“Apa akan banyak wanita yang datang? Apa mereka cantik dan seksi?” pertanyaan itu terus saja terulang di samping Edward yang masih mengelus Phillips, kuda jantannya yang ia beri nama seperti kakeknya. “Jika aku menemukan satu akan kujadikan partner one night standku.”
“Berisik sekali kau Edric! Di otakmu hanya ada wanita, bahkan aku tidak yakin kamu hafal abjad.” Celaan itu keluar dari mulut perempuan yang baru saja datang dengan kuda putih kesayangannya, topi berkudanya menutupi rambut cokelatnya yang diikat rapi.
“Kamu tetap perempuan yang aku cinta, Ely, tak ada yang akan menggantikanmu di hatiku.” Edric mengedipkan matanya ke arah perempuan yang membalas tatapannya dengan sinis.
Eleazer berlalu setelah mengabaikan Edric, ia menyusul salah satu kembarannya yang lain, yaitu Edward. “Apa pesta kali ini kamu akan mencari calon istri, Edward?” tanyanya yang sering dipanggil keluarganya dengan sebutan Ely menatap Edward yang masih mengelus kuda hitam yang gagah.
Edward menatap kembarannya, meskipun mereka kembar tetapi Edward merasa dirinya berbeda rahim dengan Eleazer dan Edric. Semua itu karena sikap Edric dan Eleazer yang sangat mirip dan lebih dekat dibandingkan dirinya yang terasa berbeda. Pria berambut pirang itu membenarkan letak topinya, memberikan senyuman tipis pada Ely.
“Aku tidak akan datang,” jawabnya singkat, lalu naik ke atas kuda miliknya dan menarik kekang kuda kesayangannya untuk kembali berlari mengitari lapangan kuda.
“Aku yakin dia bukan kembaran kita, aku sangat amat yakin dia bukan anak Mommy.” Edric berdiri diatas kudanya berwarna cokelat, menampilkan keahliannya dengan sombong pada Eleazer. “Look! I can do this.”
Eleazer melirik Edric sinis, dia menarik kekang kudanya. “Dasar tukang pamer!” teriaknya dengan mengulurkan lidahnya, kuda miliknya berlari menyusul Edward yang terkekeh di seberang karena Edric yang jatuh dari tunggangan, dan tentu saja Edric meringis sakit dan menggerutu. Meskipun umurnya sudah hampir seperempat abad, kelakuannya tetap saja seperti anak kecil. Bahkan tidak ada yang percaya bahwa Edric sudah memiliki putra.
Edward menggelengkan kepala ketika melihat Edric terjatuh dan sedang dibantu beberapa pelayan, “Sebenarnya aku menyadari perbedaanku dengan kalian, rasanya aku seperti bukan kembaran kalian.”
“Kamu tidak melihat bagaimana miripnya kamu dengan Edric? Yang ada aku, mana ada kembaran tapi beda kelamin.” Eleazer mencebik bibirnya ke bawah, dia benar-benar heran.
“Atau Momma and Daddy yang memang aneh?” Edward menyunggingkan senyuman tipis menatap Eleazer.
Kekehan Eleazer membuat Edward merasa lega, setidaknya komunikasi yang ia lakukan bersama Eleazer lebih baik dibandingkan dengan Edric yang tidak jauh dari topik wanita. Eleazer lebih mengerti dirinya, dia memiliki sisi laki-laki yang tersembunyi sejak kecil dan ia menyadari jika Eleazer memendam pemberontakan yang besar di dalam dirinya.
“Aku harap kamu bisa mencari calon istri, aku tidak ingin mendengar Momma menangis karena kamu belum menggandeng satu wanita pun.”
Sejak dulu memang Edward tidak pernah bersama wanita, dia lebih suka berjalan mendampingi Momma setiap menghadiri acara. Terkadang para Ibu yang memiliki anak perempuan akan menyodorkan anak perempuan mereka untuk Edward ajak pergi, paling tidak minum teh atau berkuda di sekitar istana. Tapi Edward menolak dengan halus, membuat Harper meraung di dalam kamar dan memaki Enrique. Bukan tanpa alasan Edward melakukan itu, dia hanya ingin menikmati kesendiriannya untuk mencari dan memperdalam ilmu pengetahuannya, katanya bekal untuk menjadi penerus tahta kerajaan yang akan jatuh ke tangannya.
“Aku akan menggandengmu dan berdansa semalaman denganmu, Ely.” Edward menjawab dengan santai dan menarik kekang Phillips agar berhenti.
“Tidak! Cari wanitamu sendiri, aku akan berdansa dengan Lord Merton yang masih tampan.” Eleazer tersenyum senang membayangkan ia akan berdansa dengan pria tampan itu.
“Dia sudah memiliki istri yang lebih memikat dibandingkan dirimu.” Tanpa diduga Eleazer, Edric kembali bergabung dengan mereka, wajah datar tanpa dosa ketika mencela kembarannya.
