"Abdu sini, kakak kangen sama kamu" pintaku ke adik yang bungsu.
Abdu yang sedari tadi mematung melihat ibu dan kakaknya berpelukan, mulai datang menghampiri.
Tangan kanannya dijulurkan dan mencium punggung tanganku. Dia masih penasaran dengan yang namanya kak Husna ini.
"Aku kok ngga pernah liat kak Husna, kapan terakhir kita ketemu ya kak?" Tanya Abdu.
"Udah lama dek, 9 tahun yang lalu, umurmu dulu masih 2 tahunan. Pantaslah kalau tidak ingat kakak. Lagian waktu di asrama, kakak tidak boleh bawa HP, jarang pulang juga. Ibu dan bapak yang selalu datang ke pesantren"jawabku
"Nenek kemana Bu? Kok tidak kelihatan?" Aku kebelakang mencari keberadaan orang tua yang sangat ku rindukan.
" Nenek pulang ke kampung, tempat kakek buyut kamu dulu tinggal" kata ibu
"Ada acara haul kematian nenek buyut. Semua anak-anak yang masih hidup di suruh ke sana. Beliau sebelum berangkat titip salam buat kamu, katanya nenek kangen sama kamu juga,"tambah Bu Nia, ibuku
Setelah merapikan diri dan beristirahat. Aku bergegas ke meja makan. Hendak melahap makanan yang disuguhkan ibu
"Bapak pergi dulu ya Bu !" pamit Imron,bapakku
" Bapak kan baru sampai, makan dulu pak"
" Bapak buru-buru ada hal yang penting"
" Sepenting apa? Meta ?" nada ibu semakin tinggi.
Imron hanya melotot ke arah istrinya itu dan bergegas pergi membawa motor barunya.
Dari kejauhan aku memperhatikan apa yang terjadi.
Ibu menuju meja makan dan bergabung bersamaku.
Disela-sela makan, aku bercerita banyak tentang aktivitas di dalam asrama. Semua kejadian lucu juga aku diceritakan.
Seperti teman satu kamar yang selalu mengigau membaca hafalan ayat Alquran dan ada juga yang selalu menaruh makanan dibawah baju, supaya tidak diminta teman yang lain.
Meja makan sudah dirapikan ibu.
" Ibu tidak ke warung?"
Ibu menggeleng " Warung tutup nak, ibu kewalahan kalau tidak ada bapakmu".
"Meta siapa Bu ? "tanyaku penasaran.
"Kamu dengar dari mana nama itu?"
"Tadi ibu yang sebut saat sama bapak. Husna tidak sengaja mendengar "
Air mata ibu langsung berlinang, sakit hatinya selama ini tidak bisa lagi dia pendam sendiri.
Ibu menangis memelukku.
"Ibu kenapa?" tanyaku bingung.
Nia menenangkan dirinya. Sambil mencoba bercerita kepada putrinya.
Suaranya begitu lirih."Meta itu , istri kedua bapakmu" ucap ibu sambil mengusapkan air mata.
Aku syok bukan main. Orang yg menyuruhnya belajar di pesantren, ternyata tega berselingkuh dan menyakiti kami.
Imron, nama yang agamis tapi tak menjamin orang nya tau ajaran agama.
Setelah tenang ibu bercerita semuanya, apa yang terjadi selama ini.
" Dua tahun setelah kamu masuk pesantren, warung soto laris sekali. Kami kewalahan melayani pelanggan"
"Saat itu datang Meta ke rumah, minta dicarikan pekerjaan".
"Kebetulan sekali kami juga membutuhkan orang untuk membantu di warung".
"Meta itu teman sekolah ibu di smp dulu, suaminya kerja serabutan. Dia sudah menikah selama 5 tahun dan belum dikaruniai anak".
"Karena sering bersama, bapakmu dan Meta saling jatuh cinta".
"Mereka berdua berselingkuh dan ibu baru tau setelah Meta memperlihatkan hasil USG nya, dia bilang kalau itu anak bapakmu"
"Padahal Meta masih mempunyai suami" air mata ibu semakin deras.
Aku pun terbakar amarah saat mendengar penuturan ibu.
