Brian membawa tas yang nyaris sebesar punggungnya ketika Jeremy menjemput Sera Minggu pagi.
Begitu pintu mobil terbuka, anak itu langsung menunjuk tempat di sampingnya.
“Kakak duduk sini.”
Sera memandangi tas yang sudah lebih dulu menempati kursi.
“Terus barang ini duduk di kepala Kakak?”
Brian buru-buru menariknya ke pangkuan.
Adeline tertawa dari kursi depan.
“Sudah disuruh kurangi, nggak mau.”
“Semuanya perlu,” bela Brian.
Sera duduk dan memasang sabuk pengaman.
“Baik. Nanti yang bawa tetap pemiliknya.”
Brian mengangguk yakin.
Keyakinan itu bertahan sampai mereka tiba di Rumah Singgah Pelita dan ia harus turun sambil mengangkat tas sendiri.
Sera menunggu di samping mobil.
“Masih kuat?”
Brian mengangguk, kali ini lebih pelan.
Jeremy akhirnya membantu membawakan satu kantong tambahan, sementara Adeline mengingatkan putranya agar berjalan, bukan berlari.
Bu Ratih sudah menunggu di teras.
Sera mencium tangannya, lalu bergeser untuk memberi jalan kepada Jeremy dan Adeline.
Pertemuan berlangsung hangat. Mereka saling menanyakan kabar sebelum anak-anak yang mendengar suara kendaraan mulai mendekat.
Brian berdiri di samping Sera dengan wajah mendadak pendiam.
“Katanya mau ngajak gambar?” bisik Sera.
Anak itu mengangguk, tetapi belum bergerak.
Sera tidak langsung mendorongnya maju.
Ia mengajak Brian duduk dan membuka tas di atas tikar yang sudah digelar. Begitu kotak warna terlihat, dua anak mendekat dengan rasa ingin tahu.
Brian memperlihatkan beberapa pensil.
“Ini bisa dipinjam.”
Seorang anak menunjuk warna merah.
“Yang itu?”
Brian sempat menatap pensil tersebut, lalu menyerahkannya.
Sera tersenyum kecil.
Tidak sampai sepuluh menit, mereka sudah sibuk memilih kertas dan membicarakan apa yang ingin digambar.
Sera mengambil tempat di ujung tikar. Adeline membantu membagikan perlengkapan, sementara Jeremy menemani Bu Ratih memindahkan minuman dari dapur.
Tidak ada kamera yang diarahkan kepada siapa pun.
Sera hanya mengeluarkan ponsel sekali untuk memberi tahu Gadis bahwa mereka sudah sampai.
Setelah itu ia memasukkannya kembali ke tas.
***
Menjelang siang, telapak tangan Brian sudah penuh bekas warna.
Sera menyuruhnya mencuci tangan sebelum makan. Anak itu berangkat bersama dua teman barunya sambil terus memperdebatkan bentuk seekor dinosaurus.
Adeline mengikuti mereka, meninggalkan Sera yang sedang mengumpulkan pensil di atas tikar.
Bu Ratih duduk di sebelahnya.
“Ramai juga akhirnya.”
“Brian memang begitu kalau sudah mulai nyaman.”
“Ibu bukan cuma bicara tentang Brian.”
Sera berhenti memungut pensil.
Bu Ratih tersenyum, kemudian menyerahkan kotak kecil yang terletak di dekat lututnya.
“Kamu juga.”
Sera menerima kotak itu tanpa membantah.
Dari dapur terdengar suara Jeremy bertanya tempat gelas. Bu Ratih menyahut, lalu kembali memandang Sera.
“Senang kamu datang bersama mereka.”
Sera mengangguk.
Ia memperhatikan Adeline membantu seorang anak menggulung lengan baju yang basah. Perempuan itu melakukannya sambil tetap mendengarkan cerita Brian.
Pemandangan sederhana tersebut membuat sesuatu di dadanya mengendur.
Selama ini Sera terlalu sibuk membayangkan rasa canggung yang belum tentu akan terjadi.
“Bu,” panggilnya setelah beberapa saat.
“Iya?”
“Barang Sera yang dulu masih disimpan?”
Bu Ratih menoleh penuh.
“Kotak biru?”
Sera mengangguk.
“Masih. Ada di lemari kamar belakang.”
Sera menatap tangannya.
“Boleh Sera ambil sekarang?”
“Tentu. Itu barangmu.”
Jawaban yang sederhana, tetapi Sera tetap membutuhkan beberapa detik sebelum berdiri.
Ia memberi tahu Adeline akan masuk sebentar, kemudian mengikuti Bu Ratih menyusuri lorong.
