Proyek regional pertama Kaif berada di Surabaya. Dia harus memperbaiki unit yang produktif tetapi memiliki tingkat pengunduran diri tinggi. Sari memberi target enam bulan dan anggaran terbatas.
Kaif datang tanpa membawa tim loyal dari Medan. Dia ingin mendengar pegawai setempat. Forum pertama mengungkap manajer sering mempermalukan staf di depan umum dan menahan promosi perempuan setelah menikah.
Manajer tersebut menghasilkan laba tinggi serta dekat dengan pelanggan utama. Kaif menonaktifkannya sementara dan membuka pemeriksaan. Pelanggan mengancam pergi.
Sari meminta Kaif menyiapkan pengganti sebelum keputusan final. Kaif menunjuk wakil perempuan yang selama ini dilewati promosi, tetapi meminta panel independen menilai agar penunjukan gak sekadar simbol.
Panel menyatakan dia layak. Operasi tetap berjalan, meski satu pelanggan benar-benar pergi.
Pemeriksaan membuktikan intimidasi serta diskriminasi. Manajer diberhentikan dengan proses hukum. Kaif mengumumkan keputusan tanpa membuka identitas pelapor.
Unit kehilangan laba bulan itu, kemudian pulih perlahan. Tingkat pengunduran diri turun.
Kaif menyadari dirinya menikmati pekerjaan memperbaiki sistem lebih daripada membayangkan kursi CEO. Dia mulai merancang firma konsultasi yang membantu perusahaan menyeimbangkan pemulihan keuangan dan perlindungan pekerja.
Sari mengizinkan studi awal, tetapi mengingatkan Kaif gak boleh mengambil klien Safaraz. Kaif menyusun batas bersama penasihat etik.
Raihan menawarkan modal. Kaif menolak untuk tahap pertama.
“Aku ingin menguji apakah idenya bisa berdiri tanpa nama Papa.”
Dia memakai tabungan pribadi dalam jumlah terbatas dan mencari mitra profesional. Mitranya adalah mantan perwakilan serikat bernama Lestari, bukan anggota keluarga.
Lestari menegaskan dirinya gak akan menjadi wajah pekerja sementara Kaif memegang semua saham. Mereka menyusun pembagian setara secara bertahap berdasarkan kontribusi.
Kaif tetap bekerja di Safaraz selama tahun persiapan dan mengungkap proyek kepada dewan. Gak ada pertemuan rahasia.
Aydan mendengar rencana tersebut dan bertanya apakah Kaif akhirnya meninggalkan perusahaan. Kaif belum tau.
“Mungkin aku gak perlu menunggu perusahaan memilihku lagi,” katanya.
“Tapi jangan mendirikan usaha hanya untuk membuktikan mereka salah.”
Kaif mengakui dorongan itu ada. Dia membawanya ke konseling dan menunda peluncuran sampai model bisnis selesai.
Di Yogyakarta, Aydan serta Emilia menghadiri kelas persiapan pernikahan. Mereka membahas konflik, uang, keluarga, keyakinan, dan kesehatan. Beberapa pertanyaan menimbulkan ketegangan.
Emilia ingin tetap memakai nama sendiri setelah menikah. Aydan gak keberatan, tetapi terkejut karena diam-diam membayangkan nama bersama. Dia mengakui perasaan tanpa menjadikannya tuntutan.
Aydan ingin rekening investasi tetap terpisah. Emilia setuju, dengan satu rekening tujuan bersama. Mereka membuat perjanjian pranikah melalui pengacara masing-masing.
Hanin sedih mendengar kata perjanjian karena menganggapnya tanda ketidakpercayaan. Aydan menjelaskan kejelasan justru melindungi kedua pihak.
“Mama dan Papa juga baru memperbaiki wasiat setelah rahasia melukai kami,” katanya.
Hanin memahami.
Ayah Emilia membalas surat. Dia bersedia datang, tetapi menolak diperiksa keamanan dan ingin Aydan membayar perjalanannya. Emilia menjawab biaya dasar dapat dibantu ibunya jika disepakati, tetapi aturan keamanan berlaku bagi semua tamu.
