Aku berlari keluar dari lapangan dan meraih handuk yang tergantung di sandaran bangku panjang di dekat tasku. Menyeka keringat di keningku, aku mengatur napas yang terengah setelah bermain bola.
"Riya." aku berbalik. Segera mengulurkan tangan dan menangkap botol minum berisi air yang baru saja dilemparkan oleh Ian. Dia berjalan ke arahku sambil membawa sebotol lagi di tangan kanannya.
"Terimakasih." kataku sambil mengangkat botol minum di tanganku. Aku membuka tutup botol tersebut kemudian menenggak isinya hingga hanya tersisa setengah. Sangat menyegarkan.
Aku melirik ke arah lapangan, dan melihat masih ada beberapa siswa yang berlari-lari kecil di tengah lapangan. Ada juga yang sedang melakukan pendinginan, namun sebagian besar dari mereka melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. Beristirahat. Aku mengibas-kibaskan kaus yang kupakai untuk menghilangkan rasa gerah di tubuhku. Meskipun hal itu tidak banyak membantu, tapi setidaknya sedikit memberikan kesejukan.
"Sinar tidak datang?" Ian bertanya. Aku menggeleng masih sambil mengibas-kibaskan kaus bolaku.
"Dia harus mengantar ibunya ke dokter." aku menjawab. Ian mengangguk-anggukkan kepala dengan jawabanku.
Aku meraih tasku dan membukanya kemudian mengambil ponselku. Aku mengerutkan kening saat melihat pada layar.
Dua puluh panggilan tak terjawab dari ibu.
Kenapa ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari ibuku? Apakah ada hal penting? Atau ada hal darurat yang terjadi? Baru saja aku akan menelepon balik ibuku, ponselku kembali berdering. Tertera nama ibuku disana.
"Ya, Ibu? Ada apa?"
Aku memasang telinga baik-baik dan mendengarkan ibuku. Seketika tubuhku membeku. Tanpa sadar ponsel di tanganku lepas dan terjatuh.
"Hei."
Aku tersadar saat Ian menepuk lenganku. Dia mengulurkan ponsel yang tanpa sadar kujatuhkan tadi. Beruntung, Ian bergerak sigap dan segera menangkap ponselku, hingga tidak jatuh ke tanah.
"Apa yang terjadi, Bung?" Ian bertanya bingung.
"Sinar...." aku bergumam.
Setelah kesadaranku kembali, barulah aku bisa mencerna segalanya. Perasaan panik seketika menguasai hatiku. Disertai oleh rasa khawatir dan juga takut. Keringat dingin membanjiri tubuhku dan tanganku gemetar.
"Ada apa dengan Sinar?" Ian kembali bertanya.
Aku segera meraih ponsel dan tasku, lalu berlari meninggalkan lapangan bola. Bisa kudengar suara Ian yang berteriak memanggilku, tapi aku tak peduli. Saat ini aku benar-benar tidak bisa berpikir. Yang ada di pikiranku hanya ada satu nama.
"Riya, Sinar kecelakaan."
Begitulah yang ibuku katakan ditelepon. Hanya satu kalimat. Tapi mampu membuat duniaku seolah terbalik hingga 180 derajat. Aku berlari secepat kilat menuju tempat parkir. Aku segera menghidupkan motorku dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang disebutkan oleh ibuku ditelepon.
Tuhan. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya. Rasanya baru beberapa waktu yang lalu kami berbincang dan aku melihatnya tersenyum riang sebelum akhirnya dia pergi karena harus menemani ibunya ke dokter. Tapi sekarang aku mendengar bahwa dia di rumah sakit karena kecelakaan. Tidak. Sinar pasti baik-baik saja.
***