Pesan Bu Ratih yang diteruskan Danu dibaca Sera sekali lagi sebelum ia tidur Rabu malam.
Datang saja. Anak-anak pasti senang.
Keesokan paginya, ia bangun lebih segar daripada dua hari sebelumnya. Gambar Brian diselipkan di sisi cermin, cukup tinggi agar tidak terkena cipratan air dari meja rias.
Sera memandangi rambut dalam gambar tersebut.
“Fitnah,” gumamnya sambil menyisir.
Latihan bersama Lina dimulai sesuai jadwal.
Kali ini ia masih membuat kesalahan, tetapi tidak berhenti setiap kali menyadarinya. Lina mengangkat ibu jari setelah percobaan kedua, lalu meminta mengulang bagian pergantian berita.
Ketika selesai, Sera bisa melihat sendiri perbedaannya.
Ia belum sepenuhnya nyaman.
Namun, wajah di monitor tidak lagi terlihat seperti orang yang sedang menunggu keputusan hukuman.
“Lebih enak, kan?” tanya Lina.
Sera mengangguk.
“Masih aneh lihat diri sendiri duduk diam.”
“Nanti terbiasa. Yang penting jangan mendadak berdiri mau mengejar narasumber.”
Sera tertawa.
Ia mencatat bagian yang perlu dilatih, lalu kembali ke meja untuk menyiapkan keberangkatan sore.
Rama sudah mengonfirmasi semua kebutuhan tim.
Gio tidak menghubunginya.
Sera membaca pesan terakhir dari pria itu sebentar sebelum menutup percakapan.
Setelah itu, ia membawa tas dan menyusul rekannya.
***
Di kantor, rapat dengan pihak Sutidjo berlangsung lebih lama daripada perkiraan Gio.
Levia tidak hadir.
Ayahnya datang bersama orang-orang yang menangani rencana kerja sama, dan sepanjang pembicaraan tidak ada satu pun yang menyinggung makan malam Minggu.
Gio menjawab pertanyaan sesuai bagiannya.
Ketika ada jadwal yang belum bisa dipastikan, ia meminta waktu untuk memeriksa dengan tim, bukan mengiyakan demi menyenangkan orang di seberang meja.
Adam sempat meliriknya, kemudian melanjutkan pembicaraan.
Baru setelah tamu pulang, ayahnya memanggil.
“Catatan yang tadi diminta, selesaikan besok.”
“Iya, Pa.”
“Jangan lewat dari siang.”
“Gio usahakan pagi.”
Adam mengangguk dan berjalan lebih dulu.
Percakapan itu singkat, tetapi cukup membuat bahu Gio sedikit mengendur. Setidaknya hari ini ia bisa bekerja bersama ayahnya tanpa harus membicarakan Levia.
Gery yang berdiri di dekat pintu melirik jam.
“Kamu ada kelas?”
“Jam empat.”
“Pergilah. Sisanya Mas sama Ronan.”
Gio berterima kasih, mengambil tas, lalu menuju lift.
Di perjalanan ke sanggar, ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa kedatangan Sera adalah urusan pekerjaan.
Ia tidak boleh mengubahnya menjadi kesempatan yang tidak diminta gadis itu.
***
Sera sedang memeriksa posisi kamera ketika Gio masuk.
Pandangan mereka bertemu sebentar.
Gio mengangguk.
Sera membalas dengan gerakan kecil sebelum kembali berbicara kepada rekannya.
Tidak ada sapaan tentang gajah atau komentar mengenai wajahnya yang terlalu serius.
Hilangnya kebiasaan itu terasa ganjil.
Rama datang membawa daftar murid, lalu menunjukkan siapa saja yang sudah siap diambil gambarnya. Sera mendengarkan, mencocokkan nama, dan memastikan bagian yang belum mereka dapatkan Jumat lalu.
Gio masuk ke ruang belakang untuk berganti pakaian.
Ketika kembali, ia langsung memanggil murid-murid agar membentuk barisan.
Pekerjaan dimulai.
Rama meminta beberapa tas dipindahkan dari tepi matras supaya tidak menghalangi jalur kamera. Sera membantu menggeser sebuah bangku, kemudian memastikan rekannya bisa berjalan mundur tanpa tersandung perlengkapan. Mereka mencoba arah pengambilan gambar sekali sebelum latihan dilanjutkan.
Sera berdiri di sisi matras, sesekali memberi isyarat kepada kamerawan. Pada awalnya ia terlalu sadar terhadap setiap gerakan Gio.
Kemudian seorang anak melupakan urutan latihan, menoleh ke temannya, lalu ikut menoleh lagi ketika temannya juga kebingungan.
