Jadrian dapat merasakan penolakan itu. Ia sungguh terkejut. Meski terasa begitu tipis, tapi ada satu orang yang benar-benar menolak keberadaannya.
Gadis berambut merah itu.
Solaris kembali membuka pintu restoran.
"Hei, ada apa?" Tanya Solaris heran.
Jadrian tersenyum saja. "Kukira ada yang meneleponku," ia memberikan alasan lalu segera menyusul masuk.
Percuma saja jika hanya ada satu orang yang menolak kehadiran Vampir di sebuah tempat seramai ini. Satu undangan saja sudah mematahkan penolakan itu. Tapi hal itu bukan masalah. Satu persoalan yang menarik adalah si rambut merah mengetahui jika Jadrian adalah Vampir. Jika tidak, mengapa si gadis berambut merah berusaha menolak kehadirannya?
"Jadi? Bagaimana?" Tanya Solaris. Mereka berdua melangkah menuju ke meja pesanan.
"Sepertinya re