Pos Cawang Lama bau solar, keringat, dan kopi yang sudah tiga kali dipanaskan ulang. Daru berdiri di pintu garasi dengan tas dan seragam yang masih kaku dari toko, menatap satu-satunya mobil pemadam mereka: sebuah unit tua bercat merah pudar, nomor lambungnya nyaris hilang dimakan karat, dengan selang-selang yang digulung rapi tapi penuh tambalan ban dalam di sambungannya. Ia sudah membayangkan banyak hal sejak lulus diklat. Bukan ini.
"Anak baru," kata seorang lelaki bertubuh ringkih dengan tangan penuh oli. Ia tidak berdiri dari jongkoknya di samping pompa. "Daru, ya. Taruh tas di loker pojok, yang pintunya nggak bisa dikunci. Sengaja. Biar kamu cepat akrab sama kenyataan."
Itu Hokian. Daru tahu dari berkas penempatan: operator pompa, lima puluh dua tahun, sudah di pos ini sejak sebelum Daru lahir. Lelaki itu mengelus selang dengan cara orang lain mengelus anjing tua. "Mesin ini namanya bukan apa-apa," katanya tanpa diminta. "Tapi kalau dia mati di tengah jalan, kita yang mati duluan. Jadi jangan dengar dia batuk dan kamu cuek. Ngerti?"
Daru belum sempat menjawab ketika sebuah suara memotong dari arah ruang siaga. "Pangewa." Bukan pertanyaan. Seorang perempuan berdiri di ambang pintu, rambut diikat ketat ke belakang, garis wajah yang seperti dipahat dari kelelahan bertahun-tahun. Komandan regu. Bu Sariwati. Daru meluruskan badan tanpa sadar. "Kamu telat empat menit dari jam apel. Di luar sana, empat menit itu satu keluarga." Ia tidak menunggu permintaan maaf. "Kenakan seragam lengkap. Hari ini kamu cuma boleh satu hal: menatap dan menutup mulut."
Daru mengangguk. Ia ingin bilang ia siap. Ia tidak bilang apa-apa.
Regu itu menyambutnya seperti orang menyambut barang yang belum jelas gunanya. Ada Joni, jangkung, suka bercanda, yang menjabat tangannya kelewat erat sambil menyebutnya "darah segar". Ada Rofik yang diam dan dua orang lain yang namanya belum sempat lengket di kepala Daru. Mereka makan siang dari rantang yang dibawa istri Hokian, mengejek selang yang bocor seakan itu anggota regu yang malas, dan bertaruh receh soal kapan mobil tua itu akan mogok lagi. Daru tertawa di waktu yang salah dua kali, lalu memilih diam.
Lalu alarm berbunyi.
Bukan sirene film. Cuma bel kasar yang menusuk, dan tiba-tiba semua canda lenyap dari ruangan seperti air ditarik dari wastafel. Tangan-tangan bergerak tanpa pikir. Hokian sudah di kursi kemudi. Sari membaca alamat dari radio dengan suara datar: kebakaran kios, Pasar Cawang blok C, kemungkinan merembet. Daru naik ke bak belakang, jantungnya memukul tulang rusuknya, jemarinya gemetar saat mengaitkan sabuk. Joni menepuk helmnya dari samping. "Tarik napas yang dalam. Yang penting bukan nggak takut. Yang penting tetap kerja walau takut."
Pasar itu sudah menjerit sebelum mereka tiba. Asap hitam menggumpal di atas atap seng, dan bau gorengan gosong bercampur sesuatu yang lebih tajam, lebih kimiawi. Mobil berhenti di mulut jalan karena gang ke dalam terlalu sempit. Sari turun, membaca situasi dalam tiga detik. "Kios gorengan, minyak menyala, ada tabung gas di dalam. Hokian, cari hidran, suplai. Rofik, selang satu setengah inci. Jaga jarak dari tabung. Pangewa—" matanya menemukan Daru. "Bawakan selang. Jangan ke mana-mana."
Tapi Daru sudah melihat sesuatu. Dari mulut gang, dengan ingatan ruang yang entah dari mana selalu menata sendiri di kepalanya, ia tahu kios gorengan itu menempel ke deretan rumah di belakangnya, dan ada celah sempit yang menganga ke arah api. Kalau api lewat situ, ia akan menjalar ke enam rumah sekaligus. Ada perempuan tua menjerit di salah satu rumah itu. Tanpa berpikir, Daru menyelinap masuk gang membawa ujung selang.
Panas itu seperti dinding padat. Asap menelan pandangannya hingga ia hanya melihat oranye yang berdenyut. Ia merasakan air mengalir di selang yang ditariknya, lalu mendengar teriakan Sari dari belakang, marah, memanggil namanya. Ia menyemprot ke arah celah, memutus jalur api ke rumah-rumah, dan untuk satu detik gemilang ia merasa seperti melakukan sesuatu yang benar. Lalu tabung gas di dalam kios mendesis dan ledakan kecil melontarkan gelombang udara panas yang membuatnya terjengkang ke dinding. Ia tidak terbakar. Tapi sesuatu di dadanya copot.
Mereka memadamkannya dalam dua puluh menit. Satu kios habis, dua rumah selamat dengan dinding hangus, tidak ada korban jiwa. Perempuan tua yang menjerit tadi memeluk anaknya di pinggir jalan, basah oleh air dan tangis. Daru duduk di trotoar, melepas helmnya, dan tubuhnya mengkhianatinya. Ia muntah ke selokan, lutut gemetar, telinga berdenging. Adrenalin surut meninggalkan rasa malu yang dingin.
Sari berdiri di depannya. Daru menunggu tepukan. Pujian. Apa saja.
"Berdiri."
Daru berdiri.
"Kamu masuk gang itu tanpa aba-aba." Suaranya rendah, tapi setiap kata seperti paku. "Kamu tidak tahu ada tabung kedua di dalam. Aku tahu. Kalau itu meledak penuh, kami harus menarik mayatmu keluar, dan aku harus menelepon ibumu malam ini. Kamu pikir kamu menyelamatkan enam rumah. Yang kamu lakukan adalah menambah satu nyawa yang harus aku jaga, di saat aku sudah punya tujuh."
Daru membuka mulut. Sari mengangkat tangan.
"Aku tidak butuh kamu berani. Berani itu murah. Aku butuh kamu hidup besok. Ada bedanya. Sampai kamu paham bedanya, kamu jadi beban."
Ia berbalik dan pergi mengurus gulungan selang. Daru berdiri sendiri di tengah asap yang menipis, masih merasakan rasa muntah di lidahnya, dan, anehnya, di bawah malu itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas dan asing dan tak ia mengerti. Ia baru saja masuk ke dalam api, dan sebagian dirinya tidak ingin keluar.
Hokian lewat sambil menggulung selang, melirik ke arah Daru. "Hari pertama muntah itu normal," katanya pelan, agar Sari tak dengar. "Yang nggak normal itu kalau kamu nggak muntah. Itu artinya kamu nggak ngerti yang barusan kamu lawan." Ia menyodorkan botol air. "Minum. Kumur dulu. Lalu bantu gulung. Pekerjaan belum selesai cuma karena apinya mati."
Daru menerima botol itu. Tangannya masih gemetar. Di kejauhan, sirene lain melolong untuk kota yang lain. Ia mengerti, untuk pertama kalinya, bahwa kota ini terbakar terus-menerus, di banyak tempat sekaligus, dan ia baru saja menjadi salah satu dari sedikit orang yang lari menuju nyala itu, bukan menjauhinya.