Di dalam hatinya, Arya ingin sekali meledakkan tawa kencang saat itu juga. Tingkah Binar sungguh sangat lucu dan menggemaskan, berhasil menembus benteng pertahanannya yang biasanya kaku. Namun, dengan susah payah Reigha menahan tawanya, mengusap bibirnya dengan tisu, dan kembali memasang raut dingin.
"Makan nasi gorengmu. Setelah ini berangkat ke kampus," ujar Arya datar, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum kewarasannya benar-benar runtuh oleh kelakuan Binar.
Setelah berhasil melewati sesi sarapan pagi yang terasa bagaikan ujian hidup—di mana tatapan tidak ramah dan aura tegang dari Arya terus menghantuinya—Binar akhirnya bernapas lega ketika kakinya berhasil melangkah keluar dari gerbang rumah mewah tersebut.
Untuk menjaga kerahasiaan pernikahan kontrak mereka di kampus, Arya dan Binar sepakat untuk tidak pernah berangkat atau pulang bersama. Binar memilih naik angkutan umum seperti biasanya. Lagipula, Binar masih memiliki beberapa mata kuliah wajib yang belum selesai diampu di semester akhir ini, membuatnya harus tetap rajin bolak-balik ke kampus sembari menyelesaikan draf skripsinya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan angkot yang sarat penumpang, Binar akhirnya sampai di depan gerbang utama kampus swasta ternama di Yogyakarta tersebut. Suasana pagi hari di sekitar kampus tampak ramai oleh lalu lalang mahasiswa yang berburu sarapan atau terburu-buru masuk kelas.
"Loh? Kok lo ganti angkot, Bin? Biasanya naik angkot yang warna hijau?"
Sebuah suara ceria menyapa Binar dari arah warung bubur ayam di pinggir jalan depan gerbang. Binar menoleh dan mendapati Dimas—sahabat sekaligus teman seperjuangannya yang baik hati—sedang duduk di atas bangku kayu, sibuk menyantap semangkuk bubur ayam hangat.
Binar melangkah mendekat, mengibaskan tangannya yang agak gerah, lalu menjawab jujur tanpa berpikir panjang, "Gue pindah kontrakan."
Binar tanpa canggung langsung mendudukkan dirinya di samping Dimas. Tanpa rasa malu sedikit pun, jemari Binar terulur mengambil selembar kerupuk kaleng berwarna putih dari piring plastik milik Dimas dan melahapnya dengan santai.
Dimas menghentikan suapannya, menoleh menatap Binar dengan kening berkerut heran. "Udah kaya nih kelihatannya? Perasaan dulu lo bilang seumur hidup nggak bakal pindah dari kontrakan lama lo yang di Babarsari itu, gara-gara itu kontrakan paling murah se-alam semesta?"
Binar mengunyah kerupuknya pelan, menatap lurus ke arah jalan raya dengan pandangan puitis yang dramatis.
"Namanya juga hidup, Dim. Kalau nggak makan bubur, ya makan ludah sendiri," balas Binar asal.
"HA-HA-HA!"
Tawa Dimas meledak seketika! Cowok itu tertawa terbahak-bahak sampai bahunya berguncang keras. Kepalanya bahkan mendongak ke atas karena merasa kalimat pasrah sahabatnya itu sangat konyol dan menghibur.
Tanpa mereka sadari, interaksi yang tampak begitu akrab dan hangat di pinggir jalan itu terlihat secara tidak sengaja oleh seseorang dari dalam mobil SUV hitam yang baru saja menepi dan memarkirkan kendaraannya di dekat gerbang kampus.
Di dalam mobil, Arya bergeming. Jemarinya mencengkeram kuat lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Pagi ini, Arya sebenarnya tidak memiliki jadwal mengajar di kelas. Namun, karena ada beberapa berkas penting terkait perizinan bisnis propertinya yang tertinggal di atas meja kerja ruangannya, ia terpaksa meluncur pagi-pagi ke kampus untuk mengambilnya. Pria itu sama sekali tidak mengira akan disuguhi pemandangan istrinya—istri sahnya di mata hukum dan agama—sedang tertawa lepas dan berbagi makanan di pinggir jalan bersama mahasiswa laki-laki lain!
