Pada Selasa pagi yang sama, Sera berdiri di depan kursi studio dengan satu tangan memegang naskah.
Lina memintanya duduk.
“Santai dulu. Belum siaran.”
“Aku tahu.”
“Tanganmu meremas kertas dari tadi.”
Sera menunduk. Sudut naskahnya memang sudah terlipat tidak beraturan.
Ia merapikannya di meja.
Lampu studio terasa lebih panas daripada yang dibayangkannya. Sera sudah sering berada di depan kamera, tetapi duduk menunggu semua orang mengatur sesuatu di sekelilingnya memberi rasa yang berbeda.
Di lapangan, ia bisa mengalihkan perhatian pada narasumber atau kejadian yang dilaporkan.
Di sini, wajahnya sendiri muncul pada monitor.
Dan ia langsung melihat betapa lelah matanya.
Lina duduk di sampingnya.
“Kita baca bergantian dulu. Kalau salah, teruskan. Nanti baru diulang.”
Sera mengangguk.
Percobaan pertama tidak berjalan mulus.
Ia membaca terlalu cepat, kehilangan jeda, lalu terlambat memindahkan pandangan ketika kamera berganti. Pada bagian berikutnya, satu kata sederhana justru tersangkut di lidah.
“Ulang dari kalimat tadi,” ujar Lina.
Sera menarik napas.
Ia mencoba lagi.
Kali ini lebih baik sampai pikirannya tiba-tiba membawa suara Gio ke tengah kalimat.
Gue nyium lo waktu lo tidur.
Sera berhenti.
Ruangan terasa terlalu terang.
Lina menoleh, lalu memberi isyarat agar latihan dijeda.
“Mau minum?”
Sera cepat-cepat mengangguk.
Ia menerima botol dari seorang kru dan meneguk beberapa kali. Tangannya sudah tidak gemetar, tetapi rasa malu mulai naik karena semua orang harus menunggunya.
“Maaf. Aku kurang tidur.”
Lina menggeser kursinya sedikit mendekat.
“Bisa lanjut atau butuh sepuluh menit?”
“Sepuluh menit boleh?”
“Boleh.”
Tidak ada pertanyaan tentang penyebabnya.
Sera keluar menuju lorong, duduk di bangku, lalu menempelkan botol dingin ke telapak tangan.
Ia ingin menelepon Gadis, tetapi tahu sahabatnya sedang menyiapkan pekerjaan sendiri.
Akhirnya ia membuka naskah dan membaca bagian berikutnya dalam hati.
Satu paragraf.
Kemudian satu lagi.
Ketika Lina menyusul, Sera sudah bisa mengangkat wajah tanpa takut langsung menangis.
“Aku mau coba lagi.”
Lina mengangguk.
“Jangan mengejar sempurna di hari pertama. Dengarkan kalimatnya. Kamu sedang menyampaikan sesuatu ke orang, bukan berlomba menamatkan halaman.”
Sera tersenyum kecil.
“Kelihatan buru-buru banget, ya?”
“Sedikit lagi penonton harus ikut lari.”
Sera tertawa.
Mereka kembali ke studio.
***
Latihan selesai menjelang siang.
Mas Panca datang melihat potongan rekaman, lalu memberikan beberapa catatan. Ia tidak memuji berlebihan, tetapi juga tidak memperlakukan kesalahan Sera seperti tanda bahwa tawarannya keliru.
“Kamis kita coba lagi. Bagian kedua tadi sudah lebih enak.”
“Saya perbaiki, Mas.”
“Dan tidur. Itu termasuk persiapan.”
Sera mengangguk tanpa berusaha membuat alasan baru.
Di luar studio, Lina menepuk lengannya pelan.
“Besok kamu bisa latihan baca sendiri. Rekam pakai ponsel juga cukup buat dengar kebiasaanmu.”
“Makasih, Lin.”
“Nanti kalau sudah lancar, jangan bilang aku guru galak.”
“Belum tentu. Kita lihat Kamis.”
Lina tertawa sebelum pergi.
Sera berdiri beberapa saat, memandangi catatan yang diberikan Panca.
Ia tidak menyukai hasil percobaan pertamanya.
Namun, ada bagian yang berhasil diselesaikan setelah ia meminta jeda. Hal itu cukup untuk membuatnya datang ke meja kerja dan membuka bahan liputan sanggar.
Gadis baru muncul ketika Sera sedang memutar wawancara Gio.
Langkahnya melambat.
“Lo nggak apa-apa?”
“Lagi kerja.”
“Gue tahu.”
Sera menghentikan rekaman.
