Something Wrong
Baru beberapa menit Drake terlelap, tiba-tiba dia terjaga lagi karena mendengar peringatan dari ponsel yang sengaja dihubungkan dengan laptop dan juga monitor di ruangannya. Dengan segera Drake keluar dari kamar yang terhubung dengan ruang kerja. Tanpa menunggu lama dia pun langsung mengecek sistem yang berjalan selama dua puluh empat jam tanpa henti.
“Peretas?” Drake bergumam.
Drake menemukan sistem tidak dikenal berusaha masuk ke dalam sistem yang dia buat. Penyusup itu hampir berhasil merusak pelindung yang telah dirancang Drake sebelumnya. Dengan segera, dia memberhentikan tindakan itu agar tidak ada data yang bocor.
Drake pun memprogram kembali sistemnya. Dia mencoba membuat pelindung lagi dengan kode yang baru agar penyusup itu tidak bisa masuk lagi. Bahkan dia membuat virus untuk dikirimkan pada sistem penyusup itu dengan memanipulasi sebuah data yang ada.
“Selamat berpesta!” gumam Drake sambil menampilkan senyum sarkasnya.
Ini bukanlah kali pertama terjadi, sehingga Drake pun mempelajari setiap sistem asing yang mencoba masuk. Dia mulai mencari titik di mana peretas itu mengakses, dan ada beberapa data yang sama dengan beberapa bulan yang lalu. Drake tidak merasa heran jika hal yang seperti ini terjadi, mengingat Tuan Armstrong adalah pebisnis yang handal dengan orang-orangnya yang sangat ahli dalam bidangnya.
Dibalik sisi kejamnya Tuan Armstrong, dia adalah atasan yang royal bagi pekerjanya yang loyal dan profesional. Maka, semua orang yang bekerja di bawah naungannya akan berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Hingga membuat musuhnya pun merasa iri karena sistem manajemen yang begitu tertata, bahkan mampu membuat pundi-pundi uang mengalir dalam jumlah yang sangat banyak.
Drake menghabiskan waktu hingga pagi untuk mengatasi masalah itu. Setidaknya dia berhasil membuat coding lagi dan menyimpan beberapa data peretas sesuai titik yang ditemukannya. Beberapa saat kepala Drake terasa sedikit pening hingga dia berusaha memijatnya, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Drake mulai merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Dia hanya membutuhkan sekitar satu sampai dua jam untuk bisa merasakan nyamannya mata terpejam di atas ranjang. Namun, lagi, saraf sensoriknya menangkap sebuah pergerakan di ruang kerja, yang langsung direspon oleh saraf motorik yang membuat Drake menjadi lebih waspada.
Sekali lagi aku pertegas, jika hidup sepertiku tidaklah mudah. Namun, hingga saat ini aku tetap bertahan demi dua hal, batin Drake.
Pintu yang tadinya tertutup, Drake buka secara perlahan untuk mengintip siapa yang berani masuk ke ruangannya tanpa permisi. Ada seseorang yang berusaha mengutak-atik laptop miliknya. Orang itu memakai celana jogger dan hoodie hitam dengan topi kupluknya yang terpasang di kepala. Drake pun langsung menghampiri orang tersebut dengan langkah yang sengaja dibuat agar tidak bersuara.
Dengan gerakan cepat Drake menarik lengan pelaku lalu memitingnya agar pergerakan yang dia buat sedikit terbatas. Namun, mata Drake membulat seketika saat mendengar orang itu memekik.
Lyra! Batin Drake.
“Drake! Kau berani melukaiku?” Lyra berteriak sambil berusaha melirik ke arah Drake.
“Tidak, Nona. Hanya saja, ada apa Nona datang kemari?” ucap Drake yang masih menyelidik Lyra dengan raut wajahnya yang datar.
Bukannya menjawab, Lyra malah berkata lain, “Lepaskan aku, Drake! Kau mendengarku tidak?”
Drake pun langsung melepaskan cekalannya pada tangan Lyra, “Ah, maaf, Nona.”
“Ck, kau!” Lyra menatap Drake tajam.
