Jantung Sang Induk tidak terlihat seperti jantung.
Saat Rangga menembus lapisan terdalam jaringan cahaya, ia menemukan sebuah bola energi yang berdenyut — seukuran bunker Tanjung, menggantung di rongga tubuh monster itu, memancarkan cahaya dingin yang menyakitkan untuk dipandang. Dari sinilah setiap perintah lahir. Dari sinilah ribuan Leviathan diberi arah. Ini bukan organ. Ini otak kolektif seluruh spesies.
Dan untuk mencapainya, Rangga harus berada di dalam Sang Induk.
Tentakel-tentakel menutup di belakangnya begitu ia masuk, mengurungnya, menggencet Rajawala dari segala sisi. Rangga merasakan pelat penyok di punggungnya seperti tulang patah. Darah mengalir lebih deras dari hidung dan kini dari telinganya. Sinkronisasi seratus tujuh persen, dan setiap angka di atas seratus adalah harga yang dibayar dengan dagingnya sendiri.
"Sekarang, Adit." Ia hampir tak bisa bicara. "Beri aku seluruh kode. Tidak bertahap. Semuanya. Sekaligus."
"Rangga, kalau kukirim semuanya lewat sinkronisasi penuh, beban di sistem sarafmu—"
"SEKARANG."
Adit mengirimnya.
Seluruh data perancang Rajawala — kode yang dirancang lima belas tahun lalu untuk melawan tepatnya momen ini — mengalir lewat inti yang retak, lewat sinkronisasi penuh Rangga, dan menghantam jantung Sang Induk dari jarak nol.
Tidak ada waktu bagi monster itu untuk menulis ulang dirinya.
Sang Induk menjerit.
Kali ini Rangga mendengarnya — bukan dengan telinga, tapi di seluruh keberadaannya, sebuah jeritan yang mengguncang Palung dan menjalar ke laut, ke ribuan Leviathan yang serentak terhuyung. Bola energi di depannya berkedip liar, retak, dan dari retakan itu menyembur cahaya yang membutakan.
Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, Sang Induk terluka.
Di permukaan, di garis pantai yang membara, Laras melihat keajaibannya: gerombolan Leviathan yang menyerbu Pusat mendadak kejang. Berbalik. Sebagian menjerit dan menghantam satu sama lain. Sang Induk terlalu sibuk menahan luka di jantungnya untuk mengendalikan mereka.
"Dia berhasil!" seorang pilot berteriak. "Komandan, lihat — mereka kacau lagi! Tapi kali ini lebih parah—"
"Karena ini bukan kunci yang diputar dari luar," bisik Laras, menatap layar dengan mata berkaca. "Ini dari dalam. Dia melukainya dari dalam."
Tapi di dasar Palung, kemenangan itu punya harga.
Rangga merasakan jantung Sang Induk yang terluka membalas — gelombang energi terakhir, dorongan keputusasaan, yang menghantam Rajawala langsung. Pelat dada robek. Inti yang retak di dada Rajawala mengeluarkan bunyi yang membuat Rangga membeku: bunyi logam yang menyerah.
"Inti gagal!" Adit berteriak. "Rangga, inti reaktor mulai gagal total — kau harus keluar, kau harus keluar SEKARANG—"
Rangga menatap jantung Sang Induk yang terluka tapi belum mati. Berkedip. Mulai pulih. Monster itu sekarat, tapi tidak sekarat cukup cepat. Jika ia diberi waktu — beberapa menit, mungkin kurang — ia akan menyembuhkan jantungnya dan merebut kembali kendali, dan semua ini akan sia-sia.
"Adit," kata Rangga, suaranya tercekik darah. "Kunci, kode, sinkronisasi penuh — itu semua melukainya, tapi tidak membunuhnya. Kenapa?"
Jeda panjang di radio. Saat Adit menjawab, suaranya berat seperti orang yang sudah lama menghindari kebenaran itu. "Karena data perancang hanya dirancang untuk melumpuhkan, bukan menghancurkan. Mereka berharap ada cara lain untuk membunuhnya. Tidak pernah ada. Satu-satunya hal yang cukup besar untuk menghancurkan jantung sebesar itu adalah—"
"Ledakan inti reaktor," kata Rangga pelan.
Adit tidak menjawab. Tidak perlu.
Rangga menatap denyut merah di dada Rajawala — inti yang retak, sekarat, tapi masih menyimpan kekuatan untuk satu cahaya putih terakhir. Cahaya yang sama yang ia lihat beberapa minggu lalu, di pesisir Tanjung, saat kakaknya memilih untuk tidak pulang.
Luka tidak cukup. Ia harus mati. Dan hanya ada satu cara.
Dan Rangga, dengan inti yang sekarat di dadanya, mulai memahami harga yang sama persis dengan yang dibayar kakaknya — dan untuk pertama kalinya, mulai bertanya-tanya apakah ada cara untuk membayarnya tanpa mati.