Suara musik house yang berat menggelegar dari sudut rooftop lounge di kawasan elite Jakarta Selatan, menyatu dengan derak es batu dalam gelas-gelas kristal dan gelak tawa riuh kaum borjuis muda.
Malam baru saja dimulai bagi mereka yang uangnya seolah tak pernah habis. Namun bagi Aura Sampurna, dunia di sekitarnya mendadak kehilangan semua warna.
Pandangan Aura tertuju lurus pada tumpukan kartu domino yang terhampar di atas meja kayu mahoni. Angka-angkanya mati.
Kombinasi yang tidak mungkin memberikan kemenangan, apa pun sudut pandang hukum probabilitas yang ia gunakan.
"Kau kalah, Aura!"
Suara Chloe berdenting halus, semanis martini yang ia genggam di tangan kirinya. Ada kilat kepuasan yang tertahan rapi di balik sapuan eyeliner tajamnya.
"Aturan tetap aturan, kan? No hard feelings, Babe."
Dada Aura berdesir tajam. Napasnya tertahan di tenggorokan. Bukan sekadar masalah kalah main atau gengsi yang terinjak-injak di hadapan sepuluh orang teman lingkaran dalamnya.
Masalah utamanya adalah objek taruhan yang baru saja berpindah tangan.
Porsche 911 Speedster edisi terbatas berwarna cray grey. Mobil itu bukan sekadar kendaraan mewah hasil pamer kekayaan.
Itu adalah hadiah ulang tahun ke-18 sekaligus kenangan fisik terakhir dari almarhum ibunya sebelum Sampurna Group diterpa badai restrukturisasi beberapa tahun lalu.
Kunci mobil bermaterial serat karbon itu kini berada di atas meja, tepat di depan jemari Chloe yang dihiasi cat kuku warna merah anggur.
Aura berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang, mengangkat dagunya tinggi-tinggi meski jemarinya di bawah meja saling mencengkeram erat.
"Ada yang tidak beres dengan putaran terakhir tadi, Chloe. Kau menarik kartu dari tumpukan bawah."
"Aura, Please."
Chloe terkekeh pelan, melempar pandangan jenaka ke arah teman-teman di sekeliling mereka yang mulai berbisik-bisik.
"Jangan jadi sore loser. Semua orang di meja ini melihat aku mengocok kartunya dengan benar. Lagipula, kau sendiri yang memasang kunci mobil itu sebagai taruhan saat kau yakin kartu milikmu paling bagus, kan?"
Beberapa orang di sekitar mereka mengangguk setuju, beberapa lagi hanya tersenyum canggung, takut terlibat bentrok antara dua anak taipan tersebut.
Aura tahu betul ia sedang dijebak. Sejak awal permainan, Chloe terus memancing emosinya, menaikkan taruhan bertahap hingga Aura terpojok dan menggunakan aset terbesarnya untuk mempertahankan gengsi.
Chloe tahu betul seberapa berharganya Porsche itu bagi Aura.
"Tapi aku tahu kau sangat menyayangi mobil itu."
Chloe tiba-tiba mengubah nada bicaranya menjadi lebih lembut, seolah ia adalah seorang juru selamat yang penuh rasa iba. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, menatap Aura dengan binar mata yang sulit diartikan.
"Aku tidak sejahat yang kau kira, Ra. Aku bisa saja mengembalikan kunci ini malam ini juga. Gratis. Tanpa perlu kau membayar sepeser pun."
Aura memicingkan mata. Penyesuaian nada suara Chloe justru membunyikan alarm bahaya di kepalanya.
"Syaratnya apa?"
Chloe tersenyum lebar. Ia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan, lalu berbisik dengan nada yang sengaja disisakan cukup keras agar bisa didengar oleh beberapa orang di dekat mereka.
"Goda Dante Moretti. Buat dia berlutut di bawah kendalimu, dan jebak dia ke dalam sebuah skandal yang cukup panas untuk menghancurkan reputasi sucinya di kampus."
Suasana di meja itu mendadak hening selama beberapa detik sebelum disusul desahan tertahan dari beberapa orang.
"Dante Moretti?"
Salah satu teman mereka membelalak.
"Maksudmu Pak Dante? Dosen muda yang mengajar Hukum Bisnis Internasional itu?"
"Tepat," jawab Chloe tanpa mengalihkan pandangan dari Aura.
"Dosen dingin yang berjarak itu. Pria yang selalu menatap semua mahasiswi seolah mereka cuma mikroba tidak berguna. Pria yang tidak pernah tersenyum dan selalu berpakaian super rapi seolah dia tidak punya dorongan seksual sama sekali."
Aura menatap Chloe dengan tatapan tak percaya.
"Kau gila? Dia dosen, Chloe. Dan dia bukan tipe pria yang bisa dipancing dengan godaan murahan."
"Justru karena itulah taruhan ini menarik," balas Chloe santai.
Tangannya memutar-mutar kunci Porsche milik Aura di udara, membuat gantungan kuncinya berkilat diterpa lampu remang-remang rooftop.
"Buktikan kalau pesona seorang Aura Sampurna tidak pernah gagal. Kalau kau bisa membuat pria es itu terseret skandal denganmu, kunci ini kembali jadi milikmu secara utuh."
Chloe meletakkan kunci Porsche itu kembali ke meja, tepat di garis tengah antara dirinya dan Aura.
"Tapi kalau kau menolak, atau kau gagal..."
Chloe tersenyum tipis.
"Mobil ini akan jadi milikku secara permanen besok pagi. Dan kau tahu betul, aku akan sangat menikmati mengendarainya di depan matamu setiap hari di area parkir kampus."
Aura mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Rasa panas membakar dadanya.
Aura membenci Chloe yang memanfaatkan posisinya, dan ia membenci dirinya sendiri karena telah terseret ke dalam permainan licik ini.
Namun membayangkan mobil peninggalan ibunya dikuasai oleh orang seperti Chloe adalah hal yang sama sekali tak bisa ia toleransi.
Dante Moretti.
Nama itu berputar di kepala Aura. Pria tinggi, berahang tegas, dengan kacamata berbingkai tipis yang selalu menatap dingin dari balik meja dosen.
Pria yang terkenal paling sukar didekati di seluruh fakultas, berdedikasi tinggi pada akademis, dan terkesan hidup dalam dunianya sendiri yang sangat disiplin.
Sebuah tantangan yang berbahaya, tetapi bagi Aura, tidak ada jalan mundur.
"Oke," kata Aura akhirnya.
Suaranya terdengar dingin, tajam, dan penuh ketegasan yang membuat senyum di wajah Chloe sedikit goyah.
"Siapkan kuncinya, Chloe. Karena mobil itu tidak akan pernah berpindah nama."