Ayahnya menuduh dia memilih laki-laki lain. Emilia gak berdebat. Undangan tetap bersyarat.
Dua minggu kemudian, ayahnya menghubungi Mira dan setuju. Emilia belum langsung percaya, tetapi memberi satu kesempatan dengan pendamping keluarga hadir.
Naufal diminta Aydan menjadi salah satu saksi arsip, bukan saksi pernikahan. Kaif tetap menjadi saksi utama. Naufal justru lega gak ditempatkan dalam peran keluarga yang belum terasa alami.
Dia menawarkan pusat pelatihan membuat dekorasi kayu. Aydan dan Emilia membayar harga koperasi, gak menerima gratis.
Diah memilih gak hadir karena keramaian, tetapi ingin mengirim gambar. Nadia hadir sendiri dan duduk sesuai daftar, tanpa menuntut tempat keluarga inti.
Tania mengirim ucapan melalui Emilia. Gak ada undangan pribadi, dan dia menghormati.
Pada akhir proyek Surabaya, Sari memberikan evaluasi tinggi kepada Kaif. Dia menawarkan jalur menjadi CEO setelah masa jabatannya kelak selesai.
Kaif berterima kasih, tetapi gak meminta janji. Firma konsultasinya mungkin menjadi jalan lain.
Untuk pertama kalinya, masa depan karier Kaif memiliki lebih dari satu pintu. Kegagalan seleksi dulu gak lagi terlihat seperti akhir atau penghinaan, melainkan salah satu belokan yang memaksanya menemukan pekerjaan yang benar-benar dia hargai.
Kaif menguji ide firma melalui tiga lokakarya gratis terbatas untuk koperasi kecil. Lestari mengkritik materinya terlalu berpusat pada keputusan eksekutif. Kaif menulis ulang dengan memasukkan proses pengaduan pekerja.
Lokakarya pertama berantakan karena peserta gak memahami istilah keuangan. Kaif ingin mengganti peserta dengan manajer, tetapi Lestari menolak.
“Kalau bahasa kita cuma dipahami orang berjabatan, kita mengulang masalah lama,” katanya.
Mereka menyederhanakan materi dan memakai contoh gaji, jam kerja, serta biaya keselamatan. Sesi kedua jauh lebih hidup.
Sari memeriksa kegiatan tersebut dari sisi konflik kepentingan dan gak menemukan penggunaan data Safaraz. Dia tetap melarang Kaif mengambil proyek berbayar selama masih menjadi direktur regional. Kaif menerima batas serta menunda peluncuran penuh.
Raihan bertanya apakah penolakannya atas modal membuat Kaif masih berusaha membuktikan sesuatu. Kaif mengaku iya. Mereka sepakat Raihan boleh menjadi mentor pribadi, tetapi keputusan bisnis tetap melalui Lestari serta penasihat.
Di persiapan pernikahan, Kaif diminta memilih satu tugas. Dia memilih mengatur transportasi keluarga Medan. Aydan memberi daftar anggaran dan aturan privasi. Kaif mengeluh, tetapi mengikuti.
Dia menolak tawaran perusahaan menyediakan mobil berlogo karena acara bukan kegiatan Safaraz. Tamu berangkat dengan kendaraan sewaan biasa.
Kaif juga menemui ayah Emilia sekali dalam rapat persiapan bersama Mira. Pria itu mencoba menanyakan kekayaan Aydan. Kaif menjawab informasi keuangan pasangan bukan bahan pembicaraan dan mengembalikan topik ke jadwal.
Aydan berterima kasih, lalu memastikan Kaif gak mengambil alih batas Emilia. Kaif mengatakan Mira yang memimpin; dirinya hanya membantu transportasi.
Beberapa hari sebelum acara, Kaif menerima dokumen evaluasi firma dari calon klien pertama. Dia menyimpannya sampai setelah pernikahan. Belajar menunda pekerjaan demi keluarga menjadi tantangan lain yang gak tercantum dalam laporan CEO.
Dia mematikan notifikasi selama upacara dan menyerahkan urusan darurat kepada Lestari. Firma yang sehat juga harus mampu berjalan ketika pendirinya mengambil satu hari untuk kehidupan pribadi.