“Gio, hari Minggu jangan buat acara dulu.”
Tangan Gio berhenti sebelum meraih gelas. Ia menatap Adam yang duduk di ujung meja makan dengan wajah tenang, seolah kalimat tadi hanya membahas menu sarapan.
“Kenapa, Pa?”
“Kita diundang makan sama keluarga Levia.”
Gio meletakkan gelas kembali.
Santi yang sedang mengambil roti langsung menoleh kepada suaminya.
“Papa belum cerita sama Mama.”
“Baru dibicarakan kemarin.”
Adam melanjutkan sarapan, sementara Gio mulai kehilangan selera makan.
“Kalau urusan bisnis, Papa sama Kak Gery aja,” ujarnya.
“Papa mengajak kamu.”
“Gio nggak ada hubungan sama Levia.”
“Siapa yang bilang ini soal hubungan kalian? Keluarganya kenal baik dengan kita.”
Gio mengembuskan napas. Ia mengenal cara ayahnya berbicara ketika tidak ingin maksud sebenarnya dipersoalkan.
Beberapa hari lalu Adam sudah menyebut keuntungan jika dirinya kembali bersama Levia. Sekarang tiba-tiba makan malam itu hanya pertemuan keluarga biasa.
Santi meletakkan pisaunya.
“Pa, Gio perlu tahu acaranya untuk apa.”
“Untuk makan dan membicarakan beberapa hal. Apa sekarang mengajak anak sendiri harus serumit ini?”
Gio menatap ayahnya.
“Kalau memang membicarakan kerja sama, Gio bisa ikut di kantor. Tapi Gio nggak mau ke sana terus dianggap memberi jawaban tentang Levia.”
Adam mengangkat wajah.
“Kamu terlalu jauh berpikir.”
“Papa sendiri yang kemarin bilang hubungan kami bagus buat perusahaan.”
Suasana meja menjadi sunyi.
Santi menyentuh lengan suaminya sebelum Adam menjawab dengan nada yang lebih keras.
“Jangan dibahas sambil marah. Gio juga belum bilang menolak semua pertemuan.”
Gio mengusap tengkuknya.
“Aku cuma nggak mau ada yang salah paham, Ma.”
Adam bersandar pada kursi.
“Papa tidak akan menikahkan kamu besok pagi.”
“Tapi Papa berharap Gio kembali sama dia.”
Ayahnya tidak membantah.
Gio mengangguk kecil, menerima jawaban yang akhirnya terlihat jelas meskipun tidak diucapkan.
“Gio pikirkan soal undangannya. Tapi untuk Levia, jawaban Gio belum berubah.”
Ia menyelesaikan sarapan tanpa banyak bicara, lalu berpamitan.
Santi melihat putranya keluar dengan wajah masam.
“Papa jangan sampai membuat dia semakin menjauh,” katanya pelan.
Adam tidak langsung menjawab.
Di kantor, Gio berusaha memusatkan perhatian pada laporan yang harus diperiksa. Usahanya terganggu ketika Ronan masuk sambil membawa map dan senyum yang terlalu lebar.
“Pagi, Bos.”
“Kalau mau ngeledek, keluar.”
“Gue belum buka mulut.”
“Udah. Barusan.”
Ronan tertawa dan meletakkan map.
“Ini yang kemarin diminta. Sama jadwal minggu depan.”
Gio membukanya. Ia berharap Ronan segera pergi, tetapi pria itu malah duduk.
“Ada lagi?”
“Gue mau minta maaf soal Levia masuk kemarin. Gue lagi ke bagian keuangan.”
“Gue tahu.”
“Udah gue sampaikan ke depan, kalau ada tamu tetap konfirmasi dulu.”
Gio mengangguk.
Ronan memperhatikan wajah temannya.
“Dia ngajak balikan lagi?”
“Menurut lo?”
“Kalau dari tingkat kusut muka lo, sepertinya iya.”
Gio mendesah.
Ronan tidak meneruskan ledekan ketika melihat temannya benar-benar kesal.
“Lo udah bilang yang jelas?”
“Udah berkali-kali.”
“Terus jangan kasih jawaban yang kelihatan beda pas dia maksa.”
Gio menatapnya.
Ronan mengangkat tangan. “Gue ngomong sebagai temen. Bukan sekretaris. Kalau sebagai sekretaris, gue cuma mau lo tanda tangan bagian yang itu.”
Ia menunjuk dokumen dengan wajah serius.
Gio akhirnya tertawa kecil.
Setelah Ronan keluar, Gio menerima pesan dari Gery yang meminta satu berkas dibawa ke ruangannya.
Ia datang sambil membawa map, lalu meletakkannya di meja.