Sera menahan tawa.
Rama mengulang arahan dari depan.
Gio membagi barisan agar mereka bisa mencoba dalam kelompok lebih kecil.
Lambat laun, perhatian Sera kembali pada gambar yang dibutuhkannya.
Ia berjongkok sebentar untuk berbicara dengan murid yang akan diwawancarai.
Anak itu mengangguk ketika ditanya apakah sudah siap. Namun, begitu kamera mengarah kepadanya, semua jawaban menghilang.
Sera menurunkan buku catatan.
“Nggak apa-apa. Kita ngobrol dulu.”
Anak itu melirik Rama.
Pelatihnya memberi senyum dari jauh, lalu kembali mengurus murid lain agar tidak terlalu banyak orang menunggu di sekitar mereka.
Sera duduk di bangku.
“Kalau Kakak salah sebut nama gerakan, nanti dibetulkan, ya.”
Anak itu mulai tersenyum.
“Kakak nggak tahu?”
“Makanya Kakak tanya. Kalau sudah tahu semua, Kakak buka sanggar sendiri.”
Senyumnya melebar.
Sera mengajukan pertanyaan sederhana tentang bagian latihan yang paling disukai. Setelah jawaban pertama keluar, pertanyaan berikutnya menjadi lebih mudah.
Dari tepi matras, Gio memperhatikan sebentar.
Ia mengenali perubahan suara Sera ketika berbicara dengan anak-anak. Tegas, tetapi tidak membuat mereka merasa sedang diuji.
Kemudian Rama memanggilnya membantu kelas berikutnya.
Gio berbalik.
Ia tidak menunggu Sera melihat bahwa dirinya sedang memperhatikan.
***
Pengambilan gambar selesai saat cahaya di luar mulai meredup.
Sera duduk bersama Rama untuk mencocokkan keterangan terakhir. Gio masih membereskan perlengkapan bersama beberapa murid yang menunggu jemputan.
Ada satu pertanyaan yang Rama tidak bisa jawab dengan pasti.
“Bagian ini Gio yang tahu. Sebentar.”
Sera sempat menegang, tetapi tidak menghentikannya.
Rama memanggil temannya.
Gio datang dan tetap berdiri di sisi meja.
“Yang mana?”
Sera menunjukkan catatan tentang awal dirinya mengajar.
“Ini waktunya sebelum lo berhenti ikut kejuaraan atau sesudah?”
“Sebelum. Awalnya bantu kelas kalau lagi nggak ada persiapan tanding.”
“Jadi jangan ditulis langsung beralih setelah berhenti.”
“Iya.”
Sera memperbaiki satu kalimat.
Gio menunggu sampai ia selesai.
“Ada lagi?”
“Nggak. Cukup.”
“Oke.”
Pria itu kembali ke tempat semula.
Sera menatap ujung pulpen.
Jawaban tadi tidak membuat apa yang terjadi di mobil menjadi lebih mudah diterima. Namun, ia lega Gio tidak menyisipkan permintaan bicara di antara urusan liputan.
Ia bisa menyelesaikan pertanyaannya dan berhenti di sana.
Rama mengantar tim sampai pintu.
Kamerawan berjalan lebih dulu untuk memasukkan perlengkapan ke kendaraan, sementara Sera tertahan sebentar karena harus menjawab telepon dari kantor.
Ketika sambungan berakhir, sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya.
Sera mengenali perempuan yang turun sebelum pintunya tertutup.
Levia.
Perempuan itu membawa tas kertas berukuran sedang. Langkahnya sempat terhenti ketika melihat Sera, lalu matanya beralih ke pintu sanggar.
“Sera?”
Sera memasukkan ponsel ke tas.
“Iya.”
“Kamu liputan?”
“Baru selesai.”
Levia memandang kendaraan operasional yang terbuka di bagian belakang. Ia tampaknya baru memahami keberadaan kamera dan beberapa tas besar di dekat sana.
Sera mengangguk singkat, berniat menyusul rekannya.
Namun, Levia memanggil lagi.
“Boleh bicara sebentar?”
Sera berhenti.
Dari dalam terdengar suara Gio mengingatkan seorang murid agar membawa botol minumnya.
Jemari Levia mengencang pada pegangan tas kertas.
Sera melihat gerakan itu, kemudian kembali menatap wajahnya.
“Tentang apa?”
Levia menahan napas sebelum menjawab.
“Tentang Gio.”
Sera tidak segera menyahut.
Ia baru saja berhasil melewati satu sore tanpa membicarakan urusan pribadinya.
Sekarang nama yang sama kembali menahannya di depan pintu.