Pukul 9 pagi, gelak komedi dari teman lama bos Amanda terus saja menggema dari ruangan atas. Vina dan Desi hanya sanggup menyumbat lubang telinganya dengan earphone bluetooth yang disambungkan dengan gadget milik si Desi. Sayang, semua daftar putar hanya berisi lagu-lagu dari boyband dan girlband yang digemari. Vina sebenarnya tidak suka, namun tak punya pilihan lagu lain jua pada ponsel pintarnya. Ia mengaku tak punya lagu favorit di muka bumi ini. Daripada si Vina harus mendengar bahan guyonan ibu-ibu sosialita, masih bisalah menoleransi suara sumbang Desi yang mendendangkan lirik berbahasa korea walau sama sekali tidak tahu artinya. Tatkala dalam satu jam kosong itu, pak Tomo juga menikmati selera musiknya sendiri bersama radio usang sejak zaman resto ini berwujud toko roti. Sang Koki terlatih menyiapkan seluruh bahan masakan di dapur dengan irama Cha-cha-cha dari era 50an.
“Ini tidak bisa dibiarkan lagi!” kesal Vina.
Dilemparkan dua buah bentuk penyumbat telinga itu asal-asalan. Hingga barang yang bukan miliknya sampai menancap pada dekorasi berbahan lentur dan lunak. Mozaik foto es krim Dondurma besar di atas cone bos Amanda yang dapat kesempatan liburan gratis ke Turki tersebut, kini mendapat bonus topping sepasang penyuara kuping berwarna biru nan menghiasi warna dari campuran vanila dan s**u. Vina lantas berjalan bak tentara wanita yang baris-berbaris mendaki anak tangga ke lantai dua yang membelok. Seakan-akan menghadapi tantangan menyeberangi jembatan gantung sambil dilempari bola yang meluncur dari laras meriam mainan, melewati “jurang Gibraltar”. Vina berusaha menghindari setiap bola rintangan yang datang dengan meliukkan badannya ke kiri dan ke kanan. Namun tetap saja bagian belakang kepala Vina selalu saja terkena lemparan. Tidak sakit namun sangat mengganggu. Mengapa bisa terjadi, bukankah ini hanya imajinasi?
Ternyata Desi sedang begitu sengit mendaratkan lontaran sticky ball ke arah Vina dari bawah tangga. Dia meminjam dari seorang anak kecil, pengunjung yang baru tiba bersama sang Ibu. Desi sebal karena Vina tadi membuang earphone yang dipinjamkannya dengan sembarangan.
“Barang itu milikku! Milikku!” dorongan kekuatan Desi di dalam hati.
Ia pun hanya bersikap malu-malu kucing ketika Vina memergoki aksinya. Selepas itu, si Pelayan kedai makan meneruskan cara berjalan dengan normal. Diketuklah pintu di ruangan lantai dua dengan ketukan yang damai dan sopan. Suara tawa lepas dari dua orang wanita dewasa di dalam sana, masih terus didengar Vina sampai sekarang.
“Masuk!” persilakan nyonya Amanda.
“Ada apa Vina?” tanya beliau secara langsung.
Vina mengutarakan maksud dengan memutar-mutar alasan. “Begini, resto kan sudah buka dari satu jam yang lalu. Tadi di bawah juga sudah ada pengunjung yang datang. Apa nyonya Amanda tidak mau mengawasi kami saat bekerja?”
Bos Amanda itu secepat kilat menepukkan telapak tangannya ke atas meja. “Apa yang dikatakan pegawaiku memang benar! Aku harus bekerja ekstra mengawasi kinerja mereka di resto terkenal yang aku kelola. Raina! Bisakah kamu masuk ke ruang dapur sekarang?” pintanya seraya meninggikan hati kepada tamu yang duduk dengan menyilangkan pergelangan kaki pada sofa pribadi Amanda pertiwi.
“Tentu!” jawab ibu Raina, teman karib nyonya Amanda yang juga berstatus janda.
Mulai hari ini, bu Raina akan berperan sebagai koki nomor dua di dapur Amanda’s resto. Awalnya beliau tidak bersedia jika kedudukannya di sini hanya sebagai pengganti asisten juru masak sebelumnya. Wanita 39 tahun tersebut memiliki watak yang kuat namun keras kepala. Meski secara de jure adalah pegawai Amanda, akan tetapi ia sama sekali tidak mau diatur oleh siapa pun termasuk kawan lamanya tersebut. Nyonya Amanda tidak bisa menghindari dualisme kepemimpinan yang ditimbulkan. Sebab mereka berdua terlanjur meneken kerja sama di atas kertas bermeterai Rp 10.000. Kalau sampai Bos memutuskan hubungan kerja terlebih dulu, maka dia harus membayar uang ganti rugi yang telah disepakati.
