Dihirup hangat ekstra rasa gurih yang sedap. Paduan kaldu dan irisan iga sapi empuk dididihkan dengan campuran tumisan bumbu bawang putih halus, pala, merica bubuk dan garam dalam panci masak sang Koki berpengalaman. dimasak bersama menggunakan api kompor yang kecil. Aroma lemak daging sapi berkurang karena menambahkan selembar daun salam saat merebus kaldunya. Kuah menjadi bening karena bersih dari lemak dan buih dari sisa air rebusan daging sebelumnya. Terakhir dilengkapi dengan irisan wortel, kentang, tomat dan daun bawang lalu dimasukkan ke dalam masakan yang masih dipanasi. Sungguh kombinasi nikmat yang tiada tandingan tersaji di dapur rumah Lisa, malam-malam. Bagaimana ia akan menghabiskan satu mangkuk porsi sup iga buatan pak Tomo tersebut? Lidah dan perut Lisa sudah penuh dengan rasa ayam. Kalau dipanaskan lagi untuk sarapan besok, apa masih seenak dan sesegar bila dimakan saat ini juga? Vina dan Desi yang telah membawakannya tidak mau ditawari, kata mereka sudah ikut mencicipi di resto Amanda sore tadi.
Tiba-tiba ada lagi tamu yang mengetuk pintu depan rumah Lisa. Tapi yang terakhir ini suara ketukannya terdengar begitu lemah.
“Siapa?” tanya Lisa terdengar keras dari dalam ruangan.
Tiada jawaban, hanya terus mengetuk daun pintu di sana berulang-ulang.
“Sebentar!” kata Lisa lalu berjalan pelan-pelan menuju ke depan.
Belum juga genap sehari pulang ke rumah sendiri, Lisa sudah kedatangan tamu-tamu tak diundang dengan beragam karakter dan kesan pribadi. Kali ini siapa lagi? Semoga menjadi orang terakhir yang berkunjung malam ini. Lisa sudah lelah dan ingin beristirahat juga. Obat dari rumah sakit bahkan sampai lupa ia taruh di mana.
Lisa membuka pintu. Ternyata orang gila yang pernah meminta dinyalakan api puntung rokoknya oleh Niko pada berminggu-minggu silam. Sekarang, sosok tidak waras itu malah mendatangi langsung ke rumah Lisa ingin meminta sesuatu.
“Ma, kan!” lisannya berharap diberi makan.
Langsung teringat akan sup iganya, Lisa masuk ke dalam dengan mengunci pintu terlebih dahulu. Ia memindahkan semangkuk sup iga daging sapi ke dalam rantang plastik. Lisa tambahkan nasi pada susunan rantang di atasnya. Kemudian cepat-cepat, ia keluar lagi menemui orang gila itu jika masih berada di depan rumah. Lisa sempat dibuat bingung dan mencarinya. Ternyata dia duduk berjongkok di bahu jalan sekitar rumah tetangga sebelah kiri Lisa. Setelah dihampiri, wanita tersebut lantas memberikan rantang susun 2 miliknya dan menyuruh makan di tempat lain. Pria dengan rambut kusut berbulan-bulan itu, untungnya mau menurut perintah Lisa. Dia lalu pergi sambil berlari cepat dengan ekspresi wajah berlebihan seperti orang waras kalau dikejar-kejar makhluk tak kasat mata.
“hi! hi! hi!” Dia bergaya takut-takut namun sesekali mengecek isi rantang yang dibawa, terus mengamankan barang berharga di balik jaketnya.
Satu masalah baru teratasi dengan mudah. Lisa menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sebab berantakan tertiup angin malam dari laju kendaraan tang baru saja lewat. Kemudian ia hendak berbalik masuk ke dalam rumah. Ketika kaki baru menyerong ke arah kiri, dari kejauhan Lisa melihat Ervan yang baru pulang berjalan kaki. Pria itu tidak membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di badan. Lisa bisa mengenalinya di bawah pancaran cahaya lampu tiang jalanan. Kini Ervan melangkah ke dalam pekarangan yang sempit. Hingga menyala terang sebuah bohlam pada tembok teras depan kediamannya. Namun dalam keadaan itu, Lisa justru tak bisa melihat lagi saat Ervan membuka pintu dan memasuki rumah. Lisa merenung sejenak. Sehari penuh Ervan pergi padahal sudah tidak bekerja di Amanda’s resto lagi.
“Apa Ervan seharian mencari lowongan pekerjaan di tempat lain? Tapi jika dinilai dari penampilan seperti tadi, layaknya seorang anak muda yang baru pulang nongkrong bersama kawan-kawan.” pikir si Lisa.