Gery memeriksa beberapa halaman sebelum mengangkat wajah.
“Papa sudah ngomong soal hari Minggu?”
Gio mendesah.
“Ternyata semua orang sudah tahu kecuali aku.”
“Aku baru tahu tadi pagi.”
“Kakak setuju?”
“Setuju makan? Iya. Kalau setuju kamu harus balikan sama Levia, itu bukan keputusan aku.”
Gio menarik kursi.
“Papa kayaknya berpikir semuanya bisa sekalian. Kerja sama lancar, anaknya dapat pasangan.”
Gery menutup map.
“Kalau kamu tidak mau, bilang yang jelas. Tapi jangan marah sama semua orang yang kebetulan menyebut namanya.”
“Aku nggak marah sama semua orang.”
Gery menatap wajah adiknya.
Gio akhirnya bersandar dengan napas panjang.
“Oke. Mungkin sedikit.”
“Kamu juga jangan datang kalau sudah tahu akan diperlakukan seperti acara perjodohan tapi cuma diam sepanjang malam.”
Gio mengangguk.
Ia tidak ingin membuat keluarga Levia merasa mendapat persetujuan hanya karena dirinya terlalu malas berdebat.
Gery menyerahkan kembali satu lembar yang perlu diperiksa.
“Yang ini ada angka belum cocok. Masalah hati boleh rumit, laporan jangan ikut-ikutan.”
Gio tertawa pendek.
“Kirain dipanggil mau dibela.”
“Dibela boleh. Kerja tetap.”
Menjelang sore, setelah pekerjaan yang mendesak selesai, Gio pergi ke sanggar. Ia membutuhkan sesuatu yang tidak membuatnya duduk sambil memikirkan kalimat orang lain.
Suara anak-anak menyambut ketika ia masuk.
“Bang Gio!”
Gio mengangkat tangan dan menyapa beberapa murid. Rama berdiri di sisi ruangan sambil memperhatikan latihan yang sedang berlangsung.
“Muka lo kayak habis ditagih utang,” celetuk Rama.
“Gue datang buat olahraga, bukan konsultasi wajah.”
“Bagus. Berarti masih sehat.”
Gio berganti pakaian, lalu ikut membantu sesi yang sudah disiapkan. Perhatiannya perlahan kembali pada gerakan murid, pertanyaan yang diajukan, dan tingkah beberapa anak yang selalu ingin mendapat giliran lebih dulu.
Di tempat ini ia lebih mudah bernapas.
Tidak ada yang peduli apakah dirinya akan makan malam bersama keluarga pengusaha tambang.
Seorang murid justru mengeluh karena Gio terlalu lama menjelaskan.
“Kalau begitu dari tadi didengerin,” balasnya.
Rama tertawa dari pinggir ruangan.
Setelah latihan selesai, Gio duduk sambil membuka botol air. Rama menghampirinya dan menaruh handuk di bahu.
“Gadis nanya soal rencana liputan sanggar,” katanya.
Gio menoleh.
“Liputan apa?”
“Profil atlet yang masih ngurus pembinaan. Dia bilang temennya lagi nyari usulan yang bisa dibawa ke kantor.”
“Sera?”
Rama menyeringai.
“Gue belum nyebut nama.”
Gio mendelik.
“Temennya yang gue kenal cuma dia.”
“Gue nggak protes.”
Rama tertawa sebelum melanjutkan penjelasan. Belum ada jadwal pasti. Gadis hanya menanyakan apakah mereka bersedia jika usulnya diterima.
Gio memandang ruang latihan yang mulai sepi.
“Dia kan masih pemulihan.”
“Makanya kalau jadi, bukan liputan lari ke gunung. Wawancara di sini. Banyak duduknya.”
Gio mengusap rambutnya.
Ia langsung membayangkan Sera duduk di pinggir tempat latihan dengan wajah serius, lalu kembali judes begitu kamera dimatikan.
Pikiran tersebut membuat sudut bibirnya naik.
Rama menangkapnya.
“Lo senyum kenapa?”
“Nggak.”
“Gue cuma ngomong soal kerjaan. Lo kayak mau dapat hadiah.”
Gio melempar handuk kecil ke arah temannya.
Rama menangkap sambil tertawa.
“Bilang aja kalau usulnya jelas, kirim ke sini. Nanti kita atur,” ujar Gio.
“Siap.”
Gio kembali meneguk air, berusaha terlihat biasa.
Pagi tadi ia ingin menghindari pertemuan yang menyangkut seorang perempuan.
Sore ini, ia justru mulai memikirkan alasan agar perempuan lain bisa datang.
Dan perbedaan itu semakin sulit diabaikan.