Hari turnamen tiba.
Gedung olahraga di Karawang itu sederhana—lampu sorot seadanya, kursi plastik, panggung kayu dengan layar proyektor yang sesekali berkedip. Tapi bagi lima anak dari Cilamaya, tempat itu terasa seperti arena dunia. Mereka mengenakan kaus seragam murah yang dipesan Reza dengan uang tabungannya sendiri—biru, dengan tulisan kecil "RESET" di dada. Nama tim yang Damar usulkan. "Karena kita semua lagi mulai ulang, Coach," katanya. "Termasuk lo."
Ada enam belas tim. Sebagian besar dari kota-kota sekitar, tapi ada juga beberapa tim akademi—tim binaan organisasi besar dengan perlengkapan mahal dan pemain yang sudah digaji. Salah satunya, Reza melihat dengan dada mengencang, membawa logo organisasi tempat Vino bekerja.
Tim RESET memulai dari babak penyisihan. Babak pertama, mereka gugup. Damar terlalu agresif di menit-menit awal, hampir mengulangi kesalahan lamanya. Tapi suara Reza dari pinggir panggung—tenang, tegas, hafal di luar kepala—menahannya.
"Tarik napas. Main kayak latihan. Percaya sama yang di samping lo."
Mereka menang babak pertama. Lalu kedua. Lalu ketiga.
Sesuatu yang ajaib terjadi. Lima ekor kucing liar yang dulu bermain sendiri-sendiri kini bergerak sebagai satu tubuh. Setiap rotasi rapi. Setiap perang tim terkoordinasi. Saat mereka tertinggal di satu pertandingan, mereka tidak panik—mereka melakukan comeback persis seperti yang dilatih Reza ribuan kali, sabar menunggu kesalahan lawan, lalu menghukumnya tanpa ampun.
Penonton mulai memperhatikan. "Tim mana ini?" "Dari Cilamaya? Pelatihnya siapa?" Bisik-bisik mulai menyebar.
Di semifinal, mereka berhadapan dengan tim akademi berlogo organisasi Vino. Tim itu sombong, meremehkan, tertawa saat melihat seragam murah RESET. Pemain bintang mereka bahkan melempar ejekan ke Damar sebelum pertandingan.
Reza mengumpulkan timnya di lorong sebelum naik panggung.
"Dengar," katanya, suaranya rendah tapi membara. "Mereka punya gear mahal. Mereka digaji. Mereka pikir kalian sampah dari kota kecil." Ia menatap satu per satu wajah anak-anaknya. "Tapi mereka nggak punya satu hal yang kalian punya. Mereka main buat kontrak. Kalian main buat sesuatu yang lebih gede. Tunjukin ke mereka, ke gua, dan ke diri kalian sendiri—siapa kalian sebenarnya."
Pertandingan itu menjadi legenda kecil di Karawang.
Tim RESET menumbangkan tim akademi dalam dua game telak. Damar bermain seperti kerasukan, otaknya bekerja secepat Reza di masa jayanya. Di game kedua, ada satu momen—Reza memanggil play berisiko tinggi dari pinggir, sebuah pengorbanan terkalkulasi yang mengingatkan semua orang tua di ruangan itu pada sesuatu yang mereka pernah lihat tiga tahun lalu di final nasional. Tio mengorbankan diri jadi umpan, Gilang melindungi Bayu, dan Bayu menghancurkan markas lawan dalam serangan terakhir.
Stadion kecil itu meledak. Penonton berdiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Reza mendengar suara yang dulu menghidupinya: gemuruh orang-orang yang menyaksikan keindahan permainan. Ia berdiri di pinggir panggung, dada bergetar, mata panas.
Mereka menang final keesokan harinya. Trofi kecil, hadiah lima juta, tapi bagi tim RESET itu adalah dunia.
Di tengah selebrasi, Damar menghampiri Reza, mengangkat trofi kecil itu tinggi-tinggi.
"Babak pertama menang, Coach!" teriaknya. "Sekarang babak selanjutnya!"
Reza tersenyum—senyum tulus yang sudah lama hilang. Tapi di balik kebahagiaan itu, matanya menangkap seseorang di kerumunan. Seorang pria berdiri di pintu keluar gedung, mengawasi mereka. Vino.
Dan pria itu tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita dengan tanda pengenal jurnalis e-sports terkenal sedang mencatat sesuatu, matanya terpaku pada Reza.