Reno pertama kali bertemu sosok itu di malam yang seharusnya tenang.
Ia sedang mengejar sekelompok kurir narkoba Sindikat di atap-atap kawasan pertokoan ketika ia merasakannya—getaran familiar di udara, denyut energi yang seharusnya hanya milik dirinya. Ia berhenti di tepi atap, jantungnya berdebar, dan menoleh.
Di seberang, di atap gedung lain, berdiri sosok berjubah hitam dengan topeng putih pucat. Sosok itu tidak bergerak, hanya menatapnya melintasi celah di antara dua gedung. Dan ketika sosok itu mengangkat tangannya, percikan—bukan biru seperti milik Reno, tapi merah keunguan—menari di antara jari-jarinya.
"Tidak mungkin," bisik Reno.
"Mungkin," jawab sosok itu, suaranya teredam topeng, datar dan dingin. "Kau pikir kau satu-satunya?"
Sosok itu melompat, melintasi celah antar gedung dengan ledakan energi dari kakinya—gerakan yang sama persis seperti yang Reno latih sendirian di gudang tua. Mereka bertabrakan di tengah atap. Pukulan beradu, energi beradu, biru melawan ungu, memercik ke segala arah seperti kembang api yang berbahaya.
Mereka sepadan. Itulah yang paling menakutkan. Setiap gerakan Reno, sosok itu mengimbangi. Setiap serangan listrik, ditangkis dengan kekuatan setara. Bertarung melawannya seperti bertarung melawan bayangan di cermin—cermin yang retak dan jahat.
"Siapa kamu?" Reno terengah, melompat mundur untuk mengambil jarak.
"Aku adalah apa yang kau tolak menjadi," kata sosok itu. "Mereka memanggilku Hampa. Karena itulah yang kuberikan pada dunia. Kekosongan. Ketakutan." Ia memiringkan kepala. "Kita lahir dari ledakan yang sama, Bayangan. Senyawa biru itu. Kau bukan satu-satunya yang ada di gedung itu malam itu."
Darah Reno membeku. Malam ledakan di lab. Ia memang selalu mengira hanya ia dan Dimas yang ada di ruangan itu. Tapi gedung itu besar—dan ia teringat sekarang: jendela-jendela divisi energi yang masih menyala di sayap timur, kabar samar dari Dimas tentang orang-orang divisi lain yang ikut dirawat lalu ditutup-tutupi. Ada orang lain. Orang lain yang juga terkena gelombang senyawa itu malam itu, dan tak ada yang pernah mau mengakuinya.
"Kau bekerja untuk Sindikat," kata Reno.
"Aku bekerja untuk diriku sendiri. Sindikat hanya... memberiku tujuan." Hampa melangkah maju. "Kau pikir kau pahlawan. Kau pikir kekuatan ini anugerah. Tapi aku sudah melihat kebenaran, Bayangan. Kekuatan ini hanya punya satu makna: yang kuat memerintah, yang lemah tunduk. Kau melawan hukum alam."
"Tidak," kata Reno tegas. "Kekuatan punya makna yang kita beri padanya. Aku memilih melindungi. Kamu memilih menindas. Itu bedanya kita."
Hampa terdiam sejenak. Lalu, mengejutkan, ia tertawa pelan. "Idealisme. Manis sekali. Mari kita lihat berapa lama itu bertahan ketika aku mengambil semua yang kau pedulikan."
Ia menyerang lagi, kali ini lebih cepat, lebih brutal. Reno terdesak. Hampa lebih berpengalaman, lebih kejam, tidak terbebani oleh aturan untuk tidak membunuh. Sebuah pukulan energi ungu menghantam dada Reno, melemparkannya ke tepi atap. Ia nyaris jatuh, jari-jarinya mencengkeram beton di tepi.
Hampa berdiri di atasnya, tangan terangkat, siap memberikan pukulan terakhir.
"Tahu apa yang lucu?" kata Hampa. "Aku tahu siapa kau. Aku sudah lama mengikutimu. Aku tahu di mana kau tinggal. Aku tahu siapa sahabatmu—Dimas, bukan? Yang bekerja di laboratorium yang sama." Topeng putih itu seakan menyeringai. "Topengmu melindungi wajahmu. Tapi tidak melindungi orang-orang yang kau sayangi."
Energi Reno melonjak liar oleh ketakutan murni. Gelombang biru meledak dari tubuhnya, memaksa Hampa mundur. Reno menggunakan kesempatan itu untuk berguling bangkit dan melompat dari atap, menghilang ke dalam jaringan gang di bawah.
Ia berlari, napasnya tercekat, bukan hanya karena luka. Tapi karena untuk pertama kalinya, musuhnya bukan sekadar penjahat tanpa wajah. Musuhnya adalah cermin dari dirinya sendiri—dengan kekuatan yang sama, asal yang sama, tapi pilihan yang berlawanan. Dan musuh itu tahu satu-satunya hal yang bisa menghancurkannya.
Dimas.