“Gue reporter, bukan tamu kehormatan.”
Kalimat itu menjadi sapaan pertama Sera ketika Gio menarik sebuah kursi ke tempat yang menurutnya lebih nyaman.
Gadis langsung menutup mulut, menahan tawa.
Gio menoleh kepada Sera.
“Gue belum pasang karpet merah.”
“Tapi dari tadi lo mindahin kursi terus.”
“Karena yang tadi goyang.”
Sera melihat kursi yang dimaksud, lalu mengalihkan pandangan.
“Oh.”
Gio mengangkat alis.
“Maafnya mana?”
“Kan belum jatuh.”
Gadis tertawa, sementara Rama menggeleng dari dekat meja perlengkapan.
Pertemuan hari itu merupakan persiapan awal untuk liputan yang sudah dibicarakan. Sera datang bersama rekan yang menangani gambar, sementara Gadis ikut karena sekalian ingin bertemu Rama setelah pekerjaannya selesai.
Raka juga berada di sana untuk pemotretan yang telah dijadwalkan.
Ruangan terasa lebih ramai daripada kunjungan biasa.
Sera membuka catatan dan mulai menanyakan urutan kegiatan. Sikapnya berubah dengan cepat ketika pekerjaan dimulai.
Gio memperhatikan dari sisi ruangan.
Perempuan itu tidak meninggikan suara saat seorang anak menjawab terlalu pelan. Ia justru mencondongkan tubuh sedikit, tersenyum, lalu menanyakan hal yang lebih mudah dijawab.
Anak tersebut akhirnya tertawa.
“Kakak yang kemarin di televisi?” tanyanya setelah mulai lebih berani.
Sera mengangguk.
“Kalau yang kamu lihat orangnya cantik, kemungkinan besar iya.”
Anak itu tertawa lagi.
Gio yang mendengar dari dekat pintu langsung menggeleng. Tingkat percaya diri Sera ternyata tidak kalah tinggi darinya.
“Kalau masuk televisi harus berani?” tanya murid itu.
Sera memikirkan jawabannya.
“Harus mau belajar. Berani juga membantu, tapi bukan berarti boleh asal melakukan semuanya.”
Anak itu melihat perban di tangannya.
“Kakak jatuh waktu latihan?”
“Bukan. Waktu bekerja.”
“Sakit?”
“Sakit. Makanya sekarang Kakak harus nurut sama dokter.”
Gio mengangkat alis dari kejauhan.
Sera melihatnya dan memberikan tatapan yang berarti jangan ikut campur.
Murid kecil itu tidak menyadari perang pandang keduanya. Ia justru mulai menceritakan pertandingan yang pernah diikuti dan bagaimana dirinya menangis karena takut sebelum masuk arena.
Sera mendengarkan tanpa menertawakan.
Ia menanyakan apa yang akhirnya membuat anak itu mau mencoba.
Jawabannya sederhana.
“Bang Gio nunggu di pinggir.”
Sera terdiam sesaat.
Lalu ia tersenyum dan mencatat sesuatu di bukunya.
Anak itu kembali kepada teman-temannya setelah dipanggil Rama. Sera masih memandangi catatan yang baru dibuat ketika Gio melintas membawa perlengkapan.
“Kenapa lihat gue?”
“Nggak. Lewat aja.”
Gio menggeleng, sementara Sera menunduk untuk menyembunyikan senyuman yang muncul tanpa diminta.
Gio ikut tersenyum tanpa sadar.
“Mulutnya ternyata bisa manis,” gumamnya.
Rama yang berdiri di samping langsung menoleh.
“Kalau bukan sama lo, bisa.”
“Lo dari tadi niat banget jadi komentator.”
“Gratis lagi.”
Gio menyenggol lengan temannya, kemudian kembali membantu kegiatan yang sedang berlangsung.
Raka mengambil beberapa gambar sesuai kebutuhan sanggar. Sesekali ia memperlihatkan hasil kepada murid yang ingin tahu bagaimana wajah mereka tertangkap kamera.
Sera melihatnya bekerja dengan senyum kecil.
Dulu pemandangan seperti itu bisa membuatnya betah berlama-lama hanya untuk berada dekat Raka.
Sekarang perhatiannya justru beralih ketika Gio dipanggil seorang murid.
Pria itu berjongkok untuk mendengarkan keluhan anak tersebut. Wajahnya serius, tetapi tidak membuat anak itu takut berbicara.
Sera memperhatikan lebih lama daripada yang diperlukan.
Ia baru tersadar ketika Gadis menyentuh sikunya.
“Catatannya di tangan. Bukan di muka Gio.”
Sera langsung menoleh tajam.
“Lo mau pulang duluan?”
“Galak amat.”
“Ganggu kerja orang.”
Gadis tersenyum penuh arti, kemudian pergi menghampiri Rama.
Sera mengusap pipinya dengan punggung tangan. Ia berharap wajahnya tidak semerah yang dirasakannya.
Ketika giliran wawancara singkat dengan Gio dimulai, Sera kembali memusatkan perhatian pada catatan.
“Kita mulai dari kegiatan sanggar dulu,” katanya.
Gio mengangguk.
Sera memberikan pertanyaan dengan nada profesional. Gio menjawab lebih lancar setelah pembicaraan masuk ke bidang yang benar-benar disukainya.
Ia menceritakan latihan, pembinaan, serta kesulitan membagi waktu dengan pekerjaan di perusahaan.
Sera mendengarkan.
Tidak semua jawabannya menarik karena pria itu tampan. Ada sesuatu dalam cara Gio menjelaskan yang menunjukkan bahwa tempat ini sungguh penting baginya.
“Kenapa masih ingin terlibat langsung?” tanya Sera. “Padahal waktu yang tersedia semakin terbatas.”
Gio berpikir sebentar.
“Karena dulu ada orang-orang yang meluangkan waktu buat saya. Kalau sekarang saya bisa melakukan hal yang sama, rasanya sayang kalau dilewatkan.”
Sera menatapnya.
Jawaban itu tidak panjang, tetapi membuat pertanyaan berikutnya terlambat keluar.
Gio mengangkat alis.
“Ada yang salah?”
Sera segera melihat catatan.
“Nggak. Saya lanjut.”
Sudut bibir Gio bergerak sedikit mendengar penggunaan kata saya di antara mereka. Ia tidak menggodanya karena mengetahui pekerjaan Sera bukan tempat untuk bermain seenaknya.
Setelah sesi selesai, Sera memeriksa catatan bersama rekannya. Ada beberapa gambar tambahan yang masih perlu direncanakan, dan jadwal berikutnya akan disesuaikan sebelum benar-benar dilakukan.
Ia merasa puas.
Gadis mendekat sambil membawa air.
“Nih. Lo dari tadi ngomong terus.”
“Makasih.”
“Gio yang minta bawain.”
Sera berhenti membuka tutup botol.
Gadis langsung tertawa melihat reaksinya.
“Bercanda. Gue beli sendiri. Muka lo gampang banget berubah sekarang.”
Sera mencubit lengannya dengan tangan yang tidak sakit.
Gadis menjerit pelan lalu melarikan diri ke dekat Rama.
Gio mendekat ketika melihat keributan kecil itu.
“Kenapa?”
“Teman gue kesambet.”
“Dari tadi kelihatannya biasa aja.”
“Berarti lo juga.”
Gio tertawa dan duduk di kursi sebelah.
“Kakinya gimana?”
“Masih nempel.”
“Gue hampir lupa lo nggak bisa jawab normal.”
Sera tersenyum tipis, lalu mengaku sudah mulai lelah. Gio mengangguk dan tidak menawarkan kegiatan tambahan.
Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering.
Ia melihat nama Adam, lalu berdiri untuk menerima panggilan agak jauh dari keramaian.
Sera tidak berniat mendengarkan.
Namun, beberapa kalimat terdengar ketika Gio menjawab dengan suara yang semakin tegas.
“Gio belum bilang setuju, Pa.”
Jeda.
“Kalau Levia sudah bilang begitu, itu bukan jawaban dari Gio.”
Sera menunduk kepada botol di tangannya.
Raka yang baru selesai mengambil gambar memperhatikan wajahnya, kemudian melirik ke arah Gio.
Ia tidak bertanya.
Gio kembali beberapa saat kemudian dengan rahang sedikit menegang.
“Gue tinggal sebentar,” katanya kepada Rama. “Ada yang perlu dibereskan.”
Rama mengangguk.
Sera menutup buku catatan.
“Gue juga sudah selesai. Nanti jadwal lanjutannya dikabarin.”
Gio menatapnya, seolah ingin menjelaskan sesuatu.
Sera lebih dulu tersenyum kecil.
“Makasih udah bantu kerjaan gue.”
“Bukan masalah.”
Sebelum percakapan berlanjut, ponsel Sera bergetar.
Nomor yang muncul membuat senyumnya perlahan hilang.
Ia berdiri dan berjalan menuju bagian lorong yang lebih sepi.
“Halo?”
Suara di seberang terdengar terburu-buru. Bukan kabar tentang pembayaran seperti biasanya.
Sera mencengkeram buku catatannya.
“Sekarang?”
Ia mendengarkan lagi, lalu memejamkan mata.
“Jangan tutup dulu. Saya mau bicara.”
Beberapa saat kemudian, terdengar suara lain yang lebih pelan memanggil namanya.
“Sera…”
Perempuan itu menunduk.
Seluruh kalimat tajam yang biasanya begitu mudah keluar mendadak hilang.
“Iya,” jawabnya dengan suara bergetar. “Sera dengar.”