Napas Aura masih belum sepenuhnya teratur ketika ia berdiri di dekat area parkir khusus dosen.
Udara sore Jakarta yang hangat membakar kulitnya. Namun, rasa panas yang membakar dadanya jauh lebih intens.
Di dalam tas kulitnya, kunci mobil Mercedes-Benz C-Class hitam milik papinya berdenting halus.
Mobil pengganti sementara yang Aura pakai selama Porsche 911 miliknya disandera oleh Chloe.
Dari jarak sepuluh meter, Aura melihat sosok itu keluar dari pintu kaca lobby fakultas.
Dante Moretti.
Pria itu telah melepas kemeja biru yang bernoda kopi dan kini hanya mengenakan kaus polos berwarna hitam yang memeluk ketat tubuh bagian atasnya. Dipadukan dengan jas kargo gelap yang tersampir di lengan kirinya.
Kacamata berbingkai tipis masih menengger rapi di wajahnya. Wajah yang tetap datar, sangat tenang, seolah lorong perpustakaan tadi siang tidak pernah terjadi.
Aura merapikan tatanan rambutnya, menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sempat porak-poranda, lalu melangkah memotong jalur berjalan Dante.
"Pak Dante," panggil Aura.
Suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar santai, berwibawa, tetapi memancarkan daya pikat yang halus.
Dante menghentikan langkahnya. Mata cokelat gelapnya bergulir perlahan, mengunci sosok Aura.
"Miss Sampurna. Saya pikir kamu sudah pulang."
"Gara-gara saya, kemeja Bapak basah dan harus diganti."
Aura tersenyum tipis, memiringkan kepalanya dengan tatapan mata yang sedikit meredup. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, membiarkan aroma parfum vanilla-woodsy miliknya menyapu indra penciuman Dante.
"Saya merasa bersalah. Anggap saja ini bentuk ganti rugi. Saya antar Bapak pulang sore ini."
Dante tidak langsung menjawab. Ia menatap Aura lurus-lurus, seolah sedang membedah setiap motif yang tersembunyi di balik tawaran manis tersebut.
Sudut bibirnya terangkat amat tipis. Sebuah kurva kecil yang hampir tak terlihat, tetapi sarat akan cemoohan dan tantangan.
"Mobil saya?" tanya Dante pendek, suaranya berat dan rendah.
"Mobil Bapak kan sering mogok."
Aura tersenyum manis dengan nada yang dibuat seolah penuh perhatian.
"Saya sudah telepon derek untuk membawanya ke bengkel langganan. Jadi sore ini, Bapak tidak punya alasan untuk menolak."
Dante menaikkan sebelah alisnya, menatap Aura dengan binar mata yang makin intrik.
"Dan mobil kamu?" tanya Dante pendek, suaranya berat dan rendah.
"Di sebelah sana."
Aura menunjuk sedan hitam berkilat yang terparkir tak jauh dari mereka dengan kibasan jemarinya.
"Transmisi manual. Saya tahu pria seperti Pak Dante lebih menghargai kendali murni daripada kemudahan otomatis."
Dante menatap mobil itu, lalu kembali menatap Aura. Tidak ada keraguan di matanya. Pria itu justru mengangguk pelan.
"Baik. Jangan salahkan saya kalau arah jalannya tidak seperti yang kamu harapkan."
Di dalam kabin Mercedes-Benz yang tertutup rapat, aroma kulit interior yang mahal beradu pekat dengan parfum Aura dan jejak aroma maskulin cedarwood milik Dante.
Suhu AC yang dingin menyemburkan udara sejuk, tetapi atmosfer di dalam mobil itu begitu pekat oleh tensi sensual yang tertahan.
Dante duduk di kursi penumpang depan. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran jok kulit, lalu melipat kedua tangannya di depan d**a.
Posisi duduknya santai, seolah ia adalah seorang raja yang sedang menikmati perjalanan, bukan seorang dosen yang sedang menumpang mobil mahasiswanya.
Aura menggenggam kemudi, memasukkan kunci, dan menyalakan mesin. Suara raungan halus mesin sedan itu mengisi keheningan.
"Alamat apartemen Pak Dante di mana?"
Aura bertanya sambil melirik dari balik kaca spion tengah, perlahan memajukan mobil keluar dari gerbang kampus menuju jalan raya yang mulai dipadati kendaraan sore.