Kamar belakang itu lebih penuh daripada yang diingatnya. Ada kasur lipat di sudut dan beberapa kardus kebutuhan rumah di dekat dinding.
Bu Ratih membuka lemari.
Kotak biru tersebut masih berada di rak atas, dibungkus plastik bening.
Sera menerimanya dengan kedua tangan.
Lebih ringan daripada yang selalu dibayangkannya.
“Dibuka di sini?” tanya Bu Ratih.
Sera mengangguk.
Mereka duduk di tepi ranjang.
Di dalam kotak ada beberapa barang kecil, foto, dan sebuah buku tulis bersampul cokelat yang sudutnya sudah terkelupas.
Sera mengambil buku itu lebih dulu.
Pada halaman pertama tertulis sebuah nama.
Mira.
Tulisan ibunya.
Sera mengusap bagian tepi kertas dengan ibu jari, berhati-hati agar tidak merobeknya.
Ibunya biasa mencatat judul lagu dan potongan lirik yang perlu dihafalkan. Di beberapa halaman ada tanda kecil untuk mengingatkan bagian yang sering keliru dinyanyikan.
Sera masih mengenali bentuk hurufnya.
Ia juga masih ingat suara ibunya mengulang nada di sela pekerjaan rumah, lalu tertawa sendiri ketika lupa kelanjutannya.
“Ibu masih ingat kamu membawa buku itu terus,” ujar Bu Ratih.
Sera tersenyum tipis.
“Takut hilang.”
“Lalu dititipkan di sini.”
“Iya.”
Karena menyimpannya dekat diri sendiri terasa terlalu menyakitkan waktu itu.
Setelah hidupnya berubah dan keluarga Gunawan menerimanya, Sera beberapa kali berniat mengambil kotak tersebut. Namun, setiap kunjungan selalu diakhiri dengan alasan lain.
Belum ada tempat.
Takut rusak di perjalanan.
Lain kali saja.
Padahal ia takut pada kenangan yang akan ikut pulang.
“Ibu Sera suka marah kalau bukunya dipakai gambar,” katanya.
Bu Ratih mendengarkan.
“Sekarang Sera ngerti. Tadi Brian hampir gambar di catatan kerja.”
Sera tertawa kecil, lalu matanya mulai basah.
Ibunya bekerja sebagai penyanyi di tempat hiburan malam.
Kalimat itu selama bertahun-tahun selalu berhenti di tenggorokan Sera ketika seseorang bertanya tentang keluarganya.
Bukan karena ia lupa.
Ia justru terlalu ingat bagaimana wajah orang bisa berubah setelah mendengarnya. Bagaimana pekerjaan ibunya sering dianggap cukup untuk menjelaskan seluruh nilai seorang perempuan.
Sera tahu perempuan yang pulang dengan suara serak itu juga orang yang mengingatkannya makan, merapikan seragam, dan menyisihkan uang agar ia bisa terus belajar.
Tetapi menjelaskan semua itu tidak selalu membuat orang berhenti merendahkan.
Bu Ratih menyodorkan tisu.
Sera menerimanya.
“Sera mau bawa pulang.”
“Bawa, Nak.”
“Kotaknya sekalian.”
Bu Ratih mengangguk.
Ia tidak mengatakan Sera seharusnya sudah melakukannya sejak lama.
Perempuan itu hanya membantu memasukkan kembali barang-barang kecil agar tidak bergeser di dalam kotak.
***
Ketika Sera keluar, Brian sedang menunjukkan gambar kepada Jeremy.
Anak-anak lain ikut mendekat, berebut meminta pendapat.
Adeline menoleh pada kotak di tangan Sera, lalu melihat matanya yang sedikit merah.
Ia tidak bertanya di depan semua orang.
“Disimpan di mobil dulu?” tawarnya.
Sera mengangguk.
Jeremy mengulurkan tangan meminta kunci dari saku tas istrinya, tetapi Sera menggeleng pelan.
“Sera saja, Om.”
Ia berjalan ke mobil, membuka pintu, lalu meletakkan kotak itu di sebelah tasnya sendiri.
Untuk beberapa saat Sera berdiri memandangi kedua benda tersebut.
Tas yang dipakai bekerja.
Kotak yang berisi peninggalan ibunya.
Ia merapikan plastik pembungkusnya sekali lagi sebelum menutup pintu. Dari teras, Brian memanggil karena ingin menunjukkan gambar yang baru selesai.
Sera menoleh dan mengangkat tangan.
Kali ini ia membawanya pulang ke tempat yang sama.