Meskipun suka mendadak galak dengan yang lain tapi nyonya Raina sangat lembut dan berbicara sopan kepada pak Tomo. Keduanya mampu bekerja sama dengan apik selaku juru masak berpengalaman. Pada perkumpulan pertama, selalu muncul kebiasaan nyonya Amanda yang bangga memperkenalkan nama-nama karyawannya satu per satu. Mulai dari pak Tomo yang tertua, kemudian Vina baru Desi. Tentu ekspresi ramah dan gembira nian harus melekat erat pada wajah-wajah mereka semua yang bertegur sapa. Kesan yang hangat dibuat-buat hingga masa yang penuh genre potongan kehidupan pun tiba. Ini kejadiannya pada saat semua orang memanfaatkan waktu selanya untuk bersantai sebelum kehadiran para pengunjung sore.
“Il più delizioso! Numero uno, due, tre, ...” bicara chef Raina seorang diri sambil menunjuk piring-piring saji.
Amanda yang penasaran masuk ke dalam dapur seketika membelalak karena koki barunya meracik masakan mewah di luar menu. Bahkan di saat tidak ada satu pesanan masuk. “Rai! What did you do? Tak ada pengunjung di depan. Mengapa kamu masak macam-macam begini?” begitu berang keheranannya.
“La signora Amanda, kamu sebaiknya menguji coba resep dariku ini! Semua harus dimasukkan ke daftar menu resto yang baru.” kata Raina dengan bangga mempersembahkan resep berharganya karena pernah menjadi salah satu koki restoran di Italia.
“Tapi, dari mana kamu dapatkan bahan-bahan premium ini?” tunjuk bos Amanda pada bahan masakan mentah juga seasoning yang tersedia di atas meja racik.
Raina coba mengondisikan rasa gusar sang Atasan. “Oke! Biar aku jelaskan dari awal. Dalam kontrak tertulis kalau aku akan memasak apa saja di sini yang aku bisa. Semua bahan, kau yang tanggung. Jadi kemarin aku sudah pesan semua bahan baru yang kemungkinan besar tidak ada dalam daftar persediaan di sini. Faktur pembeliannya nanti dikirimkan sekalian sama jamur truffle yang aku pesan paling akhir.”
“Ja, jaja, ja, jamur truffle? Bagaimana kamu tega memesan bahan yang harga per 450 gramnya saja menghabiskan uang jutaan? Perhitungan omset bulan ini bisa jadi meleset ini!” geram nyonya Amanda lalu dengan berlebihan mengambil kalkulator dari saku outer pakaian, hingga dilema menghitung ulang angka-angka yang diingat.
Tak lama kemudian Bos tersebut baru tersadar. “Terus, siapa pengunjung yang mau menerima pesanan menu seperti ini?” tanya Amanda kepada pegawai wanita yang belum sehari penuh bekerja di tempatnya.
“Nanti..,” ucap Raina.
“Nanti..,” Amanda mengulangi.
“Nanti pasti ada yang mau memakannya!” optimis si koki Raina.
Nyonya Amanda terjengkang karena terlalu memperhatikan kalimat yang dilanjutkan. “Raina, ini bukan masalah yang mau makan atau icip-icip saja! Aku bertanya siapa yang mau membayar makanan yang tidak terdapat pada menu? Berapa pula harga yang akan dipatok untuk kelima jenis masakan Itali di kedai makan kecil ini? Amanda’s resto cepat populer karena harga makanannya bersahabat juga rasa olahan yang tak kalah dari Barat!” unggul sang Pemilik kedai.
“No! Tidak, tidak, tidak! Aku yakin resep temuanku ini pasti ada yang berani mencoba dan membayarnya. Kalau masalah harga seporsi, menurut saya masih ramahlah di kantong! Begitu kan, pak Tomo?.” tutur lembut Raina.
