Senyum Gio pelan-pelan melebar.
Melihat perubahan wajah pria itu, Sera ingin menggigit lidahnya sendiri. Dari sekian banyak jawaban yang bisa dipilih, kenapa harus kalimat yang paling mudah disalahartikan?
“Jangan senyum begitu,” tegurnya.
Gio menunjuk wajahnya sendiri. “Begitu gimana?”
“Kayak orang baru menang undian.”
“Gue belum ngomong apa-apa, Ser.”
“Tapi muka lo udah berisik.”
Gio tertawa. Suara tawanya membuat Sera semakin kesal kepada dirinya sendiri karena ternyata ia suka mendengarnya. Lebih baik Gio menyebalkan seperti biasa daripada duduk dengan kemeja kerja yang lengannya digulung dan senyum yang membuat otaknya tidak bekerja dengan benar.
Sera segera mengangkat kantong makanan dari meja.
“Maksud gue, senang karena lo bawain makanan. Bukan karena orangnya.”
“Oh, gitu.”
“Iya.”
“Padahal gue nggak nanya.”
Sera mendelik. “Lo mau makan atau mau gue usir?”
“Katanya senang gue datang.”
“Gio!”
Pria itu mengangkat kedua tangan sambil menahan tawa. Baru beberapa menit berada di apartemen ini, lelah setelah bekerja seperti berkurang dengan sendirinya.
Ia memperhatikan Sera yang mulai membuka kantong. Ada beberapa kotak berisi nasi, ayam, sayur, dan satu wadah kecil kuah.
Gio langsung menahan bagian bawah wadah ketika Sera hendak mengangkatnya dengan tangan kiri.
“Yang itu masih panas. Pakai tangan satunya.”
Sera berhenti, lalu memindahkan pegangannya.
“Gue tahu.”
“Bagus. Gue juga nggak mau makanan gue tumpah.”
Sera memandangnya curiga. Ia tahu Gio sengaja membuat kepeduliannya terdengar seperti urusan menyelamatkan makanan.
Anehnya, cara itu justru membuat Sera tidak ingin membantah lagi.
“Lo udah makan?” tanyanya.
“Belum.”
“Terus beli segini emang buat berdua?”
Gio menatap beberapa kotak di meja. “Menurut lo gue mau ngasih makan satu lantai?”
“Mulut lo ya.”
“Ketularan yang punya rumah.”
Sera beranjak untuk mengambil piring. Baru dua langkah, kaki kirinya terasa nyeri hingga gerakannya tertahan.
Gio langsung berdiri.
“Piringnya di mana?”
“Gue bisa ambil.”
“Gue juga bisa. Ini perlombaan siapa paling mandiri?”
Sera membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia menunjuk ke arah dapur. “Lemari atas sebelah kanan. Sendok di laci bawah.”
Gio mengangguk dan berjalan ke tempat yang ditunjuk.
Sera kembali duduk dengan wajah sedikit masam. Ia tidak suka tubuhnya membuat urusan kecil terasa merepotkan. Biasanya ia bisa melakukan semuanya sendiri tanpa harus memberi petunjuk kepada orang lain.
Dari dapur terdengar suara Gio.
“Yang ini piring hias atau boleh dipakai?”
Sera menoleh.
Gio mengangkat piring putih polos.
“Menurut lo itu ada nilai seninya dari mana?”
“Siapa tahu mahal.”
“Kalau mahal terus nggak boleh dipakai, buat apa gue beli?”
“Buat dipandangi sambil marah-marah.”
Sera melempar tisu yang sudah diremas. Jaraknya terlalu jauh sehingga benda itu hanya jatuh dekat kaki meja.
Gio tertawa sambil membawa dua piring.
“Lemparan lo menurun. Bagus buat keselamatan gue.”
Makan malam mereka akhirnya dimulai di meja ruang tamu. Sera memilih duduk di sana karena lebih nyaman untuk kakinya, sementara Gio menyesuaikan posisi beberapa kotak agar mudah dijangkau.
Pria itu tidak mengomentari banyaknya nasi yang diambil Sera.
Ia justru menambah lauk ke piring sendiri dan makan dengan lahap.
“Lo kalau kerja emang suka telat makan?” tanya Sera ketika melihat Gio menambah nasi.
“Kadang. Tergantung rapatnya.”
“Pantes gampang marah. Kurang asupan.”
Gio menatapnya. “Kalau lo alasannya apa? Kayaknya makan teratur tapi mulut tetap galak.”
Sera mengangkat sendok dengan tatapan mengancam.
Gio langsung tersenyum.