"Kawasan Tebet. Masuk ke jalan kecil dekat stasiun," jawab Dante datar tanpa mengubah posisi duduknya.
Aura menaikkan sebelah alisnya.
Tebet?
Untuk seorang dosen bergelar doktor dengan wibawa sekelas Dante, tempat tinggal di kawasan pemukiman sederhana seperti itu terdengar cukup kontras.
Aura menyimpan pertanyaannya dalam hati. Ini bukan saatnya membahas geografi kota. Ini saatnya mengeksekusi taruhan.
Mobil merayap pelan di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta.
Lampu-lampu rem kendaraan di depan mereka memantulkan cahaya merah yang temaram ke dalam kabin sedan, menciptakan pencahayaan remang-remang yang terkesan amat intim.
Aura melirik paha Dante. Pria itu mengenakan celana kain berpotongan pas yang memperjelas garis otot pahanya yang padat.
Kaki pria itu terentang sedikit lebar, memberikan celah yang cukup terbuka di dekat tuas transmisi manual yang terletak tepat di antara jok mereka.
Aura menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Ini kesempatan emasnya.
Aura menurunkan tangan kanannya dari kemudi, meletakkannya di atas tuas transmisi. Namun, alih-alih hanya mengganti gigi dengan cengkeraman biasa, Aura sengaja menurunkan posisi telapak tangannya sedikit lebih rendah.
Saat menarik tuas gigi ke posisi tiga, bagian samping telapak tangan dan jemari Aura yang berpoles kuku rapi menggesek kain celana Dante, tepat di bagian luar paha atas pria itu.
Sentuhan itu disengaja, perlahan, dan sarat akan provokasi.
Aura menahan napasnya, menunggu reaksi ketakutan atau gerakan menarik diri dari Dante. Namun pria itu tidak menggerakkan kakinya sedikit pun.
Dante bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari kaca depan.
Keheningan kabin mendadak terasa makin tebal.
Aura menggigit bibir bawahnya pelan. Merasa ditantang oleh ketenangan Dante, ia kembali mengulang gerakannya saat lalu lintas kembali melambat.
Kali ini, saat menurunkan gigi ke posisi dua, jemari Aura tidak sekadar menggesek.
Telapak tangannya mendarat mantap di paha Dante. Ujung jarinya bergerak perlahan, merayap beberapa senti di atas kain celana padat itu. Membelai garis otot paha sang dosen dengan tekanan halus yang memabukkan.
"Ops," bisik Aura pura-pura polos. Matanya tetap menatap lurus ke jalan raya meski sudut bibirnya terangkat penuh percaya diri.
"Maaf, Pak. Tuas giginya agak keras sore ini."
Dante tidak menepis tangan Aura. Pria itu justru perlahan mengurai lipatan tangannya di d**a.
Dengan gerakan yang sangat santai dan lambat, Dante menyandarkan kepalanya ke headrest jok kulit, memiringkan wajahnya ke arah Aura.
Kacamata berbingkai tipisnya menangkap kilatan cahaya merah lampu jalanan, menyembunyikan binar matanya di balik bayangan remang-remang.
Dante tersenyum tipis.
Sebuah senyuman kecil yang sangat berbahaya. Senyum predator yang membiarkan mangsanya merasa sedang memegang kendali.
"Kamu sengaja menyentuh saya, Miss Sampurna."
Suara Dante alus mengalun, begitu rendah dan dalam hingga getarannya terasa langsung di dinding d**a Aura.
Suaranya menyusup ke dalam keheningan kabin seperti racun yang manis.
Jantung Aura berdesir tajam. Jemarinya yang masih berada di paha Dante mendadak membeku.
"Saya cuma mengoper gigi, Pak Dante."
"Benarkah?"
Dante terkekeh pelan. Sebuah tawa kecil tanpa nada humor yang membuat bulu kuduk Aura berdiri.
Dante menjangkau tangan kanan Aura yang masih hinggap di pahanya. Jemarinya yang besar, hangat, dan berkapalan halus tidak menyingkirkan tangan Aura.
Dante justru menggenggam jemari gadis itu dari atas, memegang pergelangan tangan Aura dengan cengkeraman yang mantap dan posesif.
Dante menuntun tangan Aura untuk tetap berada di atas pahanya, justru menekan telapak tangan halus gadis itu lebih dalam ke permukaan otot pahanya yang keras.
"Kalau cuma mengoper gigi, kenapa jarimu gemetaran?" bisik Dante tajam.