“Kenapa Nona datang diam-diam?” tanya Drake.
“Aku tidak. Dan anehnya, kenapa Ayah memintaku memanggilmu pagi-pagi? Padahal Ayah bisa meneleponmu atau meminta pengawal lain untuk melakukan ini,” ucap Lyra yang mulai duduk di kursi yang biasa dipakai Drake bekerja.
“Tuan Armstrong meminta Nona?” tanya Drake memastikan.
“Kau pikir siapa yang berani memintaku seperti ini?” ucap Lyra yang sungguh tidak ramah.
“Ah, maaf,” Drake sedikit menundukan kepalanya.
“Cepatlah temui Ayah! Agar tugasku selesai,” Lyra bangkit dari kursi lalu melewati Drake begitu saja setelah mengatakan apa tujuannya, tapi tiba-tiba dia berbalik dan berkata lagi, “Ah, iya. Jangan berpikir yang tidak-tidak, karena aku datang kemari di pagi hari, dalam keadaan dirimu yang cukup membuatmu berpikir jika aku sengaja ingin melihatmu tanpa pakaian. Aku tidak tertarik. Permisi!”
Akhirnya pintu ruangan itu pun tertutup, menyisakan Drake yang tengah memandangi tubuhnya yang hanya memakai celana pendek selutut, “Ck, tidak tertarik? Bahkan aku tidak berharap untuk itu, Lyra!”
Tiba-tiba rasa kesal menghampiri hanya karena kalimat terakhir yang Lyra ucapkan. Padahal Drake tidak pernah peduli pada ketertarikan wanita, dan tidak peduli tentang anggapan mereka terhadapnya. Menurut Drake sendiri itu sangat tidak penting, selama dia masih bisa berusaha menghasilkan uang yang banyak untuk keluarganya.
Drake pun beralih pada laptop yang masih menyala. Lalu, mengeceknya yang ternyata tidak dia kunci. Hah! Kau terlalu luar biasa dengan ingatan, Drake! Sampai kau melupakan hal yang sangat penting ini.
Setelah dilihat-lihat, tidak ada sesuatu yang janggal di sana. Drake cukup tahu, tidak mungkin jika putri pemimpin Armstrong Group berulah pada bisnis ayahnya sendiri. Namun, dia hanya bisa bersikap waspada pada siapa saja yang menyentuh pekerjaannya.
Setelah mematikan dua monitor dan juga laptop, Drake pun memilih beranjak ke kamar mandi. Beberapa kali mengalami gangguan tidur, rasa minatnya untuk memejamkan mata pun sudah hilang. Meski dia tahu hal itu merupakan kebiasaan buruk yang seharusnya tidak dilakukannya. Namun, jika semua itu adalah tuntunan, dia bisa apa?
Hari ini Drake memakai pakaian formal, seperti biasanya. Ada celana bahan hitam, kemeja putih dengan dasi hitam yang diikat di leher, jas hitam, sepatu pentofel hitam, dan jam tangan hitam di tangan kiri. Semua ini sudah ketentuan yang berlaku. Bahkan Drake tidak hanya memiliki satu dari keseluruhan, karena semua itu adalah kebutuhan.
Kini, Drake tengah menyusuri salah satu lorong kediaman Armstrong, di mana pemilik kediaman itu berada. Kediaman Armstrong sangat megah dan mewah, yang membuat siapa saja bisa tersesat di dalamnya. Baru saja sampai di tempat tujuan, Drake melihat Hugo, Julian, dan beberapa orang lainnya keluar dari ruangan pemimpin Armstrong Group dengan ekspresi yang hampir sama.
“Sepertinya kau harus berhati-hati pagi ini. Tuan sedang dalam kondisi buruk,” peringat Hugo yang berbisik di telinga Drake sebelum akhirnya dia berlalu.
“Aku harap kau bisa keluar dari ruangan itu dalam keadaan baik. Semoga kau beruntung!” bisik Julian sambil menepuk pundak Drake seolah sedang berbagi kekuatan satu sama lain.
