Gadis itu menatap kesana kemari, mencari subjek yang dia inginkan. Tersenyum saat target di temukan, menarik kursi di hadapan Roy yang sedang sibuk dengan koran dan kopi hitam favoritnya.
Namanya-Auristella Grizelle Jovanca yang semakin naik kembali ke awak media. Pencapaian wanita muda ini yang mampu mengelola serta mengatur berdirinya perusahaan Jovanca Groups, Gadis cantik berusia 29 tahun. Yang kerap di sapa Stella.
Kerja keras yang selama ini dia lakukan bukan semata-mata menaikkan nama, dia tidak munafik. Stella menginginkan saham perusahaan hingga 80 persen menjadi miliknya. Mungkin impian ini gila tapi bukan berarti tidak akan bisa dia capai.
"Kakek kapan nama ku akan tercantum di surat pemilik saham tertinggi di perusahaan? Atau setidaknya kedua bagaimana? Itu sudah termasuk kebaikan karna aku sangat menyayangimu" tanya Stella dengan senyum manis yang di akhiri omong kosong.
Merasa terganggu, Roy Jovanca-Kakek Stella berdecak kesal, “Apakah aku harus mengulang nya lagi Stella? Aku tidak akan memberikan hak itu jika kau belum memiliki keturunan. Apa sulitnya? Cari pasangan yang cocok, punya anak. Itu semua akan jatuh ketanganmu”
Stella menghela nafas, mulai merengek, “Ayolah kek, jangan membuat aku melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ada di takdir hidup ku”
“Siapa yang bilang tidak ada? Dari mana kau tau takdir hidup mu? Hanya Tuhan yang tau takdir hidup manusia Stella. Apakah kau sudah bertemu Tuhan sehingga kau mengetahui nya?”
“Yang benar saja, kalau aku sudah bertemu dengan Tuhan itu artinya aku sudah tidak ada lagi di dunia ini kakek”
“Jadi dari mana kau mengetahui nya?” Tanya Roy ingin membuat Stella jengkel.
“Benar begitu kan, lihatlah sekarang saja aku sama sekali tidak memiliki teman kecuali Zac. Dan yang aku dengar, takdir seorang anak akan mirip dengan takdir ibunya. Lagi pun aku sama sekali tidak berminat untuk menikah” celoteh Stella.
“Dasar gadis bodoh, Apa yang kau pikir kan itu tidak benar, kau bisa saja menikah tanpa berteman, caranya yah kakek akan mengenalkan mu dengan beberapa kolega bisnis, dan disini kau akan mendapat keuntungan dua kali lipat. Harta suami adalah harta istri bukan? Bagaimana? Kau setuju Stella?”
Stella mengerucutkan bibirnya kesal, “Itu mah kemauan Kakek, Kan sudah ku katakan kek, aku tidak akan menikah dan tidak akan pernah. Menikah itu tidak ada di daftar prinsip hidupku”
“Jika tidak ada, buat saja agar menjadi ada. Tapi terserah padamu, kau tak menikah artinya kau menolak untuk memiliki keturunan. Kau tidak memiliki hak apapun untuk perusahaan, pikirkanlah sekali lagi, hanya aku dan kau sajalah yang tau secara terbuka berapa keuntungan kita" jelas Roy mengalihkan pandangannya kembali ke koran.
Stella menggeleng tidak setuju,“Kek jika aku tidak punya keturunan sekali pun. Aku bisa saja membagi ilmu ku kepada keturunan Zac”
Roy menggeleng tidak setuju, “Kau mau mengajarkan cucuku impian gila mu itu? Tidak... Tidak...Cukup sudah usiaku yang semakin sedikit akibat tingkah mu, jangan buat anak Zac bertingkah sama seperti mu dan membuat usiaku semakin sedikit dua kali lipat”
Stella mendengus, “Tanpa menikah pun, aku bisa saja memiliki anak. Lihat saja nanti" usul Stella yang tetap tidak di terima Roy.
Roy terkejut, “Aku mau anak yang keluar dari rahim mu. Anak yang memiliki hubungan darah dengan keluarga Jovanca bukan anak sembarangan, Kau mengerti?" tegas Roy.
Stella tampak berfikir, “Baiklah, aku akan punya anak dari rahimku sendiri tanpa menikah” bunyi suara Stella dengan santai.
