Masih diruang yang sama, mawar tiga. Kali ini kita ke tetangga depan yang menempati bangsal tengah disamping bangsal Bu Rita. Namanya Linda Putri Aisyah.
Awal jadi penghuni baru disini, kami dikejutkan dengan kehebohan barang bawaannya yang super banyak seperti mau pindahan. Hambalnya aja dua. Belum pernak pernik lainnya. Berkardus-kardus yang entah isinya apa.
Kemudian yang mengantar Mba Linda pun mungkin sekeluarga besarnya ikut semua. Ruuame full. Dan tidak mungkin dong semuanya tetap tinggal disini. Mereka hanya mengantar lalu pulang. Memastikan Mba Linda sudah mendapatkan kamar. Yang tersisa untuk menjaganya dua orang. Adik laki-laki dan suaminya.
Mba Linda ini masih muda. Usianya dua puluh lima. Entah penyakitnya apa. Saya hanya melihat ada benjolan disekitar lehernya yang ditutupi perban.
Pernah ketika dokter membuka perban untuk diganti lalu memasukkan obat. Saat itu yang menemaninya sang adik. Saat dibuka, adiknya yang melihat terperanjat lalu berlari keluar bangsal. Beberapa barang ada yang tertendang. Kita yang mendengar kaget dengan tingkah adiknya itu. Apalagi dia sambil berteriak dan menutup kedua tangannya ke muka.
"Gak mau lihat.... Gak mau lihat...".
"Ihh, kayak lorong menuju neraka. Seram!".
Adiknya ini apa tidak menyadari kalau yang dia ocehin itu kakaknya sendiri. Apa sebegitu menakutkankah di balik perban itu.
Aku pun jadi penasaran. Sering mencuri-curi pandang ketika hordengnya dibuka atau ketika Mba Linda sedang bercanda dan bercerita dengan pasien lainnya. Sayangnya, tidak pernah terlihat. Mungkin belum rezekinya untuk melihat luka tersebut.
Kedatangan Mba Linda yang diantar oleh kerabatnya yang banyak ini aku pikir dia ratu di keluarganya.
Kenapa aku bilang begitu?
Tingkahnya itu loh. Ya Tuhan....
Dikit-dikit Mba Linda ini manggil ayah. Panggilan sayang untuk suaminya.
"Yah.. tangan Adek sakit". Rintihnya. Padahal lehernya yang diperban.
"Yah, Adek pengen minum es". Rengeknya disuatu waktu. Padahal dokter sudah menyarankan untuk tidak minum air es apapun bentuknya. Dengan telaten sang suami menjelaskan dan memberikan pengertian.
"Yah...". Panggilnya minta ambilkan sesuatu.
"Yah lagi". Entah apa yang diinginkannya
"Ayah...".
Begitulah cinta.
Saya pikir Mba Linda ini bernafas pun juga perlu bantuan si ayah.
Kalau cinta mungkin tidak akan memberatkan. Hanya kita yang mendengar dan melihatnya seperti tidak ada wibawanya lagi. Terlalu berlebihan menyek-menyeknya.
Terakhir nih ya...
Tengah malam saat terjaga aku mendenger sayup-sayup Mba Linda memanggil si ayah lagi.
"Yah... Haus". Tidak ada respon.
"Haus... Yah". Hening.
"Haus...".
Sementara si suami masih terlelap dialam mimpinya sehingga tidak merespon panggilannya.
Apa yang terjadi saudara-saudara?
Mba Linda menangis sesenggukan. Tangisannya membuat heboh penghuni bangsal lain yang juga tengah terlelap. Mereka mengira tengah terjadi hal genting dengan Mba Linda.
Nyatanya Mba Linda hanya kehausan. Dan tangisannya itu seperti anak kecil yang dilarang oleh ibunya untuk membeli permen. Ckck! Menurutku yang melihat kejadian itu sungguh memalukan.
Saat si suami terbangun karena suara tangisannya,
Apa kata Mba Linda?
"Ayah sudah gak sayang lagi. Sudah gak perhatian lagi dengan Adek, huhuhuhuhu..".
Ya, Tuhan....