Dari balik kaca mobil yang gelap, mata tajam Arya mengunci setiap gerakan Binar dan Dimas.
"Atau jangan-jangan lo jatuh miskin ya, Bin? Makanya nggak sanggup bayar kontrakan lama lo yang murah itu sampai ditendang keluar?" seloroh Dimas lagi setelah tawanya reda.
Binar mendengus pasrah. "Kapan sih gue pernah nggak miskin, Dim? Hidup ini memang sialan banget."
Tanpa permisi lagi, Binar meraih gelas plastik berisi teh hangat milik Dimas yang ada di atas meja, lalu menenggaknya hingga tandas separuh tanpa merasa canggung sedikit pun.
BRAK!
Di dalam mobil, rahang Arya mengeras ketat. Pemandangan Binar meminum teh bekas dari gelas mahasiswa itu adalah batas akhir dari toleransinya. Ada perasaan panas membara yang mendadak meledak dan membakar dadanya—sebuah rasa cemburu yang teramat sangat, yang liar dan tak terkendali. Reigha tidak tahu kenapa dia bisa cemburu padahal sejak awal dia sangat yakin Binar hanyalah istri diatas kertas saja yang akan dia ceraikan setelah pelariannya selesai.
Laki-laki yang tadinya sama sekali tidak berniat untuk menginterupsi atau mencampuri urusan Binar di kampus, kini mendorong pintu mobilnya dengan kasar. Arya turun dari mobil SUV-nya dengan wajah sekelam awan badai. Langkah kakinya yang lebar dan pasti langsung mengarah menuju tempat istri kontraknya berada saat ini.
Aura intimidasi yang memancar dari tubuh tinggi tegap sang Bad Professor membuat beberapa mahasiswa yang melintas di sekitar gerbang otomatis terdiam dan memberi jalan.
"Binar! Ikut saya sekarang!" ucap Arya dengan suara yang begitu dingin, tajam, dan penuh penekanan.
UHUK!
Binar nyaris tersedak potongan kerupuk terakhir yang baru saja masuk ke dalam tenggorokannya! Suara berat dan menggelegar itu sangat ia kenali—suara dari pria yang sejak tadi pagi sudah berhasil membuat tingkat stresnya melonjak naik.
Binar dan Dimas refleks menoleh bersamaan. Begitu menyadari siapa yang berdiri menjulang di samping meja mereka dengan wajah datar menakutkan, wajah Dimas yang tadinya ceria seketika berubah pucat pasi seperti kertas.
"Sa-saya ada kelas sebentar lagi, Mas... eh, Pak!" ucap Binar terbata-bata. Matanya berkedip panik, mencoba mengisyaratkan pada Arya agar tidak membuat keributan di depan umum.
"Saya setuju menjadi dosen pembimbing kamu bukan berarti kamu bisa bermalas-malasan dan buang-buang waktu di sini," omel Arya kesal. Kata-katanya terdengar lugas dan penuh teguran, walau sejujurnya hatinya hanya ingin menjauhkan Binar dari mahasiswa di sebelahnya.
Binar buru-buru berdiri dari bangkunya, memamerkan senyum canggung kepada Arya sembari merapikan tasnya. "I-iya, Pak. Ini saya mau langsung masuk kelas kok—"
"Wah, wah, wah... ternyata di sini rupanya calon mahasiswi DO kita sedang bersantai."
Sebuah suara sinis yang sangat dibenci Binar mendadak terdengar dari arah belakang.
Pak Rian—dosen muda berpenampilan rapi yang menjadi dalang di balik semua penderitaan Binar di kampus—berjalan mendekat dengan langkah santai. Tanpa rasa canggung, Rian dengan gestur yang sok akrab langsung merangkul pundak Arya dari samping. Membuat bibir Binar komat-kamit penuh sumpah serapah.