Reaksi Roy kaget bukan kepalang, cucunya benar-benar gila, “Hey!!! Jangan bertingkah bodoh Stella. Kau--
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk ke ruang keluarga, “Apa yang Ayah dan Stella lakukan disini? Berdebat? Perlu aku ingatkan larangan rumah ini?!" ucap Evi Putri Jovanca-Mama Stella mengingatkan dengan suara garang bak seorang singa yang mengamuk.
“Mama” “Evi" Ucap keduanya bersama.
Saatnya untuk kabur Stella.
Jika kau lebih lama disini,
Telinga mu akan semakin panjang dan berwarna.
Stella melirik arloji mahalnya,“Kek, Ma aku berangkat ke kantor dulu yah. Sudah telat 3 menit" pamit Stella mengambil alih tangan kakek dan ibunya lalu berlari dari wajah garang sang ibu.
Beginilah kehidupan seorang Auristella Grizelle Jovanca, hidupnya terlalu monoton. Tak ada bedanya dengan hari-hari sebelum nya, kalau tidak bekerja, ia akan berdebat dan bertengkar kecil dengan kakek atau dengan Zac.
Diperjalanan menuju kantor ponsel Stella berdering dan bergetar menandakan adanya telepon masuk, dengan terpaksa ia menghentikan mobilnya untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
Drrtt.. Drrrttt.. Drrrttt... Getaran ponsel Stella.
[Halo Zac? Ada apa kau menelepon ku? ]
[Stella kedengaran nya suara mu semakin indah saja. Dan sepertinya suara itu menyerupai wajahmu yang cantik]
[Ayolah Zac cepat katakan ada apa? aku sudah hampir terlambat ke kantor? Tidak penting mendengar bualanmu ]
[Jangan terlalu terburu-buru sayang. Kau adalah Ceo jadi kalau kau terlambat tidak akan ada yang memarahi mu]
[Kau punya masalah apa? Jangan terus-terusan menggoda ku. Tidak bisakah kau to the point saja tanpa menggoda ku? ]
[Ternyata kau peka sayang, aku jadi tambah mencintaimu. Kau membuatku pangling ]
[Sekali lagi kau menggunakan kata itu aku akan menutup telponnya]
[Oh, baiklah tidak lagi aku gunakan. Jadi sebenar nya aku sedang berada di rumah sakit sekarang. Dan aku ingin meminta sedikit bantuan darimu]
[Sedang apa kau disana? Apa kau sudah berubah profesi? ]
[Jangan memotong pembicaraan ku. Jadi Aku juga tidak mengerti mengapa ibu tua ini membawaku kesini. Yang jelas aku merasa sehat dan baik-baik saja. Tapi Nyonya Evi memaksakan Aku kesini ]
Stella teringat bahwa, Zachery Ravindra Jovanca- Sepupu Stella sedang mengalami Influenza dan badannya gampang lemas beberapa hari ini.
Apa mama Eva (Eva Putri Jovanca, kembaran mama Stella) akan memeriksanya? sepertinya seru jika aku ikut. Sesekali terlambat tak apa bukan.
[Please, kau datang kemari HOSPITAL DAMAIN. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu, beritahukan padanya kalau aku tidak sakit]
[Mm... Baiklah]
[Kau memang saudari yang paling baik seantero dunia]
Maafkan aku Zac
Aku tidak niat sama sekali membantu
Tapi berniat mengerjai mu.
***
Sesampainya di rumah sakit, Stella menjumpai mama Eva dan Zac di loby rumah sakit. Beberapa mata mulai mencuri-curi pandang saat dia baru keluar dari mobil. Tidak heran itu terjadi, kecantikannya yang mencolok dan juga namanya yang memang sudah menjadi perbincangan beberapa bulan terakhir.
“Stella? Apa yang membawamu kesini? Apa kau sakit nak?” tanya Mama Eva saat melihat Stella yang sudah mendekati mereka. Ada raut wajah khawatir disana.
Dengan cepat Stella menjawab berupa gelengan kepala, “Stella seratur persen sehat Ma”
“Jangan bilang kau ingin menyelamatkan anak penyakitan ini dari pemeriksaan? Jangan membuat Mama marah Stella”
Zac Tersinggung, “Aku hanya terkena Influenza wahai wanita Tua yang cantik. Jangan berlebihan dengan mengatakan aku penyakitan”
"Apa katamu?!"
