"Hei kenapa kamu kok melotot gitu?" Tanya Rina kepada santri wati bertubuh kecil imut itu.
"Nggak melotot kok Mbak, gak, cuma lihat aja, negesi" jawab santri itu.
"Emangnya kamu lihat apa dek?" Tanya Firsania dengan lembut.
"Gak papa kok Mbak Firsa.. Cuman, saya suka aja liat mbak Firsania, wajahnya itu loh kok bisa putih, adem dan sedap gitu ya kalau dipandang, hehehe"
"Emangnya wajahku ini es campur? segar??" Timpal Firsania.
"Ya Mbak, emang Mbak Firsania itu cantik banget"
"Jangan panggil Mbak, panggil Ning Firsania" Ucap Rina pada santri kecil itu.
"Apaan sih Rin"
"Loh bener kan? Memang sudah seharusnya begitu Ning"
"Ning" dan "Gus" adalah sebutan untuk anak yang memiliki garis keturunan Kiai.
Kalau Pak Kiai punya anak lelaki, maka anaknya itu akan otomatis dipanggil Gus, kalau pak Kiai punya anak perempuan, otomatis banget anak itu bakal dipanggil dengan sebutan Ning. Seperti Firsania ini.
Tapi memang, Firsania itu gadis yang sangat cantik kalau dalam bahasa Jawa ayune koyo widodari, jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya kecantikannya seperti bidadari.
Dia putih, anggun, humble, murah senyum, dan wajahnya selalu menyejukkan.
Ning Firsania, dia selalu bisa membuat orang di sekitarnya nyaman berada disisinya. jadi pantas saja banyak orang yang suka dengan dia, baik itu dari kaum hawa maupun dari kaum Adam.
Kecantikannya membius para lelaki sehingga bisa langsung jatuh hati padanya meski baru pertama kali bertemu. Memang Firsania ini hadis yang sangat langkah.
---
Zidni lega karena dia sudah sampai di halaman pondok pesantren. Zidni lalu turun dari sepeda motornya cara menuntun sepeda motornya itu memasuki gerbang pesantren.
Itu adalah bentuk sopan santun, agar suara sepeda motor tidak membuat bising area pondok pesantren. Zidni lalu membuka helm dan jas hujan. Dia meletakkannya di atas sepeda motor.
Beberapa pasang mata memperhatikan Zidni dengan seksama dan jeli.
"Aduh itu santri putra kok yo ganteng banget toh" ucap Najwa salah satu santriwati di pondok pesantren itu.
"Astaghfirullahaladzim ganteng men..." Tambah Putri, yang juga santriwati.
"Kok Astagfirullah sih.. yang benar itu.. Masya Allah, subhanallah, walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar" timpal Najwa.
"Sudah-sudah, kalian ini liatin cowok ganteng aja, nggak boleh zina mata" Amel melerai mereka berdua dan membuyarkan segala bayangan tentang Zidni di pikiran mereka.
Zidni mendengar obrolan itu tapi dia pura-pura tidak mendengarnya. Zidni tetap menundukkan matanya tanpa melihat para santri yang yang membicarakan dirinya.
Selama mereka tidak ada yang kurang ajar atau melebihi batas maka zidni hanya membiarkan saja.
---
Namanya Ryan Abu Jahal. Biasa dipanggil dengan Ryan. Sebenarnya namanya bukan Dayak Abu Jahal.
Dulu waktu dia dilahirkan di klinik Bu Bidan, ibu bidan langsung meminta nama bayi itu ke orang tuanya karena katanya mau didaftarkan akta kelahiran sekalian.
Kebetulan ibu bidan juga mau mendaftarkan bayi-bayi lainnya yang telah dilahirkan di sini juga sejak satu bulan lalu.
Dan hari itu adalah pendataan terakhir, jadi ya sekalian aja bayi yang baru lahir ini dititipkan namanya untuk dibuatkan akta kelahiran.