Pak Tomo sebisanya hanya menunjukkan sikap takzim dan tersenyum ikhlas memberikan apresiasi. Sementara bos Amanda terpaksa harus menerima risiko ini sebab kalau tidak, ia bakal membayar dalam nominal yang lebih besar lagi. Vina dan Desi saling bertukar pandang di muka pintu dapur yang setengah terbuka. Mereka menyaksikan bagaimana nyonya Amanda menjadi tak berdaya menghadapi mitra kerjanya meski merupakan kawan lama. Padahal selama ini yang kita tahu, nyonya Amanda adalah the one and only wanita paling berkuasa di perkedaian tanah ini. Apa-apa dilaksanakan sesuai selera, pemikiran dan tak pernah luput pula dari perhitungan ekonomisnya. Setelah keramaian di dalam dapur itu meredam, kedua pegawai termuda yang mengintip lalu menutup rapat pintu dan berbalik menuju meja kasir tanpa penunggu.
Desi duduk kembali di kursi ‘panasnya’, tak lupa pula merapikan rambut serta riasan dengan cermin kecil yang bisa dibawa ke mana-mana. Selagi demikian, Vina malah menyinggung obrolan baru tentang bu Raina.
“Des! Kamu yakin kedai makan ini ke depannya akan berjalan dengan lancar?” ujar si Vina.
“Aku sih, yakin-yakin saja!” enteng Desi.
Namun sang rekan kerja di sisinya tetap meyakini alangkah baiknya jika pengganti Ervan itu bukan kenalan dekat bos Amanda.
“Bagaimana kalau kita bantu carikan orang baru?” usul Vina.
Desi bertanya walau tak kedengarannya tak terlalu heran. “Kenapa?”
“Mereka itu tidak cocok kalau jadi partner kerja. Bakal berseberangan terus! Sekarang nyonya Amanda masih tahan menanggapi perilaku bu Raina di dapur karena baru masuk satu hari. Besok? Aku tidak sanggup bila resto ini malah jadi ajang permainan mesin Rodeo. Gerakannya sih gesit, tapi posisi hanya mentok di situ-situ saja untuk menjatuhkan orang yang berusaha keras menguasai. Bisa-bisa nyonya Amanda sebagai owner pada akhirnya justru didepak sebab jatuh alias bangkrut.” Intuisi Vina berbicara.
“Biasa saja, Vin! Kamu terlalu melebih-lebihkan suasana. Bu Amanda dan bu Raina berdebat, juga cuma butuh waktu yang sebentar!” jawab si Desi.
“Hahaha!” suara tawa bos Amanda dan nyonya Raina dari arah dapur.
“Tuh, dengar!” pertanda dari Desi.
Vina tetap meragukan keadaan sekarang akan terus membaik atau tidak. Namun yang jelas, dia merindukan Lisa hadir di tengah-tengah mereka. Biasanya Lisa punya ide yang lebih mendekatkan pada jalan keluar buat kebaikan bersama. Selang waktu sehari lagi, bila Lisa sudah siap masuk kerja mengisi jadwal pada akhir pekan. Walau rekan-rekannya tidak bisa serta-merta mengharapkan kinerja Lisa secara maksimal. Pasti kecepatan dan keuletannya juga dikurangi pasca kecelakaan. Vina pun terduduk pasrah di bangku kayu bersampingan dengan Desi. Belum pernah pelayan resto satu itu tampak begitu prihatin tanpa perlawanan, melihat kondisi di tempat kerja ini.
Selagi Vina melamun, ada satu pengunjung yang datang mendekati meja kasir. Memesan satu meja kosong berikut makanan dan minuman plus paket lengkap. Paket lengkap di sini berarti menu makanannya ingin ditambah pakai nasi panas dan minuman pesanannya ditambah lagi segelas air putih. Suatu pesanan dalam porsi besar bagi seorang pria tampan, kelihatannya mapan, tapi ternyata lebih layak disebut Paman.
“Bagaimana kamu bisa tahu, Vina!” terkejut Desi.
“Paman itu adalah tetanggaku!” ujar si Vina.
Paman 45 tahun tersebut tinggal di perumahan dekat tempat Vina ngekos. Beliau lalu dipersilakan duduk sambil menunggu, sedangkan Vina beralih memberikan catatan pesanan kepada koki-koki di dapur sana. Mengetahui pesanan paket komplit itu, nyonya Amanda bertanya-tanya kepada koki Raina. Apakah kelima jenis masakan barunya ingin ditawarkan ke pengunjung yang sekarang? Jika dinilai dari porsi pesanan yang dituliskan oleh Desi, sepertinya pengunjung satu ini sedang merasa benar-benar haus dan lapar. Jadi tak masalah apabila Amanda berpikir orang tersebut punya banyak uang di dompetnya guna membayar semua hidangan spesial.
