Cahaya ditinggalkan di atas.
Rajawala turun melalui Palung seperti batu yang tenggelam di sumur tanpa dasar. Tekanan menggencet logam dari segala arah; Rangga merasakannya lewat sinkronisasi sebagai beban yang menekan dadanya sendiri, setiap meter lebih berat dari yang sebelumnya. Lampu eksternal Rajawala menembus air hanya beberapa meter, lalu menyerah pada kegelapan total.
Tidak ada lagi suara Adit. Tidak ada jaringan. Tidak ada Laras. Hanya Rangga, mesin sekarat, dan lubang yang menelannya.
Lalu kegelapan mulai berbicara.
Bukan dengan kata. Dengan tekanan di dalam pikirannya. Mula-mula seperti bisikan di tepi kesadaran — sebuah kehadiran yang sangat besar mulai menyentuh batinnya lewat sinkronisasinya yang dalam dengan Rajawala. Sang Induk. Bahkan dari kejauhan, kesadaran kolektif itu menjalar ke atas dari dasar Palung, masuk ke pikiran Rangga melalui mesin yang menyatu dengannya.
*Kenapa kau di sini.*
Itu bukan suara. Itu pengetahuan yang ditanamkan langsung ke kepalanya, seperti tangan dingin yang membuka isi tengkoraknya. Rangga tersentak di kursi.
*Kenapa kau melawan. Kau begitu kecil. Kalian semua begitu kecil. Kalian sudah kalah lima belas tahun lalu. Kenapa kau masih bernapas.*
"Keluar dari kepalaku," geram Rangga, mendorong Rajawala lebih dalam.
Kehadiran itu tidak keluar. Ia menggeledah. Sama seperti dulu Rajawala menggeledah pikiran Rangga di sinkronisasi pertama — tapi ini berbeda, ini bukan mencari, ini merobek. Sang Induk mengaduk kenangan Rangga, mencari kelemahan, mencari celah untuk masuk dan mematahkannya.
Dan ia menemukan Bara.
Tiba-tiba Rangga kembali ke Tanjung, malam itu, menatap layar radar saat titik Garuda berkedip dan hilang. Rasa sakit kehilangan kakaknya membanjir kembali, segar seolah baru kemarin, dan Sang Induk menekan lukanya seperti jari yang menusuk daging terbuka.
*Kakakmu mati untuk apa. Lihat. Kalian masih sekarat. Pengorbanannya tidak mengubah apa-apa. Yang melindungi tidak boleh lari — bukankah itu mottonya? Dan ia lari ke kematian. Meninggalkanmu. Untuk apa.*
Sinkronisasi Rangga goyah. Tujuh puluh persen. Enam puluh delapan. Rasa sakit emosional itu lebih berbahaya daripada luka fisik mana pun — ia menggerogoti dari dalam, melemahkan cengkeraman Rangga pada mesin.
"Tidak," kata Rangga, gigi terkatup. "Kau salah."
*Buktikan.*
Rangga menarik napas dalam tubuh logamnya yang tenggelam. Ia teringat kata-kata Danur di ruang simulasi: *kuncinya tahu siapa kau, begitu kuat, sampai mesin pun tidak bisa menghapusmu.* Dan sekarang bukan mesin yang mencoba menghapusnya. Tapi prinsipnya sama.
Siapa aku.
"Aku Rangga Pradipta," katanya, dan setiap kata adalah jangkar. "Adik Bara. Montir dari Tanjung. Aku tidak datang ke sini untuk balas dendam. Aku tidak datang untuk kemuliaan. Bara tidak mati untuk apa-apa — ia mati supaya dua ratus orang hidup. Dan aku turun ke lubang ini supaya jutaan orang hidup. Itu bukan kekalahan. Itu pilihan."
Kehadiran itu menggeram di kepalanya, tidak suka.
"Kau pikir karena kau besar, kau menang," lanjut Rangga, sinkronisasi mulai merangkak naik kembali — tujuh puluh, tujuh puluh lima. "Tapi kau tidak mengerti apa-apa soal kami. Kau cuma punya gerombolan yang terikat padamu seperti budak. Kami punya orang-orang yang memilih untuk mati demi orang asing. Bayu memilih. Bara memilih. Aku memilih. Itu yang tidak akan pernah kau pahami — dan itu yang akan menghancurkanmu."
Sinkronisasi melonjak ke delapan puluh persen. Rajawala bergetar di sekelilingnya, dan di dada mesin, garis merah pudar mulai berpijar lebih terang dari sebelumnya, seolah menanggapi tekad pilotnya.
Sang Induk menarik diri dari pikirannya — bukan kalah, tapi terkejut. Penyusup ini tidak patah seperti yang lain. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, sesuatu yang kecil menolak takut.
Kegelapan di bawah mulai menipis. Bukan menjadi terang — tapi menjadi cahaya temaram yang aneh, kemerahan, berdenyut seperti jantung raksasa. Rajawala turun terus, dan dinding Palung melebar menjadi rongga besar di dasar dunia.
Dan di tengah rongga itu, dalam cahaya merah yang berdenyut, Rangga melihat bentuk pertama dari Sang Induk.
Sinkronisasi delapan puluh dua persen. Inti Rajawala berdenyut, retakannya menyala panas, hitung mundur menuju kegagalan terus berjalan.
Rangga mengeratkan genggamannya. Ia sudah turun sejauh ini. Tidak ada jalan kembali sekarang — hanya ke depan, ke jantung yang berdenyut di dasar lautan.
"Aku menemukanmu," bisik Rangga ke kegelapan merah. "Akhirnya."