"Aku tidak mau mati seperti dia."
Rangga mengucapkannya pelan, di dalam gelap, dengan Sang Induk berdenyut raksasa di sekelilingnya. Bukan kepengecutan. Ia sudah lama melewati titik takut mati. Ia mengucapkannya karena itu benar, karena ia teringat seorang anak — dirinya sendiri, tujuh belas tahun, berdiri di hanggar Tanjung — yang bersumpah tidak akan pernah ada anak lain yang harus melihat kakaknya hilang di layar radar.
"Adit," lanjutnya. "Aku akan menanamkan inti ini ke jantungnya. Itu sudah pasti. Tapi aku tidak akan menarik tuasnya lalu duduk diam menunggu seperti Bara. Kakakku tidak punya pilihan lain. Aku ingin punya."
Di permukaan, di ruang kendali Pusat yang berdebu dan penuh layar berkedip, Adit sudah berdiri membungkuk di atas skema lama Rajawala — blueprint prototipe yang ditemukannya di arsip terlarang berminggu lalu. Tangannya gemetar menyusuri garis-garis tinta pudar.
"Dengar baik-baik," katanya cepat, suara berlomba dengan waktu. "Rajawala prototipe seri terakhir. Generasi sinkronisasi baru. Dan generasi baru itu... mereka punya sesuatu yang tidak dimiliki Garuda. Mereka punya jalur eject."
Jantung Rangga berdebar. "Eject?"
"Kapsul pelarian darurat. Dirancang untuk melepas pilot dari kokpit dalam keadaan kritis. Tapi—" Adit menelan ludah. "Tapi tidak pernah diuji. Proyek dibatalkan sebelum sempat. Dan ada masalah. Kalau kau menarik inti reaktor, ledakannya butuh waktu untuk mencapai puncak. Bukan instan. Ada... celah. Celah waktu sempit antara saat reaktor mulai melebur dan saat ia benar-benar meledak."
"Berapa lama celahnya?"
Hening sejenak. Suara Adit hampir tak terdengar. "Kalau hitunganku benar... empat detik. Mungkin lima."
Empat detik. Empat detik antara menarik tuas dan menjadi cahaya. Empat detik untuk memutus sinkronisasi, melepas jarum dari tengkuk, dan menembakkan kapsul eject ke atas, keluar dari jantung monster, sebelum semuanya menjadi putih.
"Tapi ada syaratnya, Rangga, dan ini bagian yang membunuhku untuk mengatakannya." Adit menarik napas. "Untuk menembus jantung Sang Induk, untuk menanamkan inti cukup dalam supaya ledakannya tidak ditelan dagingnya begitu saja, kau butuh sinkronisasi melampaui seratus persen. Penuh. Total. Menyatu sepenuhnya dengan mesin. Dan pada sinkronisasi setinggi itu... memutus koneksi di detik terakhir bisa membunuhmu sama pastinya dengan ledakan itu sendiri. Otakmu, syarafmu — mereka akan robek kalau koneksi diputus terlalu cepat atau terlalu lambat."
"Jadi aku harus menyatu penuh untuk masuk," kata Rangga lambat, "lalu memutusnya sempurna dalam empat detik untuk keluar."
"Ya."
"Mustahil."
"Hampir," koreksi Adit. "Hampir mustahil. Tapi hampir bukan tidak. Kakakmu tidak punya 'hampir'. Garuda tidak punya jalur eject. Bara menarik tuas itu tahu seratus persen ia tidak akan pulang." Suara Adit menguat, keras kepala, putus asa, penuh harap. "Kau punya empat detik yang tidak dimiliki kakakmu, Rangga. Empat detik. Jangan kau buang."
Rangga menatap jantung berdenyut di depannya. Garis merah Rajawala berpijar di sekujur tubuhnya, dan untuk sesaat — entah halusinasi sinkronisasi tinggi, entah sesuatu yang lebih dalam — ia merasakan kehadiran lain di intinya. Bukan suara. Bukan hantu. Hanya sebuah tekad yang tertanam di logam ini sejak lama, sebuah niat yang menunggu pilot yang tepat.
"Pak Surya pernah bilang," gumam Rangga, "Bara selalu berharap aku yang cocok dengan mesin ini. Bukan dia. Karena dia tidak mau aku jadi pilot. Dia mau aku hidup."
"Maka hiduplah," kata Adit. "Itu perintah dari teknisimu."
Rangga tersenyum tipis di dalam gelap. "Hitung mundurnya untukku, Adit. Saat aku menarik tuas itu, kau yang menghitung empat detiknya. Aku akan terlalu sibuk untuk menghitung sendiri."
"Aku tidak akan meleset satu detik pun."
"Aku tahu."
Di luar, celah jantung Sang Induk mulai menutup.
"Sekarang," kata Rangga, dan mendorong sinkronisasi ke arah angka yang seharusnya membunuhnya.