Drake hanya diam sambil memperhatikan satu persatu dari mereka, sebelum akhirnya mereka semua berlalu meninggalkan Drake seorang diri yang kini tengah menatap pintu ruangan yang besar nan gagah. Mata Drake menangkap sudut bibir Hugo yang berdarah. Sepertinya Julian dan yang lain pun dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Aku harus tetap menghadapinya, batin Drake.
Drake mengatur napas terlebih dahulu agar dia lebih siap menghadapi sesuatu yang akan terjadi beberapa saat lagi. Apalagi mengingat laporannya yang cukup sensitif, dia sudah bisa pastikan jika apa yang dia sampaikan nanti itu sudah cukup membuat amarah pemimpin Armstrong Group semakin memuncak.
Setelah ketukannya menggema, Drake mulai melangkah menghadap pemimpin Armstrong Group yang kini tengah menatap kaca jendela yang cukup besar di ruangannya. Cahaya matahari pagi itu menyorot wajah yang begitu ditakuti siapa pun. Walau usianya sudah tidak muda lagi, tapi aura kepemimpinannya menguar ke segala penjuru ruangan yang kini hanya dihuni oleh dua orang berbeda generasi.
“Selamat pagi, Tuan Armstrong!” Drake memberikan salam hormat saat dia sudah berdiri tidak jauh dari pemimpin Armstrong group itu.
“Jelaskan semuanya, Drake!” perintah Tuan Armstrong tanpa mengalihkan pandangan.
Tanpa basa-basi, Drake pun mulai menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang dia lakukan semalaman hingga pagi. Dia pun sudah menyiapkan beberapa berkas yang sudah dia siapkan sebelumnya. Itu semua adalah data yang berhasil dia dapatkan setelah bekerja keras tanpa jeda.
“Sepertinya dia terus memperlajari sistem yang saya buat, padahal saya selalu memprogram sistemnya secara berkala. Mungkin untuk saat ini saya belum bisa memastikan siapa pelakunya. Namun, sejauh ini saya bisa mengatasi masalah pada sistem kita. Jika semuanya sudah jelas saya akan melaporkan lagi pada Tuan,” ucap Drake dengan lugas.
“Saya suka dengan cara kerjamu. Namun, segera dapatkan siapa peretas itu. Saya tidak akan membiarkan dia terlalu lama menghirup udara segar seperti pagi ini,” ucap Tuan Armstrong.
“Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan,” ucap Drake sambil memberikan hormat saat Tuan Armstrong membalik tubuh menghadapnya.
“Bagus, kau boleh kembali,” ucap Tuan Armstrong.
“Maaf jika saya lancang, Tuan,” ucap Drake sedikit menunduk.
“Ada apa, Drake?” tanya Tuan Armstrong.
“Saya hanya ingin bertanya, kenapa Tuan meminta Nona Lyra memanggil? Biasanya ada pengawal lain yang datang,” ucap Drake sedikit berhati-hati.
“Apa kau tidak suka?” nada bicara Tuan Armstrong terdengar sarkas yang membuat Drake langsung menatapnya sejenak.
“Bukan begitu, Tuan. Saya minta maaf karena kelancangan ini yang membuat Tuan tersinggung,” ucap Drake dengan sopan.
Beberapa saat terasa hening.
“Entahlah, saya juga tidak tahu,” ucap Tuan Armstrong yang terdengar mulai santai kembali, “Nanti sore Lyra akan berlatih. Tolong kau temani dia!”
Perasaan Drake saat ini sedang tidak karuan. Dia tidak melihat Tuan Armstrong seperti biasanya. Bahkan dia lolos lagi dari hukuman yang biasanya dia dapatkan. Minimal seperti orang-orang sebelumnya yang keluar dengan sudut bibir berdarah. Namun, tidak untuk kali ini.
“Apa tidak apa-apa, Tuan? Bukannya Hugo dan Julian yang selalu menemani Nona Lyra berlatih?” ucap Drake.
“Julian, saya tugaskan untuk mengurus masalah perusahaan yang ada di Bristol. Sedangkan Hugo, saya tugaskan untuk pergi ke London menemui para pemegang saham menggantikan saya,” jelas Tuan Armstrong.
“Austin?” ucap Drake yang terdengar seperti pertanyaan.
