Langkah roda mobil SUV hitam milik Arya berhenti mulus di depan pelataran rumah sederhana berpagar besi hijau yang agak berkarat. Di dalam mobil, Binar meremas jemarinya yang dingin. Wajahnya pucat pasi, membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya saat mendapati seorang pria asing, berpenampilan sangat mapan dan berwibawa, tiba-tiba bertamu untuk melamar anak gadis mereka.
"Tenang," suara berat Arya memecah keheningan kabin mobil. Pria itu mematikan mesin, lalu menoleh menatap Binar. "Kamu yang minta bantuan saya, tapi kamu sendiri yang kelihatan seperti mau masuk ke ruang eksekusi mati."
"B-Bapak nggak tahu aja," cicit Binar pelan. "Ayah saya itu orangnya curigaan, Pak."
"Curiga itu wajar bagi seorang ayah," balas Arya tenang seraya meraih sebuah bingkisan kain batik berisi buah-buahan premium dan kue tradisional mahal yang sempat ia beli di jalan. "Tapi kalau dia rasional, dia tahu penawaran saya adalah jalan keluar terbaik untuk keluarga kalian."
Mereka berdua turun dari mobil. Binar membimbing Arya memasuki teras rumah. Pintu depan terbuka, menampilkan sosok Ibu Binar yang langsung terbelalak kaget melihat putrinya pulang bersama seorang pria asing berpostur tinggi tegap.
"Loh, Binar? Ini... siapa?" tanya Ibunya bingung.
"Selamat sore, Ibu. Saya Arya," sapa Arya dengan gestur sopan namun tetap mempertahankan wibawa alaminya. Laki-laki itu menunduk hormat saat menyerahkan bingkisan di tangannya.
Tak lama kemudian, Ayah Binar keluar dari dalam. Wajah pria paruh baya itu tampak lelah dan muram—sisa-sisa tekanan dari timbunan utang ratusan juta yang kian menjepit lehernya. Tatapan matanya memicing tajam meneliti Arya dari ujung kepala hingga ujung sepatu kulitnya.
Suasana di ruang tamu yang sempit itu terasa sangat canggung. Setelah dipersilakan duduk, Arya tidak membuang waktu untuk bersilat kata. Sesuai karakternya yang lugas dan efisien, ia langsung menyampaikan maksud kedatangannya tanpa berbelit-belit.
"Kedatangan saya ke sini adalah untuk melamar Binar," ujar Arya tegas.
Uhuk! Ayah Binar yang baru saja hendak menyesap teh hangatnya mendadak tersedak. Ibunya menjatuhkan cangkir ke atas piring kecil dengan dentang nyaring.
"M-melamar?" ulang Dedi dengan nada suara tinggi penuh keheranan. "Mas Arya ini siapa? Teman Binar? Atau... dosennya di kampus?"
"Saya dosen pembimbing skripsi Binar yang baru, Pak," jawab Arya jujur tanpa sedikit pun nada ragu. "Saya tahu ini terdengar sangat mendadak dan tidak biasa. Namun, saya bermaksud menikahi Binar secara resmi. Sebagai bentuk komitmen awal dan niat baik saya, saya sudah menyiapkan dana untuk menyelesaikan seluruh permasalahan finansial dan utang keluarga Bapak secara tuntas hari ini juga."
Pernyataan Arya bagaikan petir di siang bolong. Ayah dan Ibu Binar terpaku di tempat duduk mereka.
Ayah Binar menarik napas dalam-dalam. Sebagai kepala keluarga, rasa curiganya membumbung tinggi. "Niat Mas Arya ini sangat baik... tapi kenapa harus tiba-tiba seperti ini? Kenapa mau melunasi utang kami dan mendadak menikahi Binar?"
Arya melirik Binar sekilas sebelum kembali menatap sang Ayah. "Saya sedang memproses izin investasi dan legalitas bisnis properti saya di Yogyakarta. Memiliki status pernikahan sah dengan warga lokal asli Jogja akan mempermudah perizinan dokumen usaha saya. Di sisi lain, Binar membutuhkan perlindungan akademis dan kepastian agar bisa lulus tepat waktu tanpa gangguan pihak mana pun."
