Hujan turun sejak pagi, menimbulkan aroma tanah basah yang menusuk indra. Udara dingin membuat jendela kamar Aksa tertutup lapisan embun tipis. Dari balik tirai abu-abu, cahaya matahari nyaris tak terlihat. Hari itu terasa lebih sunyi dari biasanya—terlalu sunyi.
Aksa duduk menghadap cermin kayu tua peninggalan kakeknya. Cermin itu sudah ada di kamarnya sejak kecil, tapi baru belakangan ini terasa… berbeda. Setiap kali ia menatap permukaannya, ada perasaan seolah cermin itu bukan sekadar benda mati—melainkan sesuatu yang mengamati.
Awalnya ia hanya merasa bayangannya bergerak setengah detik lebih lambat. Lalu suatu malam, bayangannya justru bergerak lebih dulu.
Dan hari ini, bayangan itu… tersenyum lebih dulu.
Bulu kuduk Aksa meremang. Ia jongkok, mendekat ke cermin, memperhatikan pantulan wajahnya. Tapi semakin lama ia menatap, semakin yakin itu bukan dirinya. Wajah itu mirip—tetapi matanya lain. Gelap. Dalam. Penuh kabut dan kesedihan.
Seakan menyimpan ribuan tahun cerita.
"Ini bukan pantulanku…" gumam Aksa pelan.
Lalu sesuatu terjadi.
Kabut tipis muncul di permukaan kaca, seperti asap yang menyebar lambat. Permukaan cermin bergetar pelan, seperti air yang dilintasi angin.
Dan dari dalamnya… terdengar suara.
Bukan gemuruh. Bukan bisikan. Suara itu terdengar dalam—terlalu dalam, seolah berasal dari ruangan lain dalam dirinya.
"Akhirnya, kau bisa mendengarku."
Aksa mundur spontan, kursinya jatuh menimbulkan suara keras. Ia terdiam, napasnya berat.
Jantungnya berdegup tidak karuan.
Suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.
Tidak menakutkan. Tidak marah. Tapi tua. Sepi.
Seolah milik seseorang yang telah menunggu sangat lama.
"Aku tidak datang untuk menakutimu."
"Aku hanya ingin kau melihatku… bukan sekadar bayangan. "
Aksa memaksa dirinya mendekat pelan.
Bayangan di cermin kini tidak lagi menirukan gerak tubuhnya. Ia bergerak sendiri—menatap langsung pada Aksa.
"Siapa kau?" suara Aksa bergetar.
Bayangan itu memiringkan kepala, lalu tersenyum pelan.
"Aku adalah sesuatu yang pernah ada… tapi dihapus dari dunia."
"Namaku Verash."
Permukaan cermin kembali bergelombang, seperti riak air. Kabut hitam keluar perlahan dan berhenti tepat di depan Aksa. Tapi kabut itu tidak menusuk. Tidak menyakitkan.
Justru terasa… hangat. Seolah mengenali dirinya.
"Dan kau, Aksa… adalah Pengikatku."
Simbol hitam muncul perlahan di pergelangan tangan Aksa. Tidak sakit. Tidak terbakar. Simbol itu terasa hidup, seperti detak kecil… mengikuti ritme jantungnya.
Aksa ingin kabur. Tapi tidak bisa.
Bukan karena takut—melainkan karena entah kenapa, bagian dalam dirinya merasa… ini bukan hal asing.
Seperti sesuatu yang pernah terjadi. Entah kapan.
"Aku tidak datang untuk merusak hidupmu."
"Aku datang untuk mengingatkanmu… bahwa hidupmu tidak pernah biasa."
Hening panjang.
Hujan tiba-tiba berhenti. Angin di luar terdiam.
Cermin pun kini hanya menunjukkan pantulan biasa.
Namun Aksa tahu satu hal…
Bayangan itu tidak hilang. Bayangan itu kini hidup—di dalam dirinya.
Dan sejak hari itu, Aksa sadar—
hidupnya tak akan pernah sama lagi.