Hujan tipis membasahi jendela laboratorium ketika Reno menatap layar monitor yang berkedip-kedip seperti jantung yang lelah. Pukul sebelas malam, dan Gedung Riset Adhicakra di pinggir Kota Wirantara nyaris kosong. Hanya dengung mesin pendingin dan sesekali derit lampu neon yang menemaninya. Di seberang halaman, lewat jendela, ia sempat melihat beberapa jendela divisi energi sayap timur masih menyala—rupanya bukan hanya ia yang lembur malam itu.
"Kamu masih di sini?" Suara Dimas datang dari pintu. Sahabatnya itu menenteng dua gelas kopi plastik, rambutnya basah karena baru menerobos hujan. "Astaga, Ren. Jam segini. Kamu mau dapat penghargaan karyawan paling rajin atau paling bodoh?"
Reno tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari sampel di balik kaca pelindung. "Tinggal satu pengujian lagi. Kalau stabilisator ini berhasil, perusahaan bisa dapat dana lanjutan. Aku butuh proyek ini, Dim."
Dimas meletakkan kopi di sebelahnya. "Kamu selalu butuh sesuatu. Sejak orang tuamu nggak ada, kamu kerja kayak nggak punya tubuh." Ia melirik ke jendela seberang. "Divisi energi juga masih lembur tuh. Kalian sama-sama gila kerja."
Reno tidak menjawab. Di Kota Wirantara, orang yang berhenti bergerak akan tertinggal, dan orang yang tertinggal akan ditelan. Itu kebenaran yang ia pelajari sejak kecil.
Ia mengaktifkan reaktor kecil di tengah ruangan. Tabung berisi cairan kebiruan mulai bersinar, memantulkan cahaya aneh ke wajah keduanya. Sampel itu adalah hasil eksperimen rahasia divisi energi—sebuah senyawa yang katanya bisa menyimpan daya dalam jumlah mustahil. Sebagai insinyur energi, Reno-lah yang ditunjuk khusus memimpin uji kestabilan senyawa ini, dan justru karena sifatnya yang dirahasiakan, atasannya memintanya menjalankan pengujian tengah malam dengan staf seminimal mungkin—malam ini hanya ia sendiri, dengan Dimas sebagai asisten teknis.
"Mundur sedikit," kata Reno. "Tekanannya naik."
Angka di layar melonjak. Hijau menjadi kuning, kuning menjadi merah. Sesuatu yang tidak ada dalam perhitungan terjadi. Cairan biru itu mendidih, lalu memutih.
"Ren, matikan!" Dimas berteriak.
Reno menekan tombol darurat. Tidak ada respons. Sistem membeku. Cahaya dari tabung membesar, menelan seluruh ruangan dalam putih yang menyilaukan. Dalam sepersekian detik, Reno merasakan dorongan tak kasat mata menghantam dadanya, melempar tubuhnya menabrak rak peralatan.
Lalu suara. Bukan ledakan biasa—lebih seperti dunia yang merobek dirinya sendiri. Kaca pecah berhamburan. Listrik padam. Dan di tengah kegelapan, Reno merasakan sesuatu yang asing merayap masuk ke dalam tulang-tulangnya, panas dan dingin sekaligus, seakan ribuan jarum cahaya menjahit ulang dirinya dari dalam.
"DIMAS!" Reno berusaha berteriak, tapi suaranya tenggelam.
Ia melihat bayangan sahabatnya terhuyung di balik asap. Lalu pandangannya menggelap. Yang terakhir ia rasakan adalah lantai dingin di pipinya, dan denyut aneh di sekujur tubuh—seperti listrik yang tak mau padam, mengalir, berdenyut, hidup.
Ketika Reno membuka mata lagi, ia berada di koridor rumah sakit. Lampu di atasnya berkedip. Aneh, pikirnya—setiap kali jantungnya berdebar, lampu itu ikut berkedip dalam ritme yang sama. Ia mengangkat tangannya yang gemetar dan menatap telapaknya. Ada garis-garis tipis bercahaya di bawah kulitnya, redup, seperti urat yang menyimpan kilat.
Seorang perawat lewat. "Untung kamu selamat, Mas. Ledakannya parah. Temanmu yang bawa kamu ke sini."
"Dimas selamat?" Reno terduduk cepat. Lampu koridor mati seketika, lalu menyala lagi.
Perawat itu mengernyit menatap lampu, lalu menggeleng. "Dia di ruang sebelah. Cuma luka ringan. Kamu istirahat dulu."
Reno menatap tangannya lagi. Garis cahaya itu memudar perlahan, seakan bersembunyi. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Sesuatu yang ia belum mengerti, tapi sudah ia takuti.
Di luar jendela, Kota Wirantara terbentang dengan lampu-lampunya yang dingin, gedung-gedung yang menjulang seperti pisau ke langit. Kota yang tidak pernah benar-benar aman. Dan untuk pertama kalinya, Reno merasa kota itu sedang menatap balik ke arahnya.