“Sudah Mah, jangan marah. Stella datang kesini bukan mau menyelamatkan siapapun Ma, aku hanya ingin menemani saudaraku ini pemeriksaan. Memberinya semangat agar mau hidup sehat,"
“Syukurlah, sekarang coba kau bujuk dia agar mau di periksa. Mama sudah lelah menghadapi nya, sudah jelek, bau, berpenyakitan, keras kepala lagi”
Zac melototkan mata terkejut Mama Eva sungguh tega membullynya,“Mama!” rengeknya bagaikan anak kecil.
Stella tersenyum tipis, “Zac ayo berangkat ke ruang pemeriksaan” rayu Stella.
“Tidak” Namun kedipan mata Stella mampu membuat kaki Zac melangkah masuk ke rumah sakit sampai ke ruang pemeriksaan.
Entah apa yang Zac takuti dari sebuah pemeriksaan. Setiap bulan selalu ada pemeriksaan rutin di kediaman Jovanca, dan saat itu pula Zac selalu menolak diperiksa dengan berbagai alasan.
Sesampainya di depan pintu ruangan dokter pemeriksa, “Ma aku kamar mandi sebentar. Kalian pergilah dulu aku akan menyusul”
“Iya nak, kami menunggu mu di dalam yah”
“Jangan meninggalkan ku bersama penyihir jahat ini. Dia ingin membunuhku" rengek Zac sembari menarik tangan Stella.
Stella menutup mulut nya menahan tawa, “Apa katamu penyihir?! Dasar anak durhaka! Tidak tau diri!” protes Mama Eva dengan tangan kanan yang sudah bertengger manis di telinga kanan Arion.
Stella memeletkan lidahnya “Hahaha... Jangan manja Zac. Aku hanya sebentar "
Zac tetap bersikukuh, “Tidak bisakah nanti saja setelah pemeriksaan ?"
Stella mengeleng, “Tidak bisa Zac. Aku ingin memberitahu sekretaris ku Zac untuk mengatur jadwal pekerjaan ku hari ini. Kau seorang Angkatan Militer tapi takut pemeriksaan. Aneh dimana wibawamu? Tertelan bumi?” berjalan menjahui Zac dan mama Eva.
Stella menutup telepon dan segera menyusul Mama Eva dan Zac, sepertinya pemeriksaan baru saja selesai saat dia masuk. Dengan tangkapan matanya yang melihat Zac keluar dari ranjang pasien.
“Jadi, bagaimana keadaan anak berpenyakitan ini dokter?" tanya Mama Eva bertepatan saat Stella masuk.
“Tuan Zachery hanya terkena influenza. Ini biasa terjadi jika kekebalan tubuh manusia sedang lemah. Sebaiknya Tuan Zachery lebih memperhatikan pola makan dan istirahat yang cukup"
“Apa tidak ada obat yang dapat memperkuat kekebalan tubuh dokter?" Tanya Mama Eva.
Dokter pria itu mengangguk, “Saya akan resep kan vitamin supaya tubuh tetap fit, tapi untuk hari ini saya suntik saja”
Zac berdecak kesal dan menggeleng keras, “Tid-tidak!!!" perintah sekaligus teriakan Zac dengan suara bariton.
“Tidak. Jangan dengarkan dia dokter, ayo cepat suntik dia" suruh Stella kegirangan.
Namun dalam beberapa detik kemudian ia kembali menunjukkan wajah datarnya, saat Dokter itu menatap wajah Stella kagum. Terlebih lagi penampilan Stella kali ini sangat formal sehingga tampak elegan.
Zac terus menggeleng, “Stella! Ini bukan tujuanmu datang kemari. Kau menipuku! ”
“Aaakkkhhh...” teriak Zac pada saat jarum kecil itu memasuki lengannya. Yang berhasil membuat Stella tersentak sedikit kaget.
“Apa sakit sekali? Atau kau yang melakukan majas Hiperbola?”
Zac berdecak kesal, “Ini benar-benar sakit kau saja yang tidak merasakannya”
“Benarkah? Ingin bertukar lengan? Aku rela jika kau mau” ucap Stella di akhiri kekehan kecil.
Zac menggeleng, “Tidak. lengan kecil seperti itu tidak akan kuat mengangkat senjata”