"Pantas saja, sejak saat itu bapak sudah jarang mengunjungi kami. Aku dan Asri mengira bapak sibuk mengurusi bisnisnya. Ternyata bapak sedang asyik mengurusi pelacurnya" .
" Jangan berkata begitu Husna, jangan sampai mulutmu ikut kotor membahas dia" hardik ibu.
" Loh betul kan Bu? bahkan p*****r saja lebih terhormat dari pada dia. Benar-benar tak tahu diri. Tak punya malu. Husna yakin hidupnya akan terus menderita. Aku tidak terima dia menjadi ibu tiri ku "
"Kejadian itu sudah lama nak, ibu dan suami Meta sudah melaporkan mereka ke polisi".
"Bapak dan Meta juga sudah dipenjara 3 bulan atas tuduhan perzinahan. Bukannya kapok, Meta malah semakin menjadi-jadi".
"Suaminya langsung menceraikannya".
"Sejak saat itu bapakmu langsung menikahi Meta, mencoba bertanggungjawab atas bayi yang dikandungnya" netra ibu mulai banjir air mata.
" Ibu tidak bisa bersaing dengan orang gila, orang yang tidak bermoral dan tak tahu diri itu. Ibu ikhlas kan bapakmu menikahi dia, yang penting kalian masih punya bapak"
" Tapi Anak itu tak pernah dilahirkan, Meta keguguran, setelah itu bapak malah semakin jarang pulang ke rumah. Dia mengurusi Meta sampai lupa kalau disini masih ada anak dan istri yang butuh perhatiannya juga" ucap ibu.
" Sukur.. rasain.. itulah karma buat perebut suami orang, Husna yakin, Allah juga tidak akan meridhoi pernikahan seperti itu".
"Seumur hidupnya tidak akan bahagia dan akan terus ditimpa musibah".
"Anaknya saja tidak mau dilahirkan dari rahim seorang pendosa".
"Kita lihat saja Bu ! Doa anak yang teraniaya pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT " aku merasa puas saat mendengar dia keguguran.
" Maafkan ibu belum bisa memberikan kamu pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tabungan ibu sudah habis dan warung juga sudah hampir bangkrut" ucap ibu.
" Bapak kemaren bilang, anak perempuan tidak perlu sekolah yang tinggi, kalau ujung-ujungnya masuk ke dapur juga", ingat ku saat bapak penjemput di pesantren.
"Astaghfirullah Husna baru sadar, ternyata bukan cuma itu saja alasannya. Bapak sudah benar-benar tidak mau membiayai Husna" mataku terpejam membayangkan rasa sakit yang ibu derita.
Mulai saat ini aku bertekad mencari uang, entah dari mana, asalkan adik-adik ku sehat dan bersekolah tinggi.
"Setahun lagi Asri lulus, Insya Allah aku bisa membiayai Asri,ibu dan Abdu juga"
Rasa sayur yg gurih tiba-tiba menjadi hambar.
Setelah makan aku langsung ke kamar, dan merenungi apa yang salah dari keluarga ini.
Nenekku juga dulunya berselingkuh. Itu karena kakek yang mulai berselingkuh dengan tetangga yang rumahnya tak jauh.
Akhirnya mereka bercerai dan menikah dengan selingkuhannya masing-masing.
Aku mendoakan agar rumah tangga ibuku tidak sama dengan nenek.
Malah sebaliknya, sudah terjadi begitu lama sejak aku kelas 2 MI.
Ibu menyimpan rapat-rapat supaya kami tidak ikutan sakit hati.
Ijasahku ini bisa dapat kerja apa? Jualan juga tak punya modal.
"Husna, besok bantu ibu beresin warung ya" suara ibu dari balik pintu.
" Insya Allah Bu"
Asri tak boleh tau masalah bapak, apalagi sampai dengar bapak pernah dipenjara, pasti dia sangat malu.
Aku akan menguatkan adik kecilku. Kasihan dia dari kecil sudah melihat keributan dirumah ini.
Hari sudah menjelang isya, bapak belum kunjung pulang.
" Bu, biasanya bapak berapa hari tidak pulang?"
"Bisa sampai seminggu" sahut ibu
Aku hanya terdiam, anak yang sudah tidak bertemu lama, tetap tidak bisa membuat dia tinggal lama dirumah.