“Ronan juga suka ngingetin makan,” katanya kemudian. “Tapi biasanya setelah dia sendiri kenyang.”
“Ronan siapa?”
“Sekretaris gue. Sekalian teman dari SMA.”
“Oh. Berarti dia pasti punya banyak rahasia memalukan tentang lo.”
Gio menyipitkan mata. “Jangan punya pikiran aneh.”
“Gue belum bilang mau kenalan.”
“Tapi muka lo udah punya rencana.”
Sera tertawa. Untuk beberapa saat, ia bisa melupakan rasa pegal di kaki dan pekerjaan yang besok harus diselesaikan.
Ternyata makan bersama orang yang tepat bisa membuat waktu berjalan lebih cepat.
Sera sesekali meliriknya.
Gio terlihat berbeda ketika tidak sedang berusaha membuatnya kesal. Garis wajahnya lebih tenang, meskipun rambut bagian depan sedikit berantakan seperti terlalu sering disentuh.
“Kenapa?” tanya Gio tiba-tiba.
Sera langsung menunduk. “Nggak.”
“Lo lihat gue terus.”
“Gue lihat makanan yang di belakang lo.”
Gio menoleh ke belakang. Hanya ada sandaran sofa.
Sera memejamkan mata sebentar.
Bodoh. Kenapa tidak memilih alasan yang lebih masuk akal?
Gio kembali menghadapnya dengan senyum yang ditahan.
“Enak makanannya?”
“Iya,” jawab Sera cepat. “Lo beli di mana?”
Gio menyebut tempat yang dilewatinya sepulang dari kantor. Ia sebenarnya sempat memikirkan makanan kesukaan Sera, lalu sadar dirinya tidak tahu banyak selain kebiasaan gadis itu mengeluarkan kalimat pedas.
“Gue belum tahu lo suka apa,” akunya.
Sera mengangkat wajah.
“Makanannya maksud gue,” tambah Gio.
“Gue juga nggak mikir yang lain.”
“Bagus.”
Sera kembali menyendok nasi. Entah kenapa percakapan sederhana itu membuat suasana terasa lebih canggung daripada saat mereka bertengkar.
Gio kemudian melihat tas kerja yang diletakkan dekat meja kecil.
“Lo tadi keluar?”
Tangan Sera berhenti.
“Kerja.”
Gio menatapnya beberapa detik. “Bukannya masih cuti?”
“Gue cuma duduk ngerjain laporan.”
“Terus pulangnya sampai jalannya begitu.”
“Kaki gue emang belum sembuh, bukan berarti otak gue juga harus istirahat.”
Gio meletakkan sendok.
Ia ingin mengomel, tetapi melihat wajah Sera yang langsung bersiap melawan membuatnya menghela napas.
“Besok masih masuk?”
“Lihat nanti.”
“Itu jawaban orang yang udah punya rencana tapi nggak mau diganggu.”
Sera tersenyum tipis. “Lo ternyata bisa ngerti.”
“Sayangnya.”
Mereka kembali makan. Gio tidak melanjutkan perdebatan, tetapi memindahkan gelas lebih dekat kepada Sera ketika gadis itu hendak meraihnya.
Hal kecil itu justru membuat Sera kehilangan keinginan untuk bersikap ketus.
“Rea gimana?” tanyanya setelah beberapa saat.
“Tadi gue kirim pesan. Katanya masih agak mual, tapi udah bisa makan.”
“Om Jou pasti panik.”
“Pasti. Suaminya siapa dulu.”
Sera tertawa pelan. “Yang panik kalau Rea sakit bukan cuma suaminya.”
Gio mengangkat alis. “Lo lagi nyindir gue?”
“Kalau merasa, berarti benar.”
Pria itu tersenyum. Ia tidak membantah.
Sera menyukai kedekatan Gio dengan Rea, meskipun sering menjadikannya bahan ejekan. Ada sesuatu yang hangat ketika melihat seseorang benar-benar dijaga oleh keluarganya.
Pikirannya hampir melayang lebih jauh ketika ponsel Gio bergetar di meja.
Layar menyala.
Nama Levia terlihat jelas sebelum Gio membalik ponselnya.
Sera menurunkan pandangan ke piring.
Suasana yang beberapa detik lalu terasa nyaman mendadak kembali memiliki jarak.
“Angkat aja,” katanya.
Gio menatapnya. “Nanti.”
Sera mengaduk sedikit nasi yang tersisa.
“Nggak enak kalau ada yang nunggu.”
Kali ini, Gio tidak langsung menemukan jawaban.