Adit memanggil Rangga ke hanggar sebelum fajar. Suaranya di radio tidak seperti biasa — datar, terlalu hati-hati, seperti orang yang menahan sesuatu agar tidak pecah.
Rangga turun dengan tangga besi yang dingin. Rajawala berdiri di dok pemeliharaan, gunmetal kelabunya memantulkan lampu kerja. Garis merah pudar di dadanya tidak berpijar sekarang. Mesin itu diam, seperti tidur. Tapi Adit berdiri di depan panel diagnostik dengan wajah yang tidak bisa berbohong.
"Lihat ini," kata Adit. Ia memutar layar. Sebuah grafik berdenyut, garis hijau yang harusnya rata kini bergerigi seperti gigi gergaji. "Inti Rajawala. Setiap kali kau dorong sinkronisasi tinggi kemarin, ada retakan mikro yang muncul di lapis dalam reaktor. Bukan kerusakan tempur. Bukan luka dari Leviathan."
"Lalu apa?"
"Kelelahan logam. Mesin ini terbengkalai lima belas tahun, Rangga. Lalu kita bangunkan, kita paksa lari, kita dorong sinkronisasi melampaui apa pun yang pernah dicobakan padanya." Adit menggosok matanya di balik kacamata. "Retak yang dulu cuma rambut, sekarang melebar tiap pertarungan. Aku sudah memetakan lajunya."
Ia menarik garis di layar. Garis itu menurun. Menukik ke nol.
Rangga mengenal jenis grafik seperti ini. Dulu, sebagai montir di Tanjung, ia pernah memantau bearing turbin tua yang sama — getaran yang makin liar sampai akhirnya logam menyerah dan pecah. Ia tahu apa artinya garis yang menukik. Ia hanya tidak menyangka akan melihatnya pada inti reaktor yang menopang hidupnya.
"Itu artinya apa?"
"Itu artinya inti gagal total." Adit menelan ludah. "Bukan sekarang. Tapi tidak lama lagi. Setiap dorongan sinkronisasi besar memperpendek umurnya. Aku tidak bisa menambalnya — tidak ada suku cadang inti seri terakhir di seluruh dunia. Rajawala adalah yang terakhir."
Hanggar terasa lebih dingin. Rangga meletakkan telapak tangannya di kaki raksasa logam itu. Lewat sinkronisasi kemarin, ia sudah merasakan sesuatu yang aneh — nyeri tipis yang menetap setelah pertarungan, seperti tulang retak yang tidak mau sembuh. Ia kira itu kelelahannya sendiri. Ternyata itu Rajawala.
"Berapa lama?" tanya Rangga.
"Kalau kau bertarung biasa, hati-hati, sinkronisasi rendah — mungkin berminggu-minggu. Kalau kau dorong sampai batas yang kita butuhkan untuk 'kunci' itu..." Adit tidak menyelesaikan kalimatnya.
Mereka berdua tahu jawabannya. Untuk memutus kendali Sang Induk, untuk memutar kunci yang tertanam di inti Rajawala, Rangga harus mendorong sinkronisasi melewati seratus persen — titik yang dulu menolak Bara, titik yang membahayakan nyawa pilot. Dan setiap dorongan ke sana akan merobek Rajawala lebih cepat menuju kematiannya sendiri.
Mesin yang harus menyelamatkan dunia sedang sekarat sebelum sempat melakukannya.
Rangga berjalan mengelilingi kaki Rajawala, menyentuh sambungan-sambungan logam yang sudah ia hafal seperti tubuh sendiri. Di sini, di lekuk lutut, ada tambalan las miliknya dari minggu lalu. Di sana, di pelat betis, goresan dari cakar Hiu yang belum sempat ia ratakan. Ia telah merawat mesin ini seperti orang merawat hewan tua yang setia. Dan sekarang ia diberi tahu bahwa hewan tua itu akan mati, dan tidak ada obat di seluruh dunia yang bisa menundanya.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Rangga. "Cara memutar kunci tanpa mendorong sinkronisasi setinggi itu?"
Adit menggeleng pelan. "Sudah kuhitung dari segala arah. Kunci itu butuh kesadaranmu menyatu hampir total dengan inti — itu satu-satunya cara data perancang bisa mengalir keluar. Tidak ada jalan pintas. Maaf."
Rangga teringat Bara. Garuda yang berdiri di antara dua Kraken dengan satu sayap hancur dan lengan kaku, menolak mundur. Mungkin Bara juga tahu mesinnya sekarat malam itu. Mungkin pilot selalu tahu, di suatu tempat dalam saraf yang menyatu dengan logam, kapan baja mereka mulai mati.
"Laras harus tahu ini," kata Rangga pelan.
"Sudah kulaporkan." Adit mematikan layar. "Komandan bilang kita tetap jalan. Tidak ada pilihan lain. Sembilan Baja tinggal beberapa. Sang Induk semakin dekat. Rajawala sekarat bukan alasan untuk berhenti — itu alasan untuk bergerak lebih cepat."
Rangga mengangguk perlahan. Di bawah cahaya lampu kerja, Rajawala tetap diam, tapi untuk pertama kalinya Rangga melihatnya bukan sebagai senjata. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang hidup dan akan mati — dan yang, entah kenapa, masih memilih untuk bertarung bersamanya sampai akhir.
"Aku tidak akan menyia-nyiakannya," bisik Rangga ke logam dingin itu.
Garis merah di dada Rajawala berkedip sekali. Lemah. Seperti napas. Lalu padam lagi.
Hitung mundur sudah dimulai, dan tidak ada yang bisa menghentikannya.