“Tadi yang pesan kelihatan orang kaya, kantoran, pengusaha, pengacara atau bagaimana?” telisik bu Amanda.
“Setahu saya, Paman itu bekerja di kantor Direktorat Jenderal Pajak.” ungkap Yavina.
“Pas kalau begitu! Vina, kita sajikan menu-menu ini ke atas mejanya.” perintah bos Amanda.
“Tapi, pesanannya tadi ...!“ bela Vina namun kalah suara.
Dua karib, Amanda dan Raina tetap memaksa dan mendorong Vina agar keluar bersama kelima menu teranyar itu dengan menggunakan troli pengantar makanan. Sang Tamu lantas bertanya saat Vina berhenti di hadapan nomor mejanya.
“Lho! Saya tidak pesan semua ini!” kata si Paman.
“Iya, tapi...” Vina ingin membela tapi gagal lagi.
Seketika bos Amanda muncul dan memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ia katakan bahwa Amanda’s resto sengaja ingin mempromosikan menu andalan terbarunya.
“Kalau seperti itu, berarti saya mendapat potongan harga juga sebagai seorang Tester?” senang si Pengunjung tersebut.
Nyonya Amanda mulai menaikkan tinggi-tinggi kedua alis beserta kelopak matanya yang panjang tetapi tidak lentik bila dipandang. “Tentu! Haha! Tentu, Pak! Silakan!” sambut ia berpura-pura berbuat derma.
“Discount?” gumam lirih sang Pemilik resto.
Akhirnya kelima hidangan kreasi masakan dari Itali oleh koki Raina, dapat tersaji di peralatan makan seorang penikmat. Juru masak wanita yang hanya bisa mendengar kabar dari dapur, turut merasa puas dan bahagia walau tak tahu seperti apa reaksi orang yang memakannya. Hingga sajian edisi terbatas tersebut habis, dengan sabar nyonya Amanda menantikan berapa banyaknya uang yang bisa dihasilkan dari satu orang pengunjung saja. Merah-merah lembaran uang yang dikeluarkan dari dompet si Paman, lalu masuk dan tersimpan dengan aman di dalam rak mesin kasir itu. Lega rasa di hati Amanda, meski masih menaksir kerugian akibat potongan harga untuk setiap porsinya.
Bilamana pengunjung yang baik hati itu hendak pergi,
“Roy!” panggil Raina tiba-tiba.
Paman tetangga Vina tersebut langsung berbalik karena mengenali suaranya. “Nana?” sebut Ia.
“Nana?” heran Desi yang berdiri tegak di posisi kasir.
Nana adalah nama panggilan sayang bu Raina oleh pacar pertamanya.
“Mereka berdua saling mengenal?” batin Vina ingin tahu.
Tetiba, si Nyonya Raina berucap syukur sebab bisa bertemu dengan cinta pertamanya dahulu. Roy dan Raina berpisah lama karena menikah dengan pasangan yang dijodohkan oleh keluarga masing-masing. Raina merasa sangat terharu. Firasatnya dengan mengambil pekerjaan sementara sebagai koki resto milik Amanda di distrik ini, telah mempertemukan ia kembali dengan tambatan hati baru meski orang menyebutnya cinta lama bersemi kembali.
Seketika pula, Raina merobek sendiri surat kontrak kerja yang ditandatanganinya dengan bos Amanda. Dia bilang, teman satu almamaternya itu tak akan pernah dimintai uang ganti rugi. Nyonya Raina akan menanggung biaya tagihan yang baru saja diterima. Jamur truffle dan sisa-sisa bahan tetap akan disimpan di lemari pendingin Amanda’s resto. Kini semua dianggap impas. Nyonya Raina lantas pergi dengan seorang duda yang berbahagia. Keduanya telah menuangkan kata-kata cinta yang pernah dipatahkan oleh takdir dan perceraian. Namun akhirnya cinta sejati mereka kembali bersatu dalam pertemuan di kedai makan milik kawan.
Orang-orang resto sampai bengong. Vina, Desi termasuk pak Tomo tidak mengerti terhadap fenomena ajaib yang terjadi begitu saja dalam waktu hitungan menit.
“Tidak...!” jerit nyonya Amanda yang harus kehilangan pegawai barunya lagi dan lagi.