Meski pada akhirnya Lisa bisa lebih mudah berjaga jarak sebab tidak satu lingkungan tempat kerja, jujur ia juga mengkhawatirkan keadaan Ervan selanjutnya. Semoga saja kehidupan pria yang juga tinggal sendirian di rumah sana, akan menjadi lebih baik setelah jauh dari Lisa. Gadis itu lalu kembali lagi ke kamarnya. Dipandangi dua lembar sketsa yang sudah tergantung kembali pada dinding bercat merah muda. Entah mengapa, seketika Lisa mengira bahwa Ervan hanya akan menghindar ataupun menghilang untuk sementara waktu saja. Dia pasti akan kembali lagi dengan cara tak diketahui.
Pagi-pagi sekitar pukul 6, beberapa pria berpakaian preman menghadang jalan masuk ke halaman dan pintu depan rumah Ervan. Mereka mengaku polisi tapi tidak bersedia menunjukkan Kartu Tanda Anggota. Pak RT setempat yang telah mendapat laporan dari tetangga Ervan karena mencurigai gelagat orang-orang asing tersebut, sempat cekcok pula dengan seorang anggota berambut gondrong. Para tamu itu tidak minta izin apalagi mau terbuka soal aksi yang dilakukan kepada salah seorang warganya.
Tidak banyak membuang waktu, setelah tahu bahwa sang Penghuni rumah tidak ada di dalam mereka langsung memutuskan untuk pergi.
“Terima kasih, pak RT!” ucap pria tertua yang memimpin tindakan tak beretika ini.
Keempatnya meninggalkan lokasi termasuk RT setempat yang menjadi lebih mawas diri. Ia tengok pintu rumah nak Ervan tadi ditutup kembali tanpa dikunci. Jadi, pak RT berpikir sebagian dari mereka yang masuk ke dalam rumah, sudah saling bertemu dengan Ervan. Namun sebuah anggapan sederhana tersebut ternyata salah besar. Ervan kini justru sedang bersembunyi di rooftop yang mana hanya dia satu-satunya sebagai pemilik rumah memiliki akses untuk membuka jalan, masuk dan mengunci. Dari atas bangunannya, Ervan mengawasi orang-orang suruhan yang bergerak menuju sebuah mobil minibus berkapasitas 7-8 orang. Rupanya di balik pagar tembok berjarak dua rumah dari tempat Ervan, rombongan berjaket hitam-hitam memarkirkan kendaraan. Dengan percaya diri Ervan sudah bisa menebak siapa yang menjadi dalang pengerahan.
Sementara pagi itu, Lisa benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi di kompleks tempat tinggalnya. Ia baru sibuk membuat menu sarapan roti kemudian membereskan seluruh bagian rumah sebelum Vina dan Desi datang nanti siang. Pun kalau malamnya dua sahabat karib itu jadi menginap, maka harus menyiapkan satu kasur lipat untuk salah satu terpaksa tidur di lantai.
Lisa mengambil secangkir teh hijau yang dikonsumsinya setiap selesai sarapan. Seduhan daun teh hijau murni itu, enak dan khasiatnya bila diminum hangat-hangat. Lisa menikmati sambil duduk santai di balik kaca jendela kamar dengan tirai disibakkan. Muncul satu ekor capung lebah garis kuning yang hinggap di pagar balkon. Lalu tiba-tiba muncul dalam jumlah begitu banyak, terbang bebas melampaui jangkauan penglihatan. Lisa sampai dibuat kagum, dari manakah asalnya! Menurut Lisa, lingkungan kota di sini tidak cukup asri untuk jenis serangga itu hidup dan berkembang biak dengan baik. Akan tetapi ia sangat bersyukur bisa merasakan sensasi kebahagiaan ketika menyaksikan bagian dari keindahan spesies musiman dari dalam kamarnya sendiri.
---
Cangkir yang sudah kosong ditinggal begitu saja di atas kursi. Lisa keluar menuruni tangga bertujuan mengaduk nasi di dalam rice cooker agar tidak padat dan menggumpal, setelah didiamkan matang selama lebih dari lima menit. Takarannya sudah dikira-kira pas untuk Lisa, Vina juga Desi makan siang nanti. Ponsel milik Lisa berbunyi. Saat diambil, sebuah panggilan tak terjawab dari Ervan. Lisa mencoba tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting.