Di layar, Gio membeku dengan senyum kecil setelah menjawab pertanyaan tentang murid-muridnya.
Untuk sesaat Sera ingin mengganti bagian tersebut dengan gambar latihan saja.
Keinginan itu membuatnya semakin kesal.
“Wawancaranya bagus,” katanya akhirnya.
Gadis menatap layar, lalu mengangguk.
“Memang.”
“Gue benci karena bagus.”
Gadis menarik kursi.
“Yang liputan kan juga lo.”
Sera memandangi sahabatnya.
Kalimat itu membuatnya terdiam.
Selama beberapa detik, ia hanya mengingat bahwa dirinya datang ke sanggar membawa pertanyaan, mendengarkan jawaban, dan menemukan hal yang layak diceritakan.
Pekerjaan itu tidak mendadak menjadi milik Gio hanya karena wajah pria tersebut ada di dalamnya.
Sera kembali menjalankan rekaman.
Ia mencatat bagian yang akan dipakai, lalu memisahkan pertanyaan tambahan untuk Rama.
Gadis tidak mengganggu sampai satu potongan selesai.
Pada rekaman berikutnya, seorang murid menyebut dirinya paling berani di kelas. Beberapa detik kemudian ia bersembunyi di belakang temannya saat diminta maju.
Sera tertawa pelan.
“Yang ini lucu,” kata Gadis.
“Iya. Tapi jangan sampai dia malu waktu nonton.”
Sera menandai bagian ketika anak itu akhirnya mencoba. Keberaniannya terlihat lebih jelas di sana daripada dalam jawaban yang terlalu percaya diri.
Ia kemudian menghubungi rekannya untuk mencocokkan daftar gambar yang belum lengkap. Ada gerakan yang tertutup punggung murid lain, ada suara yang tenggelam oleh aba-aba latihan.
Percakapan berlangsung cukup lama sampai Gadis mulai melirik jam.
Ketika telepon ditutup, halaman catatan Sera sudah penuh.
Wajah Gio masih ada di salah satu kotak kecil pada layar, tetapi kini dikelilingi pekerjaan yang lebih besar daripada perasaannya sendiri. Sera memperkecil tampilan itu dan menyimpan perubahan sebelum beranjak.
“Gue makan. Titip?”
“Nasi.”
“Lauk?”
“Yang bisa dimakan.”
“Batu juga bisa lo paksa kalau judes.”
Sera melempar tisu bersih ke arahnya.
Gadis menangkapnya sambil tertawa.
***
Rabu siang, setelah latihan membaca sendiri dan rapat singkat, Sera menelepon Rama untuk memastikan jadwal Kamis.
“Kami datang sekitar setengah empat. Bisa?”
“Bisa. Anak-anak mulai jam empat.”
“Oke. Untuk wawancara tambahan, sama lo aja, ya.”
Rama menjawab tanpa jeda aneh.
“Siap.”
Sera memutar pulpen.
“Gio tetap ngajar?”
“Iya. Dia datang setelah urusan kantor selesai.”
Sera diam sebentar.
Rama tidak menawarkan mengubah jadwal atau menyingkirkan temannya dari kelas sendiri.
Sera justru lega.
“Baik. Nanti gue kirim daftar gambar yang dibutuhkan.”
Setelah sambungan berakhir, ia membuka jadwal di layar komputer.
Ia bisa meminta orang lain menyelesaikan liputan tersebut.
Panca mungkin akan mengizinkan jika ia memberi alasan yang cukup. Namun, untuk sekarang Sera masih ingin menyelesaikannya sendiri.
Bertemu dalam pekerjaan tidak berarti ia harus kembali menerima tumpangan atau meladeni pesan pribadi.
Sera mengetik kebutuhan tim dengan rinci.
Kemudian ia mengirim pesan kepada Rama.
Besok tolong pembicaraan tim lewat lo dulu. Biar nggak tercecer.
Balasannya singkat.
Oke, Ser.
Sera meletakkan pulpen, lalu menyandarkan punggung.
Masih ada rasa berat setiap kali membayangkan pintu sanggar.
Tetapi Kamis belum datang.
Sore ini ia punya janji makan di rumah Jeremy, dan Brian sudah mengirim pesan suara menuntut pendapatnya tentang sebuah gambar.
Sera memutar pesan itu.
Suara anak kecil yang menyebut warna hijau sebagai biru membuatnya mengernyit.
Ia menekan tombol balas sambil menahan tawa yang mulai naik.
“Brian, itu pohon apa laut? Kakak perlu tahu sebelum kasih nilai.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi, Sera tersenyum tanpa harus berusaha.