Kesehatan memang salah satu kebutuhan dasar manusia. Namun, untuk memenuhi kebutuhan ini terkadang perlu biaya yang tidak sedikit. Seperti kami saat ini. Masuk ruang rawat inab sesuai dengan kemampuan finansial. Berada di bangsal dengan kapasitas empat sampai enam pasien.
Kita menempati kamar nomor tiga diberi nama mawar. Untuk memudahkan penyebutannya sering disingkat dengan mawar tiga. Semua bangsal terisi dengan keluhan yang beragam. Ada satu yang menarik perhatianku. Tetangga samping kamar yang dinding pemisahnya adalah hordeng berwarna 'ungu'. Uhuks!
Halunya si penulis. Pengennya warna ungu sesuai dengan warna pavoritnya. Nyatanya berwarna coklat.
Seorang perempuan yang kutaksir berumur enam puluhan. Rosidah namanya. Awalnya aku tidak begitu peduli. Fokus dengan urusan sendiri.
Bu Idah terbaring dengan bantuan oksigen. Katanya sudah beberapa bulan menempati bangsal disini. Sebelumnya, Bu Idah berada diruang ICU. Sekitar dua mingguan. Setelah agak mendingan dipindahkanlah disini.
Organ tubuhnya mati rasa. Hanya gerakan mata yang masih berfungsi sebagai penyambung komunikasi.
Saat terbaring tidak berdaya seperti itu, Bu Idah dijaga oleh dua orang laki-laki. Kadang bergantian, terkadang juga bersamaan. Satu laki-laki adalah suaminya dan satunya lagi anak lelakinya. Paling sering dari keduanya adalah anak lelakinya. Lah, darimana kamu tahu? Sebagai tetangga yang baik, aku sering mencuri dengar ketika keduanya bercerita.
Setiap pagi anak lelakinya memandikan dengan cara di lap dengan air hangat yang sudah disediakan rumah sakit. Perlahan dibersihkanlah anggota tubuh Bu Idah. Terkadang sang anak meminta bantuan perawat untuk mengganti pakaiannya.
Bila tiba saatnya makan, sang anak dengan telaten menyuapi Bu Idah bahkan kadang juga membersihkan puknya. Tak tampak jijik diwajahnya. Tergambar sekali ketulusan dan keikhlasannya. Harapannya, Bu Idah bisa sembuh dan beraktivitas seperti biasa.
Terkadang aku mendengar sang anak bercerita. Apa saja. Tentang pekerjaan, temannya, atau hal-hal yang tidak penting yang dia temui hari itu. Walau tak ada respon aku yakin Bu Idah mendengarnya.
Sering juga aku mendengar sang anak memutar murottal disamping Bu Idah. Mungkin sudah ribuan doa dan harap yang ia pinta kepada Robbnya untuk kesembuhan Bu Idah. Minimal ada anggota tubuh yang bisa digerakkan.
Lain waktu, aku melihat anaknya duduk termangu. Pandangannya kosong berkelana jauh entah kemana. Bila ada gerakan dari Bu Idah sekecil apa pun refleks dan penuh semangat dia akan memanggil perawat. Ada sejuta harapan diwajahnya.
Ah, lelaki baik ini. Wajahnya yang sederhana namun sudah membuatku terkesima akan sikap dan lakunya. Kasih sayangnya sungguh luar biasa. Beruntung sekali perempuan yang dapat memiliki hatinya.
Loh, ada apa ini. Kok aku jadi baper.
Hingga...
Aku mendengar ia menelpon. Entah disengaja atau tidak speaker henponnya terdengar jelas seantero kamar.
"Ayah.... Kapan pulang?. Rio kangen dengan ayah..".
Glek. Ada yang patah tapi bukan ranting. Ada yang remuk tapi bukan tulang. Ada yang pecah tapi bukan kaca.
Hatiku.
Berdenyut.
Sakit.
"Sabar, yaa Nak... Ayah juga kangen. Doain Mbah biar cepat sehat".
Selanjutnya aku tidak mendengarkan lagi percakapan mereka. Sibuk menata hati yang terserang goncangan maha dahsyat bernama terluka.
Apakah rasa kagum ini berkurang? Tentu saja tidak Rhoma!
Aku masih tetap memperhatikan lelaki itu dan juga mendoakan untuk kesembuhan Bu Idah.
Selain itu, aku juga berdoa untuk diriku sendiri.
"Ya, Robb.. sisakan satu lagi lelaki baik sepertinya".
Sampai kami pulang mereka masih disana. Bu Idah sudah ada sedikit kemajuan. Tangan dan kakinya mulai bisa digerakkan. Mungkin butuh proses yang panjang untuk kesembuhannya. Aku yakin dengan kesabaran, ketelatenan dan keikhlasan serta doa dari anaknya semua akan dipermudah.
Tidak ada hal yang sia-sia selagi kita yakin dan terus berusaha dibarengi dengan doa dan ikhtiar.
Semoga Bu Idah segera sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan keluarnya dan untuk lelaki sederhana itu semoga berbahagia bersama keluarga kecilnya.
Sahabat sholihah,
Birrul walidain merupakan bagian dalam etika Islam yang menunjukkan tindakan bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya. Berbakti kepada orang tua ini hukumnya wajib bagi setiap muslim.
Berbakti kepada orang tua bukan sekedar untuk memenuhi tuntunan norma kesopanan, namun sebagai salah satu cara mentaati perintah Allah SWT.
“Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepadaKu kembalimu”. (QS. Luqman: 14)
Kita juga dapat belajar dari kisah Uwais Al-Qarni. Seorang pemuda yang tidak terkenal, miskin, dan memiliki penyakit kulit. Tak ada yang mengenalnya. Namun, Ia menjadi istimewa dimata Rasulullah SAW karena bakti dan ketaatannya pada sang ibu. Uwais tidak pernah sekalipun mengeluh untuk mengurusi ibunya yang telah renta dan memiliki keterbatasan fisik. Ibunya mengalami kelumpuhan dan menderita kebutaan. Bahkan Uwais sanggup memenuhi semua keinginan sang ibu termasuk keinginannya untuk berhaji.
Sungguh berat perjuangan Uwais Al-Qarni untuk memenuhi pinta sang ibu. Dengan tekad berbakti yang kuat, akhirnya ia sanggup menghajikan ibunya dengan bermodalkan punggung. Ia menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah.
Karena bakti yang tulus dan ikhlas kepada ibunya, Nabi Muhammad SAW memanggilnya ‘Penghuni Langit’.
Dari kisah tersebut, mari kita memuliakan orang tua, terutama ibu sebagai jalan membuka pintu gerbang kesuksesan. Ilmu itu ibarat bekal, sedangkan berbakti kepada orang tua ibaratnya kunci gerbang kesuksesan. Sangat percuma bagi kita yang banyak bekal akan tetapi tidak memiliki kunci untuk membuka gerbang kesuksesan itu.