Selain Bu Bidan memang memberikan fasilitas itu pada setiap pasangan suami istri yang melahirkan bayinya disitu. Dari sisi kemanusiaan, Memang Bu Bidan ini orangnya baik banget.
Nah, dulu ketika ditanya oleh ibu bidan,
"Siapa nama anak bapak dan ibu? biar saya daftarkan sekalian untuk pendaftaran akta kelahiran, kebetulan hari ini terakhir pendataan"
Bu Bidan bertanya sekaligus menerangkan deadline pendaftaran nama akta kelahiran kloter 9 untuk tahun itu.
Sejurus kemudian, Bapak berjenggot itu memikirkan nama bayinya itu nama bayinya.
"Sebentar ya Bu Bidan, akan saya bicarakan sama istri saya dulu, nanti kalau sudah dapat, akan saya beritahukan ke Bu Bidan" jawab Bapak itu.
"Baiklah pak, kalau begitu saya ke kantor Bidan sebelah sana dulu ya pak" sambil menunjuk kantor bidan yang berada di sebelah kamar lahiran.
"Gimana buk? Mau kasih anak kita dengan nama apa? Siapa?" Tanya Bapak itu kepada istrinya.
"Aku gak kepikiran siapa-siapa pak, wes sak karepe bapak wae (udah terserah bapak saja)" jawab istrinya yang pasrah banget sama suaminya itu.
Sekitar 2 menitan bapak itu berpikir, dan tiba-tiba...
"Ryan Abu Jalal Buk" kata bapak itu sambil sedikit berteriak. Karena memang antara ruangan kelahiran dan ruangan Bu Bidan agak jauh.
Entah kenapa mereka berdua sama-sama malas untuk saling mendatangi. Biar diomongin enak-enak gitu nggak usah teriak-teriak.
Tapi karena tempatnya yang jauh, terus bapak itu berteriak dengan suara yang agak serak. Jadinya bu bidan mendengarnya bukan Ryan Abu Jalal tapi Ryan Abu Jahal. Ditulis deh di buku catatannya Ryan Abu Jahal.
Dan ketika akta sudah keluar dengan nama Ryan Abu Jahal, kedua pasangan pasutri ini sudah malas untuk mengganti nama anaknya, mereka berpikiran
"Ya sudahlah, apalah arti sebuah nama"
Jadi mereka memutuskan untuk tidak melakukan revisi pada akta kelahiran tersebut.
Namun sebenarnya menurut Islam, nama adalah doa, jadi setiap nama yang disematkan kepada seseorang maka itu akan menjadi doa dan karakter bagi orang tersebut.
Yah, ya nggak tau juga nanti gimana sifatnya Ryan Abu Jahal kalau udah gede.
Ryan Abu Jahal atau biasa dipanggil dengan Yan ini.
Ryan ini adalah teman lamanya Zidni, lebih tepatnya teman SDnya Zidni. Dulu mereka memang pernah satu sekolah bahkan satu kelas.
Meski ketika SMP mereka tidak satu sekolah tapi ingatan Ryan tentang hari-harinya dulu masih sangat kuat ingatannya, apalagi terkait kenangan tentang Zidni.
Ryan itu pengen banget jadi juara satu di kelasnya, tapi selalu tidak bisa, karena mulai dari kelas 1 sampai kelas 6, yang menduduki peringkat 1 secara marathon dan paralel adalah Zidni.
Hal itu membuat Ryan sangat benci pada Zidni.
Jika dibandingkan, antara Ryan Abu Jahal dengan Zidni Zayeed Fithoroini ini memiliki sifat yang sangat berbeda.
Meskipun perawakannya sama-sama tinggi. Namun mereka memiliki hati yang berbeda dan sifat yang sangat berbeda.
Ryan Abu Jahal sangat benci pada orang-orang yang menurut dia bisa membahayakan kehidupannya atau menghalangi untuk tercapainya keinginan dia.
