Beberapa hari kemudian mereka pun diizinkan pulang. Ruangan sepi kembali. Karena sudah menyesuaikan situasinya, jadi tidak terlalu cemas seperti diawal masuk.
Beberapa jam kemudian, perawat menyarankan kami pindah kamar yang berdekatan dengan tempat mereka jaga supaya mudah melakukan perawatan dan mengontrolnya.
Di kamar yang baru ini, ada tiga pasien termasuklah kami. Tetangga samping bangsal pun sudah bersiap-siap untuk pulang. Tinggal menyelesaikan urusan administrasinya.
Tetangga samping ini, walau pun hanya beberapa jam aku juga punya cerita untuknya.
Namanya Lina Atmaja. Bersitatap dengan Bu Lina ketika aku meminta izin untuk mengecas hp yang letaknya tepat disamping tempat tidurnya. Usianya sekitar enam puluhan.
Bu Lina sudah sering keluar masuk rumah sakit. Para perawat sudah mengenalnya.
Selama Bu Lina dirawat yang menjaganya adalah asisten rumah tangga anaknya dan keponakannya yang dipercaya untuk mengurus segala keperluan selama dirawat disini
Kenapa bisa begitu? Kok tahu?
Karena selama mereka menunggu administrasi nya selesai aku mendengar Bu Lina bercerita kepada IRT tersebut. Lebih tepatnya curhat.
Kata Bu Lina untuk apa dia cepat-cepat pulang ke rumah. Tidak ada gunanya. Lebih enak tinggal di rumah sakit. Banyak yang memperhatikan, menjaga, dan merawatnya.
Di rumah sakit, Bu Lina bisa bercerita dengan pasien yang lain, bisa tertawa dan menjadi penghibur laranya. Anak-anaknya juga menjadi lebih perhatian walau sebatas hanya bertanya lewat telepon. Setidaknya mereka mencemaskannya.
Sambil tertawa Bu Lina berujar, "Tak apa menghabiskan uang anak-anak untuk biaya pengobatan ini. Mereka punya uang yang banyak. Tidak akan habis hanya untuk biaya seminggu dirawat disini".
Aku sendiri yang mendengarnya menjadi sedih. Diusia senjanya Bu Lina butuh perhatian dari keluarga terutama anak-anaknya. Mungkin dengan bolak baliknya ke rumah sakit bentuk protesnya kepada mereka.
"Makanya ibu itu jangan keras kepala. Susah diatur. Obat yang diberikan dokter di minum dengan teratur biar cepat sembuh". Nasehat IRTnya pada Bu Lina.
"Sudah diminum kok. Kamu saja yang tidak tahu". Bu Lina menjawab dengan sewot.
"Kalau obatnya diminum dengan teratur, ibu bakalan sembuh. Saya capek harus bolak balik jaga ibu. Kalau ada apa-apa saya yang disalahin".
Bu Lina tertawa hambar. "Maaf yaa, Tin kalau kamu yang direpotkan. Anak-anak saya hanya taunya bayar kamu, rumah sakit, dan saya sembuh. Padahal bukan itu yang saya ingin".
Hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Eh, Tin. Kamu gak usah ke rumah Haikal dulu yaa. Temenin saya di rumah dulu".
"Mau izin dulu Bu dengan Pak Haikal. Nanti katanya saya yang menghasut ibu agar saya tetap menjaga ibu".
Bu Lina menghela nafas berat.
"Kalau begitu saya gak usah pulang ajalah".
"Lah, saya bagaimana, Bu...sudah mengabari Pak Haikal kalau hari ini ibu pulang. Hayolah buk. Berhentilah menyusahkan Pak Haikal. Mereka sibuk. Jangan ditambah dengan masalah ibu yang sering sakit-sakitan. Sakitnya ibu itu seperti dibuat-buat. Tidak kasian apa dengan mereka".
"Haikal bilang gitu, Tin? Hah, sudah saya duga".
Hening.
Tak ada percakapan lagi dari keduanya sampai mereka pamit untuk pulang.
Aku merasakan perasaan Bu Lina yang kecewa, tidak diperhatikan, dikucilkan dari orang-orang yang disayang.
Ini pembelajaran untuk kita semua. Orang tua yang ketika mereka senja ingin berkumpul dengan anak-anaknya, ingin diperhatikan, berbagi cerita baik tawa maupun derita. Mereka hanya ingin dianggap ada dan merasa dibutuhkan. Bukan dibiarkan hidup sendirian walau seluruh kehidupannya terjamin dengan harta yang melimpah. Mereka hanya butuh kebersamaan, perhatian dan kepedulian anak-anaknya.
Jagalah hubungan dengan mereka. Jangan sampai orang tua kita tersakiti apalagi sampai murka. Karena dari sana juga murka Allah SWT itu ada.
“Ridho Allah itu tergantung ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orang tua”. (HR. Tirmidzi)
Ada sebuah kisah yang dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa seberapa berilmunya pun kita tetaplah seorang anak yang memiliki kewajiban untuk selalu berbakti kepada orang tua terutama ibu.
Dikisahkan dari seorang Ulama yang bernama Iyas bin Mu'awiyyah ketika ibunya meninggal, beliau menangis tersedu-sedu.
Orang yang melihatnya merasa penasaran dan bertanya kepada Iyas bin Mu'awiyyah
"Mengapa Anda menangis?".
Iyas bin Mu'awiyyah menjawab, "dahulu saya memiliki dua pintu terbuka untuk menuju ke syurga, namun kini salah satunya telah terkunci".
Kisah ini kita dapat melihat betapa sedihnya seorang anak ketika ibunya meninggal dunia dan ia merasa bahwa dirinya belum cukup berbakti kepada ibunya.
Ibu adalah alasan kita hadir di dunia. Menghormati, menyayangi dan berbuat baik pada ibu tentu adalah sebuah keharusan. Jangan pernah sekalipun memutus silahturahmi dengan kedua orang tua terutama ibu. Karena hal itu dapat membuat hidup kita sempit. Dibalik semua kesuksesan yang kita raih tidak terlepas dari doa dan dukungan seorang ibu. Kunci kesuksesanmu berada pada seberapa berbaktinya dirimu kepada ibumu.
"ibu adalah segalahnya dia adalah hiburan dalam kesedihan kita, harapan dalam penderitaan, dan kekuatan dalam kelemahan. Dia adalah sumber cinta kasih sayang, simpati dan ampunan. Orang yang kehilangan ibunya telah kehilangan jiwa murni yang selalu ada dan melindunginya" Khalib Gibran
"Mama adalah guru terhebatku, guru tentang kasih sayang, cinta dan keberanian. Jika cinta semanis bunga, maka ibuku adalah bunga manis dan cinta" Stevie Wonder