“I hate you!” Eleazer mengacungkan jari tengah tepat di depan wajah Edric, menarik kembali kekang kuda untuk menjauh dari Edric.
****
“Apa kamu sudah bertemu Mr. Swanson?” Tobias, pelayan pribadi yang sudah bekerja cukup lama dengannya berjalan di belakang Edward yang baru saja menyelesaikan olahraga berkudanya. Tobias menerima sarung tangan serta topi milik Edward serta topi, mengikuti langkah pangeran muda menuju kamarnya.
“Aku tidak akan datang ke pesta.” Edward melangkah menaiki anak tangga, kamar pribadinya yang sudah kosong cukup lama kini kembali ia gunakan.
“Tapi Putri Harper meminta anda untuk –”
“Edward!” mereka berdua menoleh, terutama Tobias yang langsung melangkah minggir ketika suara itu menggelegar di belakangnya. Sosok Putri Harper yang cantik datang dengan senyuman tipis menyapanya, wanita yang sudah melahirkan tiga anak itu tetap terlihat cantik.
Harper berhenti di depan Edward, tangannya memberikan kode pada Tobias agar meninggalkannya dengan Edward. Setelah ditinggal berdua, Harper menatap Edward dari atas hingga bawah. Semakin besar, putranya itu semakin terlihat seperti Enrique, suaminya, pikirnya. Tanpa menunggu lama ia menggandeng Edward untuk melanjutkan perjalanan, Harper merasa seperti sedang jalan bersama Enrique muda.
“Tumben sekali,” kata Edward dengan senyum santainya, tangan kanan yang bebas bergerak membuka dua kancing kemeja atasnya. “Apa ada yang ingin dibicarakan?”
“Sangat kasar sapaanmu padaku, Ed.” Harper memukul perut putranya. “Aku ingin kamu hadir dalam pesta.”
“Mom...” Edward menoleh, tatapannya terlihat menolak perintah tersebut.
“Apa perlu aku memohon pada putraku sendiri?” Harper menyela ucapan Edward.
Edward menghentikan langkahnya, matanya menatap lurus pada mata biru yang menatapnya tegas. Sangat tidak baik membuat orang tua memohon padamu, itu sama saja kau tidak menghargai usahanya membesarkanmu tanpa pamrih. Itu yang sering dikatakan Tobias selama ia diasrama dulu, termasuk Grandmom yang mewejang setiap natal.
“Mungkin akan aku pikirkan lagi. Tapi Mom tidak memaksaku untuk mencari calon istri kan? Jika iya, lebih baik Mom meminta Edric membawa istrinya.” Edward tersenyum jenaka, matanya terlihat begitu menyayangi Harper dan begitu teduh. Membuat siapapun yang melihat sangat iri dengan tatapan tersebut, terlebih seorang Edward Nicholas Macht yang terkenal dengan sikapnya yang cuek.
Harper sangat bersyukur memiliki putra seperti Edward, meskipun terlihat cuek dan begitu dingin, tidak jauh dengan Enrique tapi dia memiliki sikap hangat dan menyayangi pada keluarga. Tidak hanya itu, Edward adalah pekerja keras dan cerdas. Calon pewaris kerajaan memang seharusnya seperti itu bukan? Tapi Edward selalu menolak menjadi pewaris tersebut. Tuhan! Ada apa dengan darahnya dan kini mengalir pada ketiga anaknya? Darah pemberontak yang mengalir di dalam mereka.
“Tidak perlu membahasnya, sekarang aku sedang khawatid denganmu, sayang,” Harper mengelus lengan Edward. “Aku ingin kau segera bertemu dengan wanita baru dan menikah.”
“Bagaimana dengan Ely?” tanya Edward memberikan pilihan lain.
“Dia...” sejenak Harper terdiam dan wajahnya terlihat muram. “Ely sangat sulit untuk aku tebak selera prianya, tapi aku sangat yakin, dia akan benci dengan pria seperti Edric.”
Harper mengangkat kepalanya, ia tersenyum hangat pada Edward yang begitu tampan. Mereka terdiam sejenak, rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu terlihat jelas. Edward baru saja kembali setelah tiga tahun berada di kapal induk, bekerja membantu Enrique yang masih bekerja di tempat tersebut. Tanpa menunggu lama, Edward langsung memeluk Harper dengan erat.
“I miss you, Mom.”
“I miss you too, Honey,” balas Harper mengecup pipi Edward.
“Aku tidak berniat menikah cepat atau lima tahun ke depan,” bisik Edward ketika Harper melepas pelukannya dan berlari menghindar Harper yang siap menendang bokongnya atau yang mungkin lebih parah adalah melemparnya dari lantai dua istana. Meskipun itu tidak mungkin.