Mereka membawa bangkainya pulang dari laut tiga minggu kemudian.
Operasi pengangkatan butuh waktu lama. Palung Tengah dalam dan gelap, dan apa yang tersisa dari Rajawala—dan dari Sang Induk yang dihancurkannya—tersebar di dasar laut yang dulu menjadi sarang. Tim penyelam dan kapal derek bekerja berhari-hari. Rangga bersikeras ikut, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih, dan tak seorang pun cukup berani menahannya.
Saat derek akhirnya mengangkat torso Rajawala ke permukaan, Rangga berdiri di geladak kapal dan tak bisa bicara.
Mesin itu hancur. Tak ada cara lain mengatakannya. Lengan kanannya hilang sepenuhnya. Dada—tempat inti reaktor pernah berdenyut—menganga, hangus, sebuah kawah hitam tempat ledakan yang membunuh Sang Induk bermula. Garis-garis merah pudar yang dulu berpijar saat mesin hidup kini benar-benar pudar. Gunmetal kelabu itu kusam dan tergores, diselimuti garam laut.
Tapi wajahnya—lempeng baja datar tanpa fitur yang selalu Rangga anggap seperti wajah—masih utuh. Masih menghadap ke atas, ke langit, seperti memandang sesuatu yang jauh.
"Halo," bisik Rangga, terlalu pelan untuk didengar siapa pun di tengah angin laut. "Kau melakukannya. Kita melakukannya."
Tak ada jawaban. Tentu saja tak ada. Mesin itu mati—benar-benar mati kali ini, intinya padam selamanya di dasar Palung. Tak ada lagi dengkuran di belakang pikiran Rangga, tak ada lagi kesadaran kedua yang menggeledah niatnya dan bertanya *kenapa kau di sini*. Hanya logam dingin dan hening.
Adit datang menghampiri, membawa pemindai data portabel. Ia memindai sisa inti dengan hati-hati, lalu menggeleng pelan. "Kosong. Tidak ada data yang tersisa. Saat inti meledak, semuanya terbakar—termasuk arsip perancang, termasuk..." Ia ragu.
"Termasuk Bara," Rangga menyelesaikan.
Adit mengangguk. "Warisan yang tertanam di intinya. Data dan tekad yang menguatkanmu di Palung. Semua itu pergi bersama ledakan."
Rangga menatap kawah hangus di dada Rajawala. Anehnya, ia tak merasa kehilangan seperti yang ia kira. Bara sudah lama pergi—gugur di Tanjung di hari Rangga kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Yang tertanam di inti Rajawala hanya gema, jejak, bayangan dari pria yang ia cintai. Dan gema itu sudah melakukan tugasnya: menguatkan Rangga saat ia paling lemah, lalu pergi.
"Tahu kenapa Rajawala memilihku?" kata Rangga, lebih pada dirinya sendiri daripada Adit.
"Karena kau datang untuk melindungi, bukan untuk menang."
"Itu yang kupikir juga, dulu." Rangga meletakkan tangannya di permukaan logam yang dingin dan basah. "Tapi sekarang aku rasa ada lebih dari itu. Bara mencoba menjadi pilotnya bertahun lalu dan ditolak. Bukan karena dia tak layak—dia pilot terbaik yang pernah ada. Tapi karena dia mencari kemenangan. Mesin ini menunggu. Lima belas tahun terbengkalai di hanggar Tanjung. Menunggu seseorang yang bukan mencari pertarungan." Suaranya pecah sedikit. "Kakakku berharap aku, bukan dia, yang cocok. Aku menemukan itu di arsip. Dia selalu berharap aku tidak perlu jadi seperti dirinya."
Angin laut bertiup. Garam menggigit wajah Rangga.
"Dan akhirnya aku jadi seperti dia. Tapi aku hidup. Itu satu-satunya hal yang dia inginkan dan tak bisa dia berikan pada dirinya sendiri."
Mereka membawa Rajawala kembali ke daratan dan meletakkannya di lapangan terbuka dekat dinding Pusat—tidak di hanggar, tidak disembunyikan. Di tempat orang bisa melihatnya. Rangga menolak usulan untuk memugarnya, untuk menjadikannya monumen mengilap yang palsu. Biarkan ia hancur, kata Rangga. Biarkan luka-lukanya terlihat. Itu yang membuatnya jujur.
Malam itu, sebelum pergi, Rangga berdiri sendiri di bawah dada Rajawala yang menganga. Tempat di mana, di bab pertama hidupnya yang baru, lampu inti merah pernah berkedip pada montir muda yang bersumpah tak akan pernah jadi pilot.
"Terima kasih sudah memilihku," katanya. "Sekarang istirahatlah. Kau sudah melindungi cukup banyak orang untuk seratus mesin."
Lalu ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan baja terakhir untuk beristirahat di bawah bintang-bintang yang akhirnya bisa terlihat tanpa takut.