Ryan itu orang yang pendendam. Ketus. Jahat. Jutek. Sombong. Malesan tapi pengen selalu sukses dan bisa mencapai semua yang dia inginkan apapun dan bagaimanapun. Dia juga suka menang sendiri. Sak karepe dewe.
Kalau Zidni Zayeed Fithoroini ini orangnya kalem tapi tegas, berwibawa tapi bijaksana, ganteng pula. Tinggi semampai, bersuara indah, apalagi kalau adzan dan bersholawat.
Uhhh bisa-bisa seisi masjid terenyuh mendengarnya.
Ajaibnya, Zidni Zayeed Fithoroini dan Ryan Abu Jahal ini, sama-sama memiliki rasa yang sama terhadap gadis cantik yang bernama Firsania Azzahra.
Bedanya. Yang satu mencintai dalam doa dan diam. Yang satunya mencintai dalam kemesuman.
Bagaimana tidak?
Ryan sering sekali membayangkan kecantikan dan kemolekan wanita yang dia cintai. Katanya sih cinta, tapi kok gitu ya?
Entahlah...
Hingga suatu ketika...
Pagi itu, semua santri putra sedang berada di sungai belakang pondok pesantren. Mereka sedang melakukan ritual hari Jumat pagi. Bersih-bersih, ada yang bersih diri, ada yang mencuci bajunya dan lain sebagainya.
Ryan yang pada saat itu sedang enak-enaknya mencuci bajunya. Tiba-tiba melihat Firsania yang sedang bersama Pak Kiai melihat-lihat bangunan pondok pesantren bagian area belakang.
Ryan masih saja memperhatikanmu, bukan pada Pak Kiai. Tapi lebih kepada wajah Firsania yang cantik dan anggun itu. Wajahnya yang teduh dengan bibir tipis dan lesung pipinya ketika dia tersenyum menambah kecantikannya.
Tidak hanya itu.
Firsania juga memiliki mata yang indah, bola mata bagian tengahnya tidak sepenuhnya berwarna hitam, tetapi juga kecoklatan hampir seperti coklat s**u keemasan. Lebih indah dari mata orang-orang Turki.
Uhhh uda deh. Seperti bidadari.
Ryan masih memperhatikan Firsania.
Beberapa menit kemudian, seperti ada santri yang datang mendekat ke Pak Kiai, lalu membisikkan sesuatu, Ryan tidak bisa mendengar percakapan itu.
Tapi yang dia tahu, Pak Kiai dan santri itu pergi meninggalkan Firsania sendirian.
Ryan masih terus memperhatikan Firsania.
"Tolong... Tolong..."
Tiba-tiba Firsania berteriak meminta tolong. Sejurus kemudian Ryan berlari dan menghampiri Firsania, takut gadis cantik itu kenapa-kenapa.
Ternyata ada Ular Hijau yang jatuh ke baju bagian bahu Firsania. Ryan langsung menyingkirkan Ular Hijau itu.
"Makasih ya.. Mas siapa?" Firsania memang tidak mengenal banyak lelaki.
"Panggil aja Mas Yan" jawab Ryan.
"Oke. Makasih Mas Yan, uda bantu nyingkirin Ular itu" lanjut Firsania.
"Aku boleh minta satu permintaan ndak?" Tanya Ryan tanpa babibu. Berani sekali dia.
"Karena tadi sudah menyelamatkanku, boleh, boleh banget, apa?" Jawab Firsania.
Ryan terdiam sejenak. Lalu, entah setan apa yang merasuki dirinya. Ryan menarik leher Firsania. Dan kecupan itu terjadi sangat cepat. Tidak terduga. Dan tanpa rencana.
"Hah??"
"Astagfirullah.. Aku mimpi basah. Sialan. Udah adzan subuh lagi, gak tahajud lagi deh"
Ryan bangun dari tidur dan mimpi indahnya. Lebih tepatnya mimpi mesumnya.