Ruang strategi Pusat dipenuhi cahaya biru dari meja proyeksi. Jenderal tua berdiri di ujungnya, tangan di belakang punggung, menatap citra yang melayang di udara — Palung Tengah, garis pantai timur, titik-titik merah ribuan Leviathan yang merayap ke darat.
"Kita sudah mencoba menahan mereka," kata jenderal. "Garis demi garis runtuh. Benteng demi benteng jatuh. Kita memenangkan setiap pertempuran kecil dan kalah dalam perang. Karena selama Sang Induk hidup, gerombolan tidak akan pernah berhenti. Ia jantungnya. Selama jantung berdetak, tubuh terus datang."
Laras melangkah maju. "Adit, jelaskan."
Adit menyalakan tampilan kedua — diagram inti Rajawala, data yang ia gali dari arsip perancang yang hilang. "Kita sudah memastikan ini. Sang Induk bukan sekadar Leviathan terbesar. Ia pusat kendali. Seluruh gerombolan terhubung padanya seperti saraf pada otak. Dan Rajawala dirancang — sejak awal, oleh perancangnya — sebagai penangkal. Di dalam intinya ada apa yang kami sebut 'kunci': data yang bisa menyusup ke kesadaran kolektif Sang Induk dan memutus kendalinya atas gerombolan."
"Kalau kendali terputus," kata Laras, "ribuan Leviathan kehilangan komando. Mereka tercerai-berai. Tidak terorganisir. Bisa kita lawan, atau mereka mundur ke laut dalam."
"Tapi," sambung Adit, dan kata itu menggantung berat, "kuncinya hanya berfungsi dari jarak dekat. Sangat dekat. Rajawala harus berada di hadapan Sang Induk untuk memutarnya. Dan Sang Induk ada di dasar Palung Tengah, di tengah lautan, dikelilingi seluruh pertahanan gerombolan."
Seorang pilot di sudut ruangan menggeleng. "Kau menyuruh kami menembus ribuan Leviathan untuk mengantar satu mesin ke pusat sarang mereka. Itu bukan misi. Itu kuburan."
"Ini memang kuburan," kata jenderal tua tanpa berkedip. "Tapi ini satu-satunya kuburan yang punya peluang menyelamatkan semua yang masih hidup."
Jenderal itu mengetuk meja proyeksi, dan citra berubah — bukan lagi peta, tapi angka. Jumlah pengungsi di balik tiga dinding Pusat. Jumlah benteng yang masih berdiri di seluruh benua: tujuh, dari yang dulu ratusan. Sisa cadangan makanan dalam hitungan minggu. "Kita sudah lima belas tahun mundur," katanya, suaranya seperti batu yang aus. "Setiap tahun garis kita lebih ke dalam. Setiap tahun lebih sedikit dari kita. Menahan bukan strategi lagi — itu cuma cara mati lebih lambat. Operasi ini gila. Tapi melanjutkan apa yang kita lakukan sekarang juga gila, hanya lebih sopan."
Ruangan terdiam. Tidak ada yang membantah angka-angka itu.
Hening menyelimuti ruangan. Rangga menatap proyeksi Palung Tengah — lubang gelap di tengah lautan, lebih dalam dari yang pernah dijangkau manusia, tempat semua ini bermula.
Laras menarik garis di peta dengan jarinya. "Rencananya begini. Skuadron terbagi. Sebagian besar Baja menahan gerombolan di garis pantai timur — menarik perhatian, membuka koridor. Rajawala menyelinap melalui koridor itu, menyeberangi lautan, turun ke Palung, dan memutar kunci. Sekali. Itu saja yang kita butuhkan."
"Berapa Baja yang menahan?" tanya Danur.
"Lima. Ditambah Rajawala enam — dan aku sendiri di Cakra menahan garis bersama mereka." Laras menatap mereka satu per satu. "Itu semua yang tersisa."
Enam Baja skuadron, plus unit komando Laras. Melawan ribuan. Rangga menghitung dalam hati — sejak Kode Hitam, sejak sembilan, mereka sudah kehilangan tiga. Dan operasi ini akan menelan lebih banyak lagi. Ia tahu itu. Semua orang di ruangan ini tahu itu. Tapi tidak ada yang mengucapkannya.
"Rajawala sekarat," kata Rangga akhirnya. Semua mata menoleh padanya. "Intinya retak. Setiap dorongan sinkronisasi memperpendek umurnya. Aku mungkin hanya punya satu kesempatan untuk memutar kunci itu sebelum mesinnya gagal total. Kalau aku salah perhitungan, kalau aku terlambat sedetik — Rajawala mati di dasar Palung, dan kunci tidak pernah diputar."
"Maka jangan terlambat," kata jenderal tua.
Rangga menatap peta lama-lama. Garis dari Pusat ke pantai. Dari pantai menyeberangi lautan. Ke mulut gelap Palung Tengah. Jalur menuju tempat di mana kakaknya mengajarinya bahwa yang melindungi tidak boleh lari.
"Kapan kita berangkat?" tanya Rangga.
Laras menatapnya, dan untuk sesaat ada sesuatu yang lembut di mata perwira yang biasanya keras itu. "Tiga hari. Kita persiapkan semua, lalu kita berangkat. Setelah ini, tidak ada garis pertahanan lagi. Cuma ini. Cuma Palung."
Misi mustahil itu kini punya bentuk. Punya peta. Punya tanggal.
Dan Rangga, montir berusia tujuh belas tahun yang dulu bersumpah tidak akan pernah jadi pilot, menatap lubang gelap di tengah lautan yang akan menelannya — dan tidak berpaling.