Suara di jaringan datang terputus-putus, penuh statik, penuh ledakan.
"Mereka terlalu banyak di utara!" Itu suara Bayu, pilot termuda kedua setelah Rangga, suaranya pecah. "Mereka tidak berbalik. Mereka tahu Rajawala lewat selatan — mereka mengirim sebagian untuk memotong koridornya!"
Rangga membeku di tengah lautan. "Apa?"
"Kelas Kraken, tiga ekor, bergerak ke selatan menuju jalurmu," Adit melapor, jarinya jelas menari di panel jauh di pos komando. "Mereka akan menutup koridor sebelum kau mencapai laut dalam. Kau akan terjebak di antara mereka dan gerombolan utama."
"Aku tahan," kata Bayu.
"Bayu, jangan—" Laras mulai.
"Aku yang paling dekat dengan koridor selatan, Komandan. Kalau aku tidak menahan ketiga Kraken itu, Rajawala terkepung dan misi gagal." Suara Bayu anehnya tenang sekarang. Terlalu tenang. "Kalian semua sudah ajari aku ini. Yang melindungi tidak boleh lari."
Lewat sonar Rajawala, Rangga merasakannya — satu titik Baja melesat ke selatan, memotong jalur tiga Kraken raksasa, berdiri di antara monster-monster itu dan koridor yang harus tetap terbuka.
"Bayu, dengarkan aku," kata Rangga cepat, mendorong Rajawala ke depan, mencoba mencapainya. "Aku datang. Tahan sebentar, aku—"
"Tidak." Bayu tertawa kecil, dan dalam tawa itu ada ketakutan yang ditelan dan keberanian yang mengalahkannya. "Kalau kau berbalik untuk menolongku, kita berdua mati dan kunci tidak pernah diputar. Kau tahu itu. Aku tahu itu." Jeda. Ledakan. "Bajaku sudah rusak parah. Aku tidak akan keluar dari sini hidup-hidup. Tapi aku bisa memilih bagaimana."
Lewat sonar, Rangga melihat Baja Bayu menerjang ke tengah tiga Kraken, tentakel-tentakel raksasa menghantamnya dari segala arah, melilitnya, meremasnya. Dan Bayu tidak mundur. Ia mencengkeram tentakel-tentakel itu, menarik ketiga Kraken merapat ke arahnya, menahan mereka semua di satu titik agar tidak ada yang lolos ke koridor.
"Rangga." Suara Bayu, lewat statik yang makin tebal. "Selesaikan ini. Untuk kami semua. Untuk Bara. Untuk—"
Lalu cahaya.
Putih, tiba-tiba, menyilaukan bahkan di kedalaman air. Bayu menarik inti reaktornya. Ledakan menghapus Baja-nya dan ketiga Kraken bersamanya, gelombang kejut menggetarkan lautan, mendorong Rajawala mundur belasan meter.
Saat air mengendap, koridor selatan kosong. Bersih. Bayu telah menyapunya dengan nyawanya sendiri.
Rangga berdiri diam di dasar laut, sinkronisasi membuatnya merasakan getaran ledakan itu di seluruh tubuh logamnya seperti gema di dada. Di radio, untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Hanya statik dan suara air. Seolah seluruh skuadron menahan napas bersama.
Sembilan Baja. Lalu delapan. Tujuh. Enam. Lima.
Sekarang lima.
Rangga ingat pertemuan pertamanya dengan Bayu, di hanggar Pusat, hari-hari awal yang canggung. Bayu yang menyodorkan tangannya dengan ragu dan berkata, "Kita berdua yang termuda di sini. Kalau yang tua-tua menatap kita seperti kita tidak pantas, jangan dengarkan. Aku juga sering ditatap begitu." Saat itu kalimat sederhana itu membuat Rangga merasa sedikit kurang sendirian. Sekarang Bayu tidak ada lagi, dan Rangga adalah yang termuda yang tersisa, sendirian di dasar laut.
"Bayu..." bisik Rangga.
"Dia membuka jalanmu." Suara Laras serak, menahan sesuatu yang tidak boleh ia tunjukkan di tengah pertempuran. "Jangan biarkan itu sia-sia. Bergerak, Rangga. Jalurnya terbuka. Itu hadiahnya untukmu — gunakan."
Rangga menutup matanya sekejap di dalam ruang kemudi. Ia teringat Bayu yang termuda, yang dulu mengangguk canggung saat pertama kali mereka berkenalan, yang sama-sama merasa terlalu muda untuk menggerakkan raksasa logam. Sekarang Bayu adalah cahaya yang padam di dasar laut, satu lagi penjaga yang tidak pulang.
"Aku tidak akan menyia-nyiakannya," kata Rangga, suara mengeras. "Aku janji, Bayu."
Ia mendorong Rajawala ke depan, menembus koridor yang dibuka dengan darah, dan dasar laut mulai menurun di bawahnya — landai dulu, lalu curam, lalu menukik ke kegelapan.
Mulut Palung Tengah ada di depan, menganga seperti luka di dunia.
Dan Rangga terus berjalan menuju ke dalamnya, membawa serta nama setiap orang yang telah jatuh agar ia bisa sampai.