Namaku Ambar , usiaku 23 tahun .
Aku sedang mengandung anak pertama, aku tidak sabar ingin sekali bertemu dengan buah hatiku ingin sekali cepat melahirkan.
Hari perkirakan lahir ku 28 januari 2020 , segala sesuatu kebutuhan untuk anak pertamaku sudah ku siapkan .
Ipar ku selalu berkata " Kalo Lahiran normal aja jangan operasi , kalo pagi jalan - jalan aktivitas terus pokoknya jangan tiduran terus.
Kalo lahiran normal gampang , tinggl brojol gak ngeluarin uang banyak . "
Waktu itu tidak aku hiraukan ucapannya, dan dipikiranku selalu lahiran normal tanpa operasi .
Setiap pagi aku jalan kaki , olahraga , beraktivitas yg berkaitan dengan jalan kaki terus .
26 januari 2020 mendekati HPL ku , pagi - pagi aku sudah belanja ke pasar . Karena aku jualan jajanan, sosis goreng dan es.
Awalnya aku mau ke pasar untuk bebelanja, tapi tidak di bolehkan suamiku karena aku sudah hamil besar dan mendekati HPL .
Tapi aku kekeh pergi ke pasar sendiri , entah karena kecapaekan atau melamun aku tidak sengaja menabrak ayam .
Karena aku tinggal di Jawa, aku takut menabrak ayam dengan keadaan hamil .
Aku selalu berfikir positif .
"anakku sehat gapapa, ibu tadi gak sengaja nabrak ayam " ( dalam hatiku )
Sampai di rumah aku cerita dengan suami, suamiku marah .
" Aku kan sudah bilang tadi, jagan ke pasar!!! kamu sudah hamil besar , mau lahiran masih aja pergi2 sendiri " .
Tanggal 27
Malam hari, perutku rasanya kencang . Aku pikir mungkin kecapekan, karena biasanya tiap malam perutku kencang .
Tapi semalaman aku tidak bisa tidur, karena perutku yg rasanya seperti mulas kencangnya semakin terasa .
Waktu itu saya tidak ngeh kalo itu tanda - tanda mau melahirkan .
Akhirnya saya buka HP dan lihat di google tanda - tanda melahirkan .
Karena suami saya kawatir baru pertama kali menghadapi istri yang mau melahirkan, jadi dia menelfon kakak - kakaknya untuk menemaninya .
Akhirnya saya di bawa ke Rumah Sakit , ternyata sampai di rumah sakit selang berapa jam saya di kasih obat pacu.
Tapi ternyata.....
setelah minum obat pacu, sakitnya luar luar biasa. keadaan saya lahir waktu ada corona, Di ruangan IGD hanya suami yang menemani . sempat di larang perawat untuk menemani tapi di perbolehkan .
Jarum jam terus berjalan , tepat pukul 19.30 saya sudah tidak tahan merasakan sakit karena obat pacu .
" Mas saya gak kuat, sakit banget .masih lama ini ??? Sudah bukaan berapa ini??? " Tanyaku
" Sabar dek, sebentar lagi kata perawatnya " jawab suamiku
Karena suamiku gak tega melihat aku kesakitan , dan karena aku tidak bisa menahan sakit dari obat pacu itu aku minta suami agar di operasi saja .
Karena sakitnya luar - luar biasa .
Sebenarnya sudah mau bukaan 9 , suami dan saya minta operasi karena kehabisan tenaga . Banyak cekcok dengan perawat dan dokter .
" Ini mau bukaan 9 lo kok minta operasi, kalo minta operasi ini 50 % kegagalan 50% keberhasilan. Bisa aja yang selamat hanya bayinya ,ibunya gak ada atau malah sebaliknya " kata dokter
Suamiku kekeh minta di operasi karena tidak tega melihat aku kesakitan , dan aku juga setuju jika di operasi.
Akhirnya Operasipun berjalan....
Pukul 21.30
Alhamdulillah aku dan anakku selamat , anaku lahir sempurna tampan.
Setelah 5 hari di rumah sakit , akhirnya aku pulang ke rumah.
Dan 4 hari kemudian aqiqah anakku, aku rasanya sedih sekali. Karena lahiran aku tidak di temani ibukku, ibuku sudah meninggal . Ia meninggal sejak aku umur 2 tahun , dan ayahku menikah lagi di saat aku di rumah sakit dan di rumah sama sekali tidak datang di acara aqiqah anakku . Apalagi kedua mertua ku sudah tidak ada, hatiku semakin sakit , aku rindu sekali sosok ibu.
beberapa hari perban jahitan operasiku di ganti dengan depan rumahku. Kebetulan ia perawat di rumah sakit ,dan dulu juga pernah operasi. Waktu itu perbanku di buka karena mungkin luar kulitnya sudah kering dan bisa mandi.
Tapii........
Semakin hari, lukaku semakin perih.
Ternyata berdarah ,bernanah dan aku alergi dengan benang jahitan . Setiap hari lukaku harus di bersihkan , masa penyembuhannya cukup lama sampai 3 bulan .
Karena setiap luka sebelah kiri sudah sembuh, lobangnya pindah ke tengah. Tengah sudah sembuh pindah ke kanan, aku sangat terpukul karena lukaku tidak kunjung sembuh waktu itu.
Di tambh dengan omongan ipar yang selalu bilang "Kok gak sembuh - sembuh, padahal aku dulu cepet sembuh gak ada seminggu sudah sembuh. Bisa nyuci semuanya , si nia juga sudah sembuh padahal oprasi duluan kamu. Nia pakai Bpjs cepet sembuhnya, kamu gak pakai Bpjs kok lama sembuhnya. Makanya di pakai aktivitas, aneh gak sembuh - sembuh " .
Hatiku sakit di beda - bedakan dengan keadaan dia waktu lahiran sama lahiran orang lain, posisi aku juga tidak ada tempat curhat ke siapapun gak ada yang bisa ngertiin keadaan ku.
Sampai - sampai setiap hari iparku datang ke rumah, selalu membahas tentang orang lain yang cepat sembuh waktu operasi . Aku stress , aku pendam . Hingga aku enggan menyusui anakku, tidak ada yg Support aku sehari - harinya.
Hanya perkataan yang membedakan terus.
Dan berlanjut sampai sekarang , ia sangat suka sekali membeda - bedakan .
Alhamdulillah jahitanku sudah sembuh,dan bisa bermain dengan anakku .