Belum sempat mengalihkan ke layar utama, ponsel pintar itu lekas bergetar lagi. Kali ini sebuah pesan masuk dari Vina kalau mereka akan sampai lebih awal. Mendapati kabar terbaru dari teman, Lisa buru-buru mengambil handuk dan pakaian ganti. Tidak terpikir sebelum ini, kalau direka ulang semakin terampil saja Lisa memanfaatkan kruknya sambil melakukan aktivitas sehari-hari.
Menjelang siang, Vina dan Desi telah sampai di dapur Lisa.
“Sup iga lagi?” keluh Lisa ketika Desi menunjukkan dua rantang berisi masakan buatan ibundanya.
“Tapi ini rasanya pasti berbeda dengan masakan pak Tomo kemarin. Tak sebatas masakan rumahan biasa, tapi aku jamin tetap lezat dan bersahabat di lidah. Meskipun aku belum mencicipinya, sih!” kata Desi.
“Iya, enggak apa-apa kok Des! Terima kasih sudah mau repot-repot membawakan makanan kemari. Sampaikan salam dan ucapan terima kasihku juga untuk ibumu!” ucap si Lisa dengan kerendahan hati.
“Oke!” ringan sekali Desi menanggapi.
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Vina bertanya perihal Ervan kepada Lisa.
“Ervan rumahnya yang sebelah mana, Sa? Sebelum sampai ke rumahmu!”
“Itu Vin, yang ada mobil pengangkut barang di jalan depan rumah tadi!” jawab si Desi.
“Yang kamu bilang, kayaknya mau pindahan itu?” pertegas Vina.
Desi mengangguk, membenarkan.
“Pindah?” terkejut Lisa.
“Kelihatannya sih begitu. Tapi kami juga tidak tahu pasti. Kami tidak bertemu dengan Ervan. Memangnya kamu tidak tahu?” heran si Casilda Yavina.
Lisa menggeleng, membenarkan. Sedangkan Desi segera memaksa sahabat-sahabatnya untuk merasakan masakan ibunda dan menghabiskan mumpung masih cukup panas. Namun Lisa masih dalam rasa penasaran. Benarkah Ervan akan pindah? Apa hanya dengan cara seperti itu ia menghindari Lisa?
Di sela-sela acara makan, Vina bertanya lagi kepada Lisa.
“Rencana kamu mau masuk kerja lagi kapan, Sa?”
Lisa pun menjawab, “Ehm, mungkin Senin depan!”
“Masih seminggu lagi, dong!” reaksi Desi.
“Kedai makan rasanya sangat sepi. Tidak ada kamu, sekarang ditambah giliran Ervan. Ya... meski dia kerjanya cuma di dalam dapur terus-terusan, tapi paling tidak kehadiran satu orang cowok saja bisa ikut meramaikan suasana saat senggang.” ujar Desi selanjutnya.
Vina juga mengutarakan isi hatinya yang terpendam. “Awalnya aku tidak percaya kalau Ervan bisa sengaja melakukan kesalahan fatal. Membuat makanan “beracun” untuk pengunjung resto. Aku ingin membelanya tapi dia malah langsung mengakui perbuatan yang tidak bisa dianggap sepele itu. Aku jadi ingin marah-marah dibuatnya. Tapi bos Amanda yang lebih berhak untuk memarahi karyawan seperti kita. Apa Ervan tidak berpikir dulu sebelum bertindak? Memang resto itu miliknya, sampai dia berani melakukan suatu hal dengan seenaknya!”
“Sudahlah, Vin! Tidak perlu marah lagi. Ervan juga sudah dipecat. Kurasa kita tidak perlu membicarakan keburukannya di belakang seperti ini.” tutur si Lisa.
Vina mengelola fakta yang ada. “Tapi dia tidak mau meminta maaf, Sa! Terutama kepada kita sebagai sesama rekan kerja di sana. Sekarang nama resto sedang dipertaruhkan dengan penuh perhitungan. Orang-orang terlalu ragu untuk datang. Kita berada di ujung tanduk. Amanda’s resto benar-benar kehilangan pembeli!” geram dan gerutu Vina sebab sehari kemarin kedai makan tidak mendapatkan kunjungan selain si Korban keracunan.
Desi cepat menawarkan minum kepada Vina yang baru curhat dengan gaya yang berlebihan.
“Untung tadi kita tidak bertemu. Kalau sampai aku berpapasan dengan dia, sudah aku botaki itu rambutnya!” gerah si Vina.
Desi lebih cepat lagi menawarkan minum kepada Vina yang tidak reda-reda marahnya.
“Asin! Minuman apa ini?” sontak si Casilda.
Desi menggeleng-geleng dengan ekspresi wajah iseng. Dia tidak mau mengatakan rahasianya yang telah dilihat sendiri oleh Lisa.