“Dia akan sangat sibuk dengan saya. Kenapa kau banyak bertanya?” Tuan Armstrong mulai menatap Drake dengan tajam.
Seketika Drake menundukkan kepalanya, “Maaf, Tuan.”
“Kembalilah! Dan kerjakan apa yang saya minta,” ucap Tuan Armstrong.
“Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi.”
“Hm,” Tuan Armstrong hanya berdehem sambil menghadapkan kembali wajahnya pada cahaya matahari yang masuk dari jendela. Lalu, memejamkan matanya lagi, seolah tengah menikmati kehidupan yang begitu pelik ini.
Drake memberikan salam hormat terlebih dahulu, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.
***
Banyak yang merasa iri pada seorang putri pemimpin Armstrong Group. Entah itu dari paras, dari kecerdasan, bahkan dari kehidupan yang dia miliki sejak lahir. Lyra Armstrong, seorang pewaris tunggal dari Armstrong Group.
Sekitar lima menit lagi jadwal latihan Lyra akan segera dimulai. Namun, dia masih berjalan sambil ditemani Austin di salah satu lorong dari arah kediaman Armstrong. Jadwal latihannya ini mutlak untuknya selama dia tinggal di kediaman itu, tapi tidak di Greenwich.
“Selamat sore, Nona Lyra!” Drake yang lebih dulu sampai memberikan salam hormat saat Lyra sudah berdiri di hadapannya.
“Kenapa harus kau yang menggantikan Hugo dan Julian?” Lyra mengucapkan kalimat itu tanpa mengalihkan pandangannya.
“Saya sendiri tidak tahu, Nona. Saya hanya menjalankan tugas yang diberikan Tuan Armstrong,” jawab Drake dengan nada sopan.
“Austin!” panggil Lyra pada Austin yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
Seolah mengerti, Austin pun langsung menjelaskan hal itu pada Lyra, “Drake benar, Nona. Ini permintaan Tuan Armstrong sendiri.”
“Lalu, kenapa Ayah tidak meminta kau saja?” keluh Lyra.
“Maafkan saya, Nona. Tuan meminta saya menemaninya untuk bertemu dengan para kolega yang bekerja sama dengan bisnis yang baru akan diluncurkan bulan depan,” jelas Austin.
“Baiklah, kalau begitu aku kembali,” Lyra sudah memutar haluan, tapi Austin langsung memberhentikan langkahnya.
“Maaf, Nona, tapi sepertinya tidak bisa. Nona harus tetap berlatih sesuai ketentuan Tuan,” ucap Austin.
Mendengar hal itu, hati Lyra tiba-tiba kesal, “Ck, kenapa semua orang menyebalkan? Sebenarnya aku ini siapa?”
Lyra tidak tahu jika Drake yang akan menemaninya berlatih. Perasaan kesal pada Drake masih belum berkurang setelah kejadian di Greenwich waktu itu. Dia pun melirik satu persatu orang yang ada di arena tembak dengan tatapan tajam. Hampir semuanya menunduk kecuali orang itu, yang saat ini tengah memasang wajah datarnya yang terlihat menyebalkan.
Astaga! Batin Lyra.
“Jika tidak ada hal yang Nona ingin tanyakan lagi, saya pamit undur diri. Selamat berlatih, Nona!” ucap Austin yang hanya dibalas dengan deheman oleh Lyra.
Dengan perasaan terpaksa, Lyra mulai berjalan mendekati meja yang sudah disediakan penjaga tempat itu. Di atasnya sudah tersedia beberapa jenis senjata dan juga peluru. Tidak sengaja Lyra melihat pantulan bayangan dari pintu kaca yang terbuka di sebelah kiri. Dia melihat Austin seperti mengatakan sesuatu pada Drake.
Tidak ada teguran atau pun sindiran, Lyra hanya memilih diam seolah tidak tahu apa-apa. Namun, dia mengambil salah satu senjata api yang ada dan mulai mengacungkannya. Dia mulai menarik pelatuk senjata itu hingga suara itu nyaring terdengar.
“Sialan!” umpat Lyra.
Dor!