Penjelasan logis Arya yang dikemas rapi membuat Ayah Binar bungkam. Di satu sisi, ada jerat utang ratusan juta yang siap membuat mereka gulung tikar dan ancaman Rian—dosen muda licik yang terus menekan mereka. Di sisi lain, ada seorang pria mapan, berpendidikan tinggi, bertutur kata tegas, dan menawarkan pelunasan utang tanpa syarat yang memberatkan.
"Bagaimana, Binar? Kamu benar-benar setuju dengan ini?" tanya Ayahnya memastikan pada sang putri.
Binar menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Iya, Yah. Pak Arya yang bisa bantu Binar lulus dan bantu keluarga kita."
Melihat kesepakatan itu, Ayah Binar akhirnya menghela napas lega. Pertahanan ketatnya runtuh oleh desakan realitas. "Baiklah. Kalau ini memang jalan terbaik... kami terima lamaran Mas Arya."
Tiga hari kemudian, prosesi pernikahan dilangsungkan.
Tidak ada janur kuning yang melengkung di depan rumah Binar, tidak ada panggung pengantin yang megah, tidak ada alunan musik kerawitan, apalagi undangan yang disebar ke tetangga sekitar. Semuanya dilakukan dalam diam dan kerahasiaan yang sangat ketat.
Demi menjaga privasi dan menutup rapat dari jangkauan kampus maupun Rian, Ayah Binar menggunakan sedikit uang dari pelunasan utang untuk menyuap oknum perangkat desa setempat. Pernikahan itu didaftarkan secara khusus agar dapat dilangsungkan secara diam-diam di dalam ruangan kecil Kantor Urusan Agama (KUA).
Ketukan palu penghulu bergema pelan di ruangan tersebut. Doa dilantunkan, dan dalam hitungan detik, status Binar resmi berubah menjadi seorang istri.
Saat proses penandatanganan berkas dan buku nikah di hadapan petugas KUA, Binar memegang pulpen dengan tangan bergetar. Matanya tak sengaja tertuju pada baris nama pengantin pria yang tertera di lembar dokumen negara tersebut.
Reigha Setyo Aji.
Binar mengedipkan matanya beberapa kali. Nama asli Pak Arya bukan Arya Setyo, melainkan Reigha Setyo Aji.
Namun, karena Binar dan seluruh keluarganya adalah orang awam yang tidak pernah bersentuhan dengan majalah bisnis atau dunia korporasi Jakarta, nama "Setyo Aji" tidak membunyikan alarm apa pun di kepala mereka. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa pria yang berdiri di samping Binar adalah putra dari imperium konglomerat terbesar di Indonesia yang sedang melarikan diri dari skandal.
Reigha—yang menyadari Binar memandangi namanya—hanya menatap gadis itu dengan raut wajah datar. Laki-laki itu sempat memberi alasan singkat bahwa nama "Arya" hanyalah nama panggilan akrab yang ia gunakan di dunia akademis. Ayah Binar yang sempat mengecek catatan kriminal atas nama Reigha Setyo Aji pun mendapati hasilnya bersih tanpa noda. Karena menganggap setiap orang memiliki rahasia pribadi masing-masing, keluarga Binar tidak bertanya lebih jauh. Lagipula Ayah Binar juga mengetahui pernikahan putrinya hanya sementara saja, hanya untuk memperoleh syarat bisnis yang disebutkan oleh Arya sebelumnya. Karena itu Dedi merasa tidak perlu mencari tahu lebih jauh tentang menantu barunya yang tampan itu.
Binar memandangi buku nikah di genggamannya. Di usianya yang baru dua puluh satu tahun, ia kini telah terikat dalam ikatan pernikahan kontrak selama tiga ratus enam puluh lima hari bersama sang Bad Professor. Entah kenapa Binar merasa sedikit berdebar.