolak menjadi ahli waris pribadi dan meminta pengadilan menyalurkan ke korban. Diah juga melepaskan klaim, tetapi mempertahankan hak atas biaya terapi seumur hidup.
“Aku gak harus menolak semua uang untuk membuktikan aku bukan seperti dia,” kata Diah.
Nadia mendukung.
Aydan serta Emilia menjalani bulan kedua serumah. Aydan harus pulang ke Medan dua minggu untuk studio. Emilia menikmati ruang sendiri, lalu merasa bersalah karena lega.
Konselor mengatakan rasa lega gak berarti gak mencintai. Tinggal bersama gak menghapus kebutuhan kesendirian.
Saat Aydan kembali, Emilia mengatakan dia ingin mempertahankan beberapa malam rumah untuk dirinya. Aydan setuju dan kadang menginap di kamar sewa sampai kontraknya habis.
Ayah Emilia mendengar mereka tinggal bersama dan datang membuat keributan di depan rumah. Emilia memanggil keamanan serta polisi setempat. Aydan tetap di dalam sesuai permintaan, gak keluar menghadapi.
Ayahnya pergi setelah diberi peringatan. Emilia gemetar, tetapi bangga keputusan keamanan berada di tangannya.
Malam itu Aydan bertanya apakah Emilia ingin ditemani. Emilia berkata iya. Mereka duduk di lantai tanpa membahas masa depan hubungan.
Percobaan satu rumah gak memberikan cerita romantis tanpa gangguan. Ia justru memperlihatkan kebiasaan, ketakutan, dan batas yang sebelumnya tersembunyi oleh jarak.
Pada akhir bulan kedua, mereka memilih melanjutkan satu bulan terakhir. Keputusan dibuat karena proses dapat diperbaiki, bukan karena takut percobaan gagal.
Bulan ketiga menguji pembagian pekerjaan rumah. Pada minggu pertama, Emilia merasa dia lebih sering membuat daftar belanja dan mengingat jadwal. Aydan beranggapan membayar bagian biaya lebih besar sudah menyeimbangkan kontribusi.
Dalam konseling, mereka membahas pekerjaan yang gak terlihat. Aydan mengambil tanggung jawab jadwal tagihan serta belanja mingguan, sedangkan Emilia tetap mengatur kebersihan bersama jasa yang biayanya dibagi.
Aydan lupa membeli kebutuhan satu kali dan ingin langsung memesan semua dalam jumlah berlebihan. Emilia memintanya gak mengubah satu kesalahan menjadi pengeluaran panik. Mereka membeli seperlunya keesokan pagi.
Masalah lain muncul ketika Hanin datang ke Yogyakarta. Dia memesan hotel, tetapi menghabiskan hampir setiap hari di rumah mereka. Emilia kelelahan dan sulit meminta ruang.
Aydan berbicara kepada ibunya. “Kami senang Mama datang, tapi besok kami butuh malam sendiri.”
Hanin sempat kecewa, lalu membuat rencana wisata bersama teman lama. Dia gak meminta Emilia menjelaskan atau meminta maaf.
Setelah kunjungan, Emilia mengatakan Aydan berhasil menjaga batas tanpa menjadikan dirinya pihak yang disalahkan. Dulu keluarga sering menilai perempuan sebagai penghalang kedekatan anak laki-laki dengan ibunya. Aydan gak mengulang pola tersebut.
Mereka juga membuat aturan tamu berlaku sama untuk keluarga Emilia. Ibu Emilia setuju memberi kabar sehari sebelumnya kecuali darurat.
Pada akhir percobaan, konselor meminta keduanya menyebut alasan berhenti jika perlu. Aydan akan berhenti bila kembali mengawasi atau mengendalikan. Emilia akan berhenti bila rumah membuat salah satu kehilangan pekerjaan, uang, atau suara.
Mengetahui pintu keluar justru membuat pilihan tinggal terasa lebih bebas.
Mereka menandatangani evaluasi percobaan bersama konselor. Dokumen itu bukan kontrak untuk bertahan, melainkan catatan mengenai hal yang berhasil serta masih perlu diperbaiki. Keduanya membawa salinan tanpa menjadikannya senjata saat pertengkaran berikutnya datang bersama.