Sera baru selesai membalas pesan Gadis ketika menyadari Gio belum berbicara sejak mereka meninggalkan warung.
Ia melirik pria di sampingnya.
“Lo kenapa?”
Gio menatap jalan.
“Ada yang mau gue omongin.”
“Ngomong aja.”
Gio membuka mulut, kemudian menutupnya kembali ketika sebuah sepeda motor berpindah jalur di depan mobil.
Sera mengerutkan kening.
“Kalau soal bakso tadi, punya lo memang kebanyakan sambal.”
Biasanya Gio akan membalas.
Kali ini ia hanya tersenyum sekilas.
Sera meletakkan ponsel di pangkuan. Rasa ringan yang dibawanya dari warung mulai berubah menjadi gelisah.
Sisa perjalanan terasa lebih panjang.
Ketika mereka tiba di apartemen, Gio memarkir mobil, mematikan mesin, lalu membuka kunci pintu.
Sera belum melepas sabuk pengaman.
“Sekarang?”
Gio mengangguk.
Ia menatap gadis itu, lalu menunduk sebentar. Kalimat yang sejak tadi disusun di kepalanya mendadak terdengar seperti usaha membuat dirinya tidak terlihat terlalu buruk.
Akhirnya ia membuang semuanya.
“Malam waktu gue antar lo pulang dari klub. Waktu kita tidur di mobil.”
Sera mengangguk perlahan.
Ia ingat terbangun dengan tubuh pegal dan malu karena merepotkan Gio. Ia juga ingat permintaan maaf pria itu atas ucapan yang menyakitinya sebelumnya.
“Kenapa malam itu?”
“Gue nyium lo waktu lo tidur.”
Sera tidak bergerak.
Dengung kendaraan yang lewat di belakang mereka terdengar samar.
“Apa?”
Gio memaksa dirinya mengulang tanpa mengalihkan pandangan.
“Gue nyium lo. Lo lagi tidur. Lo nggak tahu.”
Wajah Sera berubah.
Ia menatap Gio beberapa saat, seperti menunggu penjelasan yang akan membuat kalimat tersebut memiliki arti lain.
Tidak ada.
“Di mana?”
Gio mengerti pertanyaannya.
“Bibir.”
Tangan Sera mengencang di atas ponsel.
Ia menoleh ke kaca depan, lalu kembali menatap Gio.
“Lo bercanda?”
“Enggak.”
Sera segera melepas sabuk pengaman.
Bunyi pengaitnya terdengar tajam di ruang sempit itu.
Gio bergerak sedikit ketika ia meraih tas, tetapi berhenti sebelum mengulurkan tangan.
“Ser, gue minta maaf.”
“Waktu itu lo minta maaf karena udah ngomong kasar ke gue.”
“Iya.”
“Terus yang ini lo simpan?”
Gio menelan ludah.
“Iya.”
Sera tertawa pendek tanpa senyum.
Ia teringat dirinya mengucapkan terima kasih. Mengira pria ini hanya duduk menunggu karena tidak mengetahui cara masuk ke apartemennya.
Teringat rasa sungkan ketika menyadari Gio ikut menghabiskan malam di mobil.
“Gue bahkan nggak tahu harus marah soal itu.”
“Gue tahu.”
“Enggak. Lo nggak tahu.”
Gio terdiam.
Sera memindahkan tas ke pangkuan. Jemarinya mencari ritsleting, meskipun ia tidak membutuhkan apa pun dari dalamnya.
Pertanyaan-pertanyaan berdatangan terlalu cepat.
“Selain itu?”
Gio langsung menggeleng.
“Nggak ada. Cuma itu.”
Sera memandang wajahnya, berusaha menentukan apakah jawaban tersebut bisa dipercaya.
Beberapa menit lalu ia bahkan tidak merasa perlu memikirkan hal semacam ini.
Sekarang ia benci harus bertanya.
“Kenapa baru ngomong?”
Gio menarik napas perlahan.
“Karena gue takut lo menjauh.”
“Jadi lo tunggu sampai gue nyaman?”
Kalimat itu membuat Gio menunduk.
Ia tidak merencanakannya seperti itu. Namun, menyangkal sekarang akan terdengar seolah akibat yang dirasakan Sera tidak penting dibandingkan niatnya sendiri.
“Gue salah karena terus menunda,” katanya.
Sera mengusap wajah.
Ia tidak menangis. Belum.
Yang terasa lebih dulu adalah panas di pipi dan keinginan untuk berada sejauh mungkin dari kursi penumpang tersebut.
“Dan selama ini lo lihat gue biasa aja.”
“Nggak biasa aja, Ser.”
“Buat gue iya. Gue nggak tahu ada yang harus dipikirin!”
Suara Sera meninggi.
Gio tidak menyuruhnya tenang.
Ia ingat bagaimana Sera pernah menciut ketika dibentak di mobil. Malam ini gadis itu justru terlihat siap melawan, tetapi hal tersebut tidak membuat apa yang dilakukannya menjadi lebih ringan.
“Sera—”
“Gue mau turun.”
Gio mengangguk dan menjauhkan tangannya dari sisi pintu.
Sera membuka pintu sendiri.
Udara parkiran terasa pengap. Ia berdiri sebentar, menyeimbangkan tubuh sebelum menyampirkan tas di bahu.
Gio turun dari sisi lain.
Sera langsung menoleh.
“Jangan ikut.”
Langkah Gio berhenti.
“Gue cuma mau pastikan—”
“Gue bisa sampai lift.”
Gio menutup mulut, kemudian mengangguk.
Ia tetap di samping mobil ketika Sera berjalan menjauh. Gadis itu tidak berlari, tetapi punggungnya kaku dan langkahnya lebih cepat daripada ketika mereka datang.
Gio baru menyadari tangannya gemetar setelah pintu lift menutup.
Ia kembali duduk di kursi pengemudi.
Ponselnya masih menampilkan percakapan mereka yang penuh ejekan ringan.
Gio mengetik permintaan maaf, membaca ulang, lalu menghapusnya.
Sera baru saja meminta ditinggalkan.
Untuk malam ini, ia harus mendengarkan.
***
Di apartemen, Sera mengunci pintu dan meletakkan tas di lantai.
Ia berdiri tanpa menyalakan lampu ruang tengah.
Beberapa detik kemudian ia menekan sakelar dengan gerakan tergesa, kesal pada dirinya sendiri karena masih bisa lupa betapa tidak sukanya ia pada ruangan gelap.
Cahaya menyala.
Sera duduk di sofa.
Pandangannya jatuh pada meja tempat Gio pernah meletakkan makanan. Ia teringat senyum pria itu ketika dirinya tanpa sengaja mengatakan senang dikunjungi.
Kenangan tersebut membuat matanya panas.
Ia memang senang.
Itulah yang membuat semuanya terasa begitu menyebalkan sekarang.
Ia menarik bantal ke pangkuan, lalu meletakkannya kembali. Tubuhnya tidak bisa menemukan posisi yang terasa pas.
Pikirannya sempat mencari-cari kesalahan sendiri. Kenapa malam itu ia tertidur. Kenapa ia mau diantar. Kenapa ia tidak mengetahui apa-apa sampai Gio mengatakannya.
Sera menggeleng keras.
Tidur bukan undangan.
Ia tidak perlu menyesal karena pernah mengira seseorang akan menjaganya.
Namun, mengerti hal itu tidak langsung menghilangkan rasa malu yang muncul tanpa diminta. Sera kesal karena justru dirinya yang ingin bersembunyi, sementara ia tidak melakukan apa pun.
Ia berdiri mengambil air, meneguknya sedikit, lalu kembali ke sofa. Gelas di tangannya bergetar hingga terpaksa ia letakkan di meja.
Sera mengambil ponsel. Nama Gadis berada dekat bagian atas daftar percakapan.
Ia menekan panggilan.
“Ser? Udah sampai?” suara Gadis terdengar ceria. “Rama tadi bilang—”
“Dis.”
Nada suaranya membuat Gadis berhenti.
“Kenapa?”
Sera menatap ujung sandal.
“Lo bisa ngobrol sebentar?”
“Bisa.”
Sera menarik napas, tetapi kalimat pertama tidak segera keluar.
Di seberang, Gadis tidak mendesak.
“Gue dengerin,” katanya.
Barulah Sera menunduk, menutup mata dengan telapak tangan.
Ia menceritakan percakapan di mobil dengan kalimat terputus-putus. Tidak semuanya rapi. Beberapa bagian diulang karena ia sendiri masih sulit percaya.
Gadis mendengarkan sampai selesai.
“Lo mau gue datang?”
Sera diam sebentar.
Biasanya ia akan menolak.
Malam itu ia memandangi ruang tamunya yang terang, lalu menjawab pelan.
“Mau.”
“Oke. Gue ke sana.”
Setelah panggilan berakhir, Sera meletakkan ponsel di sampingnya.
Ia belum tahu apa yang akan dikatakan kepada Gio besok.
Untuk sekarang, ia hanya ingin seseorang datang tanpa membuatnya merasa